International Palm Oil Smallholder Forum (IOPS) 2026 dihadiri ratusan petani dari negara produsen sawit utama dunia yaitu Indonesia, Malaysia, Thailand, Ghana, Nigeria, Pantai Gading, dan Honduras. Forum yang baru pertama kali diadakan ini diinisiasi oleh Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) yang berlangsung pada 27-30 Agustus 2026 di Gedung Serbaguna Ibu Kota Nusantara (IKN).
Forum ini dibuka oleh Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma Kementerian Pertanian RI, Iim Mucharam yang didampingi Deputi Lingkungan dan SDA Otorita IKN, Dr. Myrna Safitri, Ketua Umum DPP APKASINDO Dr. Gulat ME Manurung, dan Dewan Pembina DPP APKASINDO Mayjen TNI (Purn) Erro Kusnara, Asisten Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setda Prov. Kaltim Ujang Rachmad, dan Direktur Sustainability and Smallholder CPOPC Antonius Yudi Triantoro.
“Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian menyampaikan apresiasi kepada APKASINDO yang telah menginisiasi forum internasional ini. Forum ini memiliki arti yang sangat penting karena menempatkan pekebun kelapa sawit sebagai bagian utama dalam pembicaraan mengenai masa depan industri sawit global,” ujar Iim Mucharam saat membacakan pidato yang mewakili Plt Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian RI, Heru Tri Widarto.
Selanjutnya, dijelaskan Iim, bahwa kelapa sawit bukan hanya berbicara mengenai komoditas dan perdagangan. Kelapa sawit berbicara mengenai petani, keluarga, lapangan kerja, ekonomi daerah, devisa negara, ketahanan energi, dan masa depan pembangunan berkelanjutan.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (DPP APKASINDO), Dr. Ir. Gulat Medali Emas Manurung, MP., C.IMA., C.APO., menegaskan pentingnya persatuan petani kelapa sawit dunia untuk menghadapi berbagai tantangan industri sawit global.
“Kehadiran delegasi dari sejumlah negara menunjukkan semakin kuatnya perhatian terhadap posisi dan masa depan petani sawit. Sebagai penghormatan kami kepada para petani sawit dunia, pada hari ini petani sawit dari 25 provinsi hadir semua di IKN,” tegasnya.
Ketua Dewan Pembina DPP APKASINDO, Jenderal TNI (Purn) Dr. Moeldoko, menyatakan kehadiran petani sawit lintas negara, lintas benua dari Asia, Afrika, hingga Amerika Latin membawa satu semangat yang sama. Bahwa kedatangan petani sawit ini bukan sekadar berkumpul untuk berdiskusi, melainkan untuk merajut kekuatan. Selama ini, petani sawit sering kali berada pada posisi yang rentan di tengah pusaran regulasi global, fluktuasi harga, dan standar keberlanjutan yang kadang tidak sepenuhnya berpihak pada realitas di lapangan.
“Namun, hari ini kita membuktikan bahwa petani sawit bukanlah objek. Kita adalah bagian utama. Kita adalah tulang punggung rantai pasok minyak sawit dunia. Dengan bersatunya perwakilan dari Indonesia, Malaysia, Nigeria, Ghana, Honduras, Pantai Gading, dan Thailand, kita mengirimkan pesan kuat kepada dunia bahwa petani sawit global kini telah bangkit dan Bersatu,” ujarnya dalam pidato yang dibacakan oleh Dewan Pembina DPP APKASINDO, Mayjen TNI (Purn) Erro Kusnara.
Ketua Panitia Pelaksana International Oil Palm Smallholders (IOPS) Forum 2026, Dr. (cn) Djono A. Burhan, S.Kom, MMgt (Int. Bus), CC, CL, menegaskan forum petani sawit internasional di Ibu Kota Nusantara (IKN) menjadi momentum untuk memperkuat kerja sama dan aliansi petani sawit dunia.
“IOPS Forum 2026 dihadiri petani sawit dari Aceh hingga Papua, termasuk ketua dan perwakilan DPW APKASINDO dari 25 provinsi. Delegasi mancanegara berasal dari Malaysia, Ghana, Nigeria, Honduras, Thailand, dan Pantai Gading,” urainya.
Djono mengatakan salah satu agenda penting forum adalah penyusunan dan penandatanganan Joint Statement petani sawit internasional. Pernyataan bersama tersebut diharapkan memperkuat posisi petani dalam menghadapi berbagai tantangan, mulai dari harga, infrastruktur hingga regulasi internasional.
Sambutan positif datang dari perwakilan petani sawit dari negara lain. Assoc. Prof. Dr. Benchamaporn Pimpa dari The Krabi Oil Palm Farmers Cooperative Federation Limited, Thailand, mengapresiasi IOPS Forum yang membawa banyak manfaat bagi petani sawit dan organisasi pekebun kecil. Melalui pertemuan lintas negara ini akan membuka kesempatan bagi peserta untuk bertukar gagasan dan belajar pengelolaan sawit dari negara lain.
“Saya pikir acara ini sangat berguna bagi petani kecil dan perusahaan pembeli kecil. Kita dapat bertukar banyak ide dan kita dapat belajar satu sama lain,” kata Benchamaporn di sela-sela kunjungan.
Persoalan Harga Sawit Petani
Selain itu, IOPS Forum juga mengulas persoalan rendahnya harga sawit di tingkat petani. Wakil Ketua Umum III DPP APKASINDO, Kawali Tarigan, menguraikan bahwa perbandingan harga TBS petani dengan harga CPO di sejumlah pasar pada periode 17–23 Agustus 2026. Data itu memperlihatkan adanya selisih yang cukup lebar antara harga komoditas sawit di pasar global dengan harga yang diterima petani di tingkat TBS.
Berdasarkan materi yang dipaparkan, harga TBS plasma tercatat sekitar Rp3.541 per kilogram. Sementara itu, harga TBS swadaya berada di kisaran Rp2.985 per kilogram.
Pada periode yang sama, harga CPO Indonesia melalui KPBN mencapai Rp16.100 per kilogram. Harga CPO di Bursa ICDX tercatat Rp16.820 per kilogram. Di Malaysia, harga CPO mencapai Rp20.970 per kilogram, sedangkan harga CPO Rotterdam berada pada level Rp28.830 per kilogram.
Perbandingan tersebut menjadi dasar perhatian APKASINDO terhadap mekanisme pembentukan harga di tingkat petani. Kawali menilai transparansi tata niaga menjadi salah satu aspek penting yang perlu diperkuat agar petani memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai hubungan antara harga TBS dan perkembangan harga CPO.
“Harga TBS petani hanya sekitar 10–12 persen dari harga CPO Rotterdam per kilogram; transparansi pembentukan harga dan pembagian nilai ekonomi perlu diperkuat,” demikian pesan utama Kawali dalam materi FGD tersebut.
Presiden Persatuan Kebangsaan Pekebun-Pekebun Kecil Malaysia atau National Association of Smallholders Malaysia, Tuan Haji Adzmi bin Hassan, menjelaskan harga TBS pekebun kecil berkaitan dengan harga CPO, harga palm kernel, tingkat ekstraksi minyak, dan biaya dalam rantai pemasaran.
Formula yang mengacu pada Malaysian Palm Oil Board itu memperhitungkan harga CPO, biaya ekspor dan transportasi, tingkat ekstraksi minyak, harga serta tingkat ekstraksi kernel, dan biaya pengolahan pabrik.
Dalam simulasi yang dipaparkan Adzmi, harga CPO RM4.000 per ton, biaya ekspor RM16 per ton, biaya transportasi RM80 per ton, dan tingkat ekstraksi minyak 18 persen menghasilkan komponen minyak RM702,72 per ton TBS. Dengan harga kernel RM3.500 per ton dan tingkat ekstraksi kernel 5 persen, nilai kernel mencapai RM175 per ton.
Setelah dikurangi biaya pengolahan RM95 per ton, harga bersih indikatif dalam simulasi tersebut menjadi RM782,72 per ton TBS. Adzmi menekankan harga aktual dapat berbeda karena kualitas buah, hasil grading, jarak, logistik, dan ketentuan penyerahan TBS.














