Mamuju, SAWIT INDONESIA — Target seluruh pekebun kelapa sawit di Sulawesi Barat melakukan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) pada 2029 mulai dipersiapkan dari sekarang. Kabupaten Pasangkayu menjadi salah satu daerah yang memperkuat kesiapan pekebun melalui peningkatan pemahaman dan kapasitas dalam menerapkan praktik perkebunan berkelanjutan.
Sebanyak 59 pekebun asal Kabupaten Pasangkayu mengikuti Pelatihan Implementasi ISPO Angkatan 1 dan 2 yang digelar pada 31 Agustus hingga 5 September 2026 di Hotel Grand Maleo Mamuju.
Pelatihan tersebut merupakan bagian dari Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan (SDMP) yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), dengan PT Trifos Internasional Sertifikasi sebagai salah satu mitra pelaksana program. Kegiatan pelatihan diselenggarakan oleh PT Trifos Internasional Sertifikasi.
Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Barat, Muh. Faizal Thamrin, S.E., menekankan pentingnya mempersiapkan pekebun menghadapi penerapan sertifikasi ISPO. Ia berharap pada 2029 seluruh pekebun telah melakukan sertifikasi ISPO.
Target tersebut membuat penguatan kapasitas pekebun menjadi bagian penting dalam mempersiapkan perubahan tata kelola perkebunan sawit di tingkat hulu. Pekebun tidak hanya perlu mengetahui standar ISPO, tetapi juga memahami bagaimana menerapkannya dalam pengelolaan kebun sehari-hari.
Melalui Program SDMP yang didukung BPDP dan Ditjenbun, penguatan kapasitas tersebut dilakukan dengan memberikan pembekalan kepada pekebun mengenai prinsip dan kriteria ISPO, legalitas usaha perkebunan, praktik budidaya yang baik, perlindungan lingkungan, serta pengelolaan usaha perkebunan berkelanjutan.
Pembelajaran juga diperkuat melalui kunjungan lapangan ke PT Surya Raya Lestari II dan PT Bhadra Sukses. Melalui kegiatan tersebut, peserta dapat melihat secara langsung penerapan praktik perkebunan dan menghubungkannya dengan materi yang diperoleh selama pembelajaran di kelas.
Direktur Utama PT Trifos Internasional Sertifikasi, Rendy Agung Firmansyah, mengatakan pekebun merupakan salah satu aktor penting dalam menjaga keberlangsungan industri kelapa sawit Indonesia.
“Pekebun memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keberlangsungan industri kelapa sawit. Karena itu, peningkatan kapasitas dan pemahaman terhadap praktik perkebunan berkelanjutan menjadi bagian penting dalam menghadapi perkembangan industri ke depan,” ujarnya, dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi sawitindonesia.com, pada Rabu (9 September 2026).
Menurut Rendy, penerapan ISPO tidak semata-mata berkaitan dengan pemenuhan standar sertifikasi. Implementasinya juga dapat memberikan manfaat bagi pekebun, terutama dalam memperkuat kepastian legalitas usaha dan mendorong pengelolaan perkebunan yang lebih memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Pasangkayu, Moh. Zain Machmoed, S.Sos., M.Si., mengatakan kelapa sawit merupakan salah satu komoditas penting bagi perekonomian daerah.
Menurutnya, peningkatan kapasitas pekebun menjadi langkah penting agar pengelolaan perkebunan sawit terus berkembang sesuai standar dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.
Pasangkayu sendiri memiliki peran penting dalam perekonomian berbasis kelapa sawit di Sulawesi Barat. Penguatan pemahaman ISPO di tingkat pekebun diharapkan dapat menjadi modal awal untuk membangun tata kelola kebun yang lebih tertib, berkelanjutan, dan memiliki daya saing.
Melalui dukungan BPDP, Ditjenbun, AKPY, pemerintah daerah, dan PT Trifos Internasional Sertifikasi, persiapan menuju target ISPO 2029 mulai dibangun dari hulu. Penguatan SDM pekebun menjadi salah satu fondasi agar penerapan standar keberlanjutan tidak berhenti pada sertifikat, tetapi dapat diterapkan dalam praktik pengelolaan kebun.














