• Rabu, 7 Oktober 2026
Berita Terbaru

Menuju Sawit Emas 2045: Petani Mandiri, Industri Rendah Emisi

Pekanbaru, SAWIT INDONESIA - Industri sawit Indonesia sedang memasuki babak baru. Dalam salah satu diskusi paling bergairah di ajang Sawit Indonesia Expo (SIEXPO) 2025, sejumlah pakar, pengusaha, dan pemangku kepentingan membahas tantangan dan solusi strategis industri sawit nasional ke depan — mulai dari teknologi rendah emisi, pemberdayaan petani, hingga hilirisasi produk bernilai tambah.

Diskusi yang dipandu secara panel ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting seperti Sahat Sinaga selaku Direktur Eksekutif GIMNI, Cecep dari Shell Indonesia, Edi Haryanto selaku Sales Manager IAS Global, dan Zaid Ibrahim selaku Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko BPDP.

Sahat Sinaga menyoroti permasalahan mendasar yang masih dihadapi petani sawit rakyat, mulai dari sistem timbangan yang merugikan hingga dominasi pabrik pengolahan besar. Ia menyatakan tekadnya untuk mendorong agar pada tahun 2029, petani sawit dapat memiliki pabrik sendiri.

“Sudah terlalu lama petani sawit jadi korban sistem. Dipotong di timbangan, dipotong di sana-sini. Sudah waktunya mereka punya kedaulatan. Saya sedang mengembangkan pabrik minyak sawit emisi karbon rendah atau PAMER. Cina sudah tertarik, dan ini bisa jadi masa depan industri kita,” tegas Sahat dalam seminar sesi I SIEXPO 2025 di Pekanbaru Convention and Exhibition (Ska-Coex), Riau, Kamis (7 Agustus 2025).

Ia juga menyoroti pentingnya memaksimalkan nutrisi dari kelapa sawit, seperti vitamin A dan gliserin, yang selama ini belum diolah secara optimal. Bahkan, ia menyebut minyak sawit lebih unggul dari pelumas berbasis fosil karena bersifat polar dan lebih tahan lama di dalam piston mesin.

“Minyak sawit itu luar biasa. Kandungan vitaminnya seperti air susu ibu. Tapi kita tidak menghargainya sendiri. Sudah waktunya kita sadar, sawit bisa jadi solusi pangan, energi, bahkan kesehatan,” pungkas Sahat Sinaga yang kini menginjak usia 80 tahun dan tetap aktif mendorong inovasi.

Shell Tawarkan Solusi Grease Rendah Emisi

Perwakilan dari Shell Indonesia, Cecep, memaparkan inovasi pelumas dan grease mereka yang telah terbukti mendukung operasional pabrik sawit di berbagai wilayah tropis.

“Kami punya produk seperti Shell Gadus yang sangat cocok untuk kondisi ekstrem di pabrik sawit. Tidak hanya itu, kami juga menyediakan Shell LubeAnalyst, semacam ‘tes darah’ untuk mesin agar potensi kerusakan bisa diprediksi lebih awal,” jelas Cecep.

Shell juga menegaskan komitmen mereka untuk beralih ke biolubricant netral karbon, sejalan dengan tren global menuju industri hijau dan ramah lingkungan.

Uji Mutu CPO Kini Hanya Butuh 2 Menit

Dari sisi teknologi pengujian, Edi Haryanto dari IAS Global memperkenalkan IAS-6100, alat analisis berbasis NIR Spectroscopy (NIRS) yang mampu menguji kualitas CPO, kernel, dan produk turunan sawit hanya dalam waktu kurang dari dua menit — jauh lebih cepat dari metode konvensional yang bisa memakan waktu 20 jam.

“Dengan alat ini, petani dan pabrik bisa langsung tahu mutu dan potensi rendemen secara akurat. Ini revolusioner,” kata Edi.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Zaid Ibrahim, menegaskan bahwa keberlanjutan sawit adalah tanggung jawab kolektif. BPDP, yang kini juga membina sektor kakao dan kelapa, tetap menjadikan petani sawit sebagai prioritas utama.

“Kami akan fokus pada program dengan output konkret — bukan hanya seremonial. Dari beasiswa, PSR, hingga promosi dan pengembangan hilirisasi,” ungkapnya.

Zaid juga menyoroti pentingnya memperkuat citra positif sawit Indonesia di mata global dan meningkatkan kontribusi sawit terhadap ketahanan energi nasional. Kini, program B50 (campuran biodiesel 50%) tengah berjalan dan diharapkan terus ditingkatkan.

Artikel Terkait