• Jumat, 2 Oktober 2026
Berita Terbaru

Masalah Serius, Industri Sawit Hadapi Tiga Tantangan Berat

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Ketua Bidang Luar Negeri GAPKI Fadhil Hasan mengemukakan setidaknya terdapat tiga tantangan yang saat ini harus dihadapi oleh industri sawit Indonesia agar anjlok ke depannya. Pertama, Indonesia harus menghadapi restriksi perdagangan, diversifikasi pasar ekspor hingga upaya peningkatan produktivitas sawit nasional yang stagnan.

“Dari sisi pasokan sawit kita banyak masalah, misalnya produktivitasnya stagnan. Sedangkan ekspansi area sudah pasti tidak akan naik-naik. Padahal, permintaan terus naik. Sehingga akan ada mismatch-lah, Ekses demand. Kalau tidak kita selesaikan dari sisi pasokan dan restriksi perdagangan, akan sangat berat buat kita,” ungkap Fadhil dalam podcast Rosediana Suharto, dikutip Senin (22/1/2024).

Untuk menghadapi restriksi perdagangan, Fadhil menjelaskan langkah yang diusulkannya kepada pemerintah yaitu lewat jalur dialog. Andaikan konsep dan usulan Indonesia tidak diterima, lanjut dia, pemerintah harus menempuh penyelesaian lewat Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Menurutnya Indonesia pun jangan melakukan kebijakan yang serupa dengan Eropa untuk jenis komoditas lain.

“Kita enggak bisa katakan, eh kamu salah. Tapi di saat bersama kita melakukan hal yang sama seperti pelarangan ekspor nikel, lalu pasir kuarsa dan lain-lain,” jelas ekonom senior INDEF itu.

Fadhil menyebut, jika regulasi seperti European Union Deforestation-free Regulation (EUDR) akan terus ada untuk menghambat komoditas Indonesia dengan alasan perubahan iklim. Oleh karenanya, Indonesia harus mulai mendiversifikasi pasar ekspornya.

“Memang. kita tidak serta merta mengalihkan ekspor kita. Tapi ini harus dilakukan. Kemudian ke depan itu kita harus mengurangi ketergantungan pasar ekspor [dimaksimalkan dalam negeri],” ujarnya.

Lebih lanjut, Fadhil juga mengungkapkan jika masalah serius yang dihadapi sawit Indonesia adalah produktivitas yang stagnan. Data yang dihimpun Gapki dalam 5 tahun terakhir sejak 2018 mencatat rata-rata produksi minyak sawit termasuk di dalamnya CPO dan CPKO di kisaran 50,6 juta ton per tahun.

“Ralisasi peremajaan sawit rakyat sejak tahun 2016-2023 ini baru mencapai 306.000 hektaree. 2022 saja hanya 36.000. Padahal, PSR memiliki target luasan 180.000 hektare setiap tahunya di 21 provinsi sentral penghasil kelapa sawit,” ujar Fadhil.

Artikel Terkait