• Senin, 28 September 2026
Profil Produk

MSA Raup Kontrak Besar di SIEXPO 2025, Produk Anti-Ganoderma Jadi Incaran

Pameran Sawit Indonesia Expo (SIEXPO) 2025 di Riau, 7–9 Agustus, menjadi momentum pentingbagi PT Mitra Sukses Agrindo (MSA). Perusahaan yang dikenal sebagai produsen biofungisida dan pupuk hayati itu berhasil menarik perhatian besar pengunjung, bahkan mengantongi kontrak penjualan jangka panjang hingga tahun 2030.

Menurut Awang Suwarnoto, Marketing Director MSA, pameran tahun ini berlangsung lebih meriah dibanding tahun sebelumnya. “SIEXPO ini sangat bagus untuk memperkenalkan teknologi terbaru persawitan sekaligus produk ramah lingkungan dan berkelanjutan. Antusias peserta terlihat dari banyaknya transaksi yang terjadi sepanjang acara,” ujarnya.

Booth MSA menjadi salah satu pusat perhatian pengunjung. Brosur dan kartu nama distributor MSA di Riau, PT Rizki Agro Sejahtera, bahkan sempat kehabisan stok karena tingginya permintaan.

“Kami didatangi banyak pihak, mulai dari perusahaan besar, koperasi, kelompok tani, asosiasi sawit, hingga mahasiswa. Mereka sangat tertarik dengan produk unggulan kami, seperti NOGAN (biofungisida berbasis Trichoderma), MICORIN (pupuk hayati berbasis mikoriza), dan Lumbrico (pupuk organo-hayati dari sekresi cacing tanah),” jelas Awang.

Produk-produk itu dirancang khusus untuk menjaga kesehatan lahan, terutama menghadapi ancaman Ganoderma, penyebab penyakit Busuk Pangkal Batang yang kini melanda hampir semua sentra sawit di Indonesia.

Keseriusan pengunjung bukan hanya terlihat dari antusiasme di booth, tetapi juga berbuah transaksi nyata. Dalam tiga hari penyelenggaraan SIEXPO, MSA sukses meraih sejumlah kontrak, termasuk dengan dua perusahaan besar yang sedang melakukan peremajaan kebun.

“Kami bersyukur mendapatkan kontrak pasokan Trichoderma hingga tahun 2030. Totalnya sekitar 300 ton per perusahaan, yang akan dikirim secara bertahap. Produk ini akan digunakan sejak tahap pembibitan hingga lubang tanam,” kata Awang.

Selain menawarkan produk, MSA juga menjadikan SIEXPO sebagai ajang edukasi penting. Mereka memberikan penjelasan tentang strategi pencegahan Ganoderma, di antaranya dengan mengurangi penggunaan herbisida kimia, mengombinasikan pupuk organik dengan anorganik, serta memperbanyak musuh alami jamurs eperti Trichoderma dan mikoriza.

“Kesehatan lahan adalah kunci. Kalau dibiarkan, Ganoderma bisa mengancam produktivitas sawit secara nasional,” tegas Awang.

Meski puas dengan penyelenggaraan tahun ini, Awang menyarankan agar SIEXPO berikutnya menghadirkan riset terbaru dari para peneliti sawit. Selain itu, menurutnya, lomba seperti sawit terberat atau produktivitas tertinggi untuk petani juga bisa menjadi daya tarik tambahan.

“Dengan begitu, SIEXPO tidak hanya jadi pameran produk, tapi juga ruang pembelajaran dan apresiasi bagi seluruh pelaku industri sawit,” pungkasnya.

Artikel Terkait