• Rabu, 7 Oktober 2026
Berita Terbaru

Misteriusnya Pembeli Perkebunan Sawit Austindo Nusantara di Papua, Kenapa First Resources Melepas?

Jakarta, SAWIT INDONESIA – PT Austindo Nusantara Jaya Tbk secara resmi melepas kepemilikan saham di dua anak usahanya yang berlokasi di Sorong Selatan, Papua. Total transaksi penjualan saham secara keseluruhan mencapai Rp405,59 miliar. Lalu, mengapa First Resources sebagai pengendali emiten berkode ANJT ini merestui penjualan perkebunan sawit yang berada di Papua Barat Daya?

Merujuk keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia pada Jumat (3/10/2025), PT Austindo Nusantara Jaya Tbk bersama entitas anaknya, PT Austindo Nusantara Jaya Agri (ANJA), telah melakukan divestasi 100% kepemilikan saham di PT Putera Manunggal Perkasa (PMP) dan PT Permata Putera Mandiri (PPM).

Lalu siapakah pembeli dari kedua anak usaha emiten berkode ANJT ini? Adalah PT Harmoni Agri Mandiri yang menjadi pembeli kedua anak perusahaan tersebut. Kendati demikian, tidak banyak keterangan dan informasi berkaitan PT Harmoni Agri Mandiri.

Sebagaimana informasi di BEI, manajemen PT Harmoni Agri Mandiri dipimpin oleh Christian Jonathan sebagai Direktur dan Hingdi Pangestu menjadi Komisaris Utama. Ketika menelusuri informasi melalui mesin pencarian Google, PT Harmoni Agri Mandiri menempati kantor di Menara Citicon, Slipi, Jakarta Barat.

Dengan nilai transaksi hampir setengah triliun lebih, tentu saja motif divestasi saham perlu dikaji lebih dalam. Kenapa First Resources sebagai pengendali penuh ANJT tidak ingin mengelola perkebunan sawit di Papua?

Merujuk informasi di website First Resources Ltd dijelaskan bahwa Dewan Direksi First Resources ingin merampingkan bisnisnya sehingga diambil keputusan divestasi saham di PT Permata Putera Mandiri dan PT Putera Manunggal Perkasa.

“Karena itulah, kami tidak melanjutkan perkebunan kelapa sawit yang berada di provinsi Papua Barat,” jelas Victor Loong, Sekretaris Perusahaan First Resources Ltd.

Misteriusnya informasi berkaitan PT Harmoni Agri Mandiri sangatlah menarik. Mengingat, luas lahan yang dioperasikan oleh ANJ dan PT Permata Putera Mandiri (PPM) dan PT Putera Manunggal Perkasa (PMP) mencapai 91.210 hektare di Kabupaten Sorong Selatan dan Maybrat, Provinsi Papua Barat Daya. Merujuk situs resmi ANJ per 8 Oktober, dari total luas lahan tadi sekitar 9.024 hektare telah dikembangkan untuk perkebunan kelapa sawit. Sisa lahan 81.102 hektare telah dialokasikan untuk kawasan konservasi dan infrastruktur.

Dari aspek produksi, perkebunan sawit eks ANJT yang dikendalikan PT PPM dan PT PMP menghasilkan 39.820 ton TBS dan 9.621 ton CPO sebagaimana data investor newsletter di periode semester pertama 2025.

Victor Loong mengatakan transaksi penjualan ditentukan dengan mengacu pada laporan penilai independen, yang memperhitungkan aset dan liabilitas PT PPM dan PT PMP sebagaimana adanya, termasuk utang keuangan. Aset PT PPM dan PT PMP meliputi sekitar 7.400 hektar perkebunan kelapa sawit inti, pabrik kelapa sawit, dan landbank yang belum tertanam.

“Setelah penjualan tersebut, PT PPM dan PT PMP tidak lagi menjadi anak perusahaan Perseroan,” jelas Victor.

Redaksi telah menanyakan kepada sejumlah pelaku usaha yang puluhan tahun berkarir di industri sawit. Tetapi, mereka tak mengenal PT Harmoni Agri Mandiri. Begitupula nama manajemen yang menjadi pengelolanya, tidak ada yang tahu. Kalaupun ada informasi mengenai PT Harmoni Agri Mandiri sebatas flyer lowongan pekerjaan Mandor Kebun dan Krani Afdeling untuk penempatan di Papua, yang dimuat dalam situs Linkedin. Di luar itu, informasi berkaitan lokasi perkebunan eksisting dan bisnisnya masih menjadi misteri.

Manajemen ANJT, dalam keterangan di BEI, menjelaskan bahwa penjualan seluruh saham kepada PT Harmoni Agri Mandiri sebagai pihak ketiga non-afiliasi. Tujuan divestasi ini adalah memperkuat posisi keuangan, meningkatkan efisiensi portofolio investasi, serta mengoptimalkan fokus bisnis pada entitas dan kegiatan usaha yang lebih strategis.

Nilai transaksi secara keseluruhan tercatat sebesar Rp 405,59 miliar, terdiri dari penjualan saham PPM sebesar Rp 133,43 miliar dan penjualan saham PMP sebesar Rp 272,16 miliar.

Artikel Terkait