• Kamis, 5 November 2026
Berita Terbaru

Mentok di CPO dan Minyak Goreng, Wamenko Dradjad Sentil Hilirisasi Sawit yang Belum Maksimal

JAKARTA, SAWIT INDONESIA - Indonesia masih menghadapi pekerjaan rumah (PR) besar dalam memperkuat struktur industri manufaktur nasional. Salah satu faktor utamanya adalah pengembangan industri petrokimia dasar yang dinilai terlambat, sehingga rantai pasok industri dari hulu ke hilir belum terbentuk secara kokoh.

Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Perekonomian, Dradjad H. Wibowo, menyoroti bahwa industri petrokimia merupakan fondasi vital bagi keberlangsungan industri manufaktur hilir, seperti produksi plastik dan barang kebutuhan harian masyarakat.

Selain keterlambatan pembangunan, Dradjad menyebut struktur pasar industri petrokimia di dalam negeri saat ini masih dinikmati dan dikuasai oleh satu pemain dominan yang telah menerima berbagai fasilitas negara sejak lama. Kondisi monopolis ini menyebabkan kerentanan rantai pasok saat terjadi gejolak pasokan dan harga global.

"Industri dasar kita, terus kemudian ke petrokimia, ke plastik, itu kita agak telat membangun. Dan ini dikuasai juga oleh satu pemain, dan satu pemain ini juga sudah banyak dapat fasilitas negara dari zaman dulu. Nah, kita undang investor untuk masuk ke sini," ujar Dradjad Wibowo dalam wawancara bersama CNBC Indonesia, Rabu (4/11/2026).

Poin-poin utama catatan hilirisasi 200 produk turunan sawit, undangan investasi petrokimia, serta klarifikasi data deindustrialisasi meliputi:

Kritik Hilirisasi Sawit yang Masih Terbatas di CPO:

  • Dradjad menyentil proses hilirisasi kelapa sawit domestik yang dinilai belum optimal. Dari hampir 200 jenis produk turunan sawit, pemanfaatan di dalam negeri masih banyak berkutat pada produk mentah Crude Palm Oil (CPO) dan minyak goreng.

  • Padahal, di negara-negara maju, komoditas sawit telah diolah secara luas menjadi produk industri bernilai tambah tinggi, seperti oleokimia, bahan baku sabun, hingga kosmetik skala global.

Undangan bagi Investor Baru Petrokimia:

  • Guna mengurai ketergantungan bahan baku impor di sektor hilir dan menciptakan iklim usaha yang kompetitif, pemerintah secara terbuka mengundang investor baru untuk masuk dan membangun fasilitas manufaktur petrokimia di Indonesia.

  • Masuknya investasi baru diharapkan dapat memperkuat kemandirian rantai pasok bahan baku plastik dan manufaktur domestik.

Evaluasi Data dan Isu Deindustrialisasi:

  • Menanggapi perdebatan mengenai penurunan kontribusi sektor manufaktur (deindustrialisasi), Dradjad menjelaskan adanya faktor pencatatan statistik.

  • Kementerian Perindustrian mencatat bahwa sebagian aktivitas di kawasan industri kerap terdata dalam kategori real estate, sehingga menurunkan proporsi kontribusi industri secara visual dalam PDB. Meski demikian, pemerintah berkomitmen untuk terus memverifikasi data dan mendongkrak peran nyata manufaktur terhadap perekonomian nasional.

Pemerintah optimistis melalui pembukaan keran investasi petrokimia baru serta pendalaman hilirisasi sawit hingga ke produk jadi, Indonesia dapat memperkuat struktur manufaktur dan keluar dari jebakan ekspor bahan mentah/setengah jadi.

Sumber: cnbcindonesia.com

Artikel Terkait