Jakarta, SAWIT INDONESIA – Menteri UMKM RI, Maman Abdurrahman langsung membuka kemasan coklat sawit setelah ditawarkan Ketua Umum APKASINDO, Dr. Gulat ME Manurung. Dirinya sangat penasaran untuk mencicipi rasa coklat buatan Koperasi Sawit Setara APKASINDO.
“Wah, enak ini rasa coklatnya. Gak kalah dengan coklat yang di supermarket,” ujar Menteri Maman. Selain itu, pria kelahiran Pontianak Kalimantan Barat ini juga takjub melihat produk kerajinan UKM petani sawit seperti piring, tas, dan mie sawit merah.
Dalam pertemuan ini Dr. Gulat Manurung didampingi jajaran pengurus lainnya antara lain Sekjen APKASINDO, Dr. Rino Afrino, Wakil Ketua Umum Qayuum Amri, dan Staf Sekretariat Tami. Pertemuan sekitar satu jam ini berlangsung di Kantor Kementerian UMKM, Jakarta, Selasa (29 April 2025).
Dr. Gulat ME Manurung menjelaskan bahwa produk turunan sawit membantu pengembangan UKM yang dikerjakan oleh justru yang bukan petani sawit dan hal ini mampu menjaga stabilitas ekonomi di sentra perkebunan sawit rakyat khususnya dan menjadi penopang ekonomi nasional.
"Bayangkan saja, tiga dari 08 Asta Cita Presiden Prabowo berhubungan langsung dengan UMKM. Terkhusus terkait Asta Cita nomor 3, 4 dan nomor 6," kata Gulat.
Tidak banyak orang yang tahu bahwa sawit bukan hanya terkait kami petani atau korporasi, tapi ratusan ribu UMKM tumbuh berkembang yang bahan baku utamanya justru dari produk sampingan sawit. Untuk itu peran Kementerian UMKM sangat strategis, jadi sudah benar Pak Presiden Prabowo memisahkan Kememterian Koperasi dengan Kementerian UMKM.
Saat ini, produk UMKM yang sudah maju berkembang seperti gula merah, kerajinan lidi, keranjang kecil sampai besar, parfum, coklat, kopi sawit, taplak meja, busa kursi, pakan ternak, pupuk organik, helm, rompi anti peluru, campuran aspal dan masih banyak ratusan produk UMKM berbasis sawit," kata Gulat.
Gulat menuturkan mengganggu keberlangsungan sawit sama dengan mengganggu stabilitas ekonomi Indonesia pada umumnya, sawit itu kita Indonesia.
"Yang saat ini masih viral adalah larangan ekspor produk HAPOR dan POME, yang jelas-jelas itu adalah produk UMKM berbasis brondolan busuk, harusnya Kemendag membina supaya makin canggih, bukan malah melarang ekspor melalui Permendag 2/2025. Semua rugi, terkhusus mengurangi pemasukan negara baik melalui Devisa, Bea Keluar dan Levy,” tutur Gulat.
Dr. Rino Afrino menambahkan bahwa Apkasindo segera mempertemukan petani sawit dan pelaku UKM dalam satu forum untuk memperkuat promosi serta imej sawit yang memiliki beragam nilai tambah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat yang justru UMKM ini mayoritas dikerjakan oleh bukan petani sawit.
"Kami rencanakan akan membuat pertemuan UKM dan petani sawit dalam Forum Ekosistem UMKM Sawit Yogyakarta Istimewa. Mohon kesediaan Bapak Menteri untuk dapat hadir dalam kegiatan yang akan berlangsung di INSTIPER Yogyakarta," jelasnya.
Menteri UMKM Maman Abdurrahman menyambut baik usulan Apkasindo dalam pengembangan produk UKM berbasis sawit serta mendukung peningkatan nilai tambah petani sawit.
Pada pertemuan tersebut, Maman juga berharap Apkasindo segera melakukan kordinasi kesemua Provinsi APKASINDO untuk produk-produk UMKM ini.
"Saya mendukung penuh dan siap hadir ke Yogyakarta sebagaimana usulan yang disampaikan Apkasindo berkaitan membentuk satu ekosistem UKM sawit. Tentu, kami sangat terbantu dengan usulan strategis ini," pungkasnya.














