• Kamis, 8 Oktober 2026
Berita Terbaru

Menteri Bahlil Ingin Tambah Lahan Untuk Menuju B80

Jakarta, SAWIT INDONESIA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, Bahlil Lahadalia, mengatakan program mandatori biodiesel menjadi jalan keluar untuk memutus rantai ketergantungan pada impor bahan bakar minyak (BBM) jenis solar. Saat ini, pihaknya terus mematangkan persiapan implementasi program mandatori biodiesel 50 persen atau B50 yang dijadwalkan berlaku mulai 1 Juli 2026.

"Besok Juli akan kita resmikan B50. Itu menyelamatkan wajah Indonesia dari ketergantungan impor solar kita," ungkap Bahlil.

Bahlil bahkan memastikan program B50 menjadi fondasi bagi target penghentian impor solar pada tahun ini. Selain memperkuat ketahanan energi, kebijakan tersebut diharapkan mampu mengurangi tekanan terhadap neraca perdagangan sekaligus meningkatkan nilai tambah sektor sawit nasional.

Kebijakan ini, dikatakan Bahlil, menjadi salah satu instrumen utama untuk mengurangi impor solar sekaligus meningkatkan pemanfaatan bahan baku dalam negeri berbasis minyak sawit.

“Melalui penerapan program B50 , sekitar 300 ribu barel per hari kebutuhan solar dapat dipasok dari biodiesel (sawit) dalam negeri,” ujar Bahlil.

Menurutnya, progam mandatori biodiesel ini dapat ditingkatkan sampai B70 dan B80.”Kalau begini bisa enggak kita buat B70, B80 tinggal kita tambah lahan,” jelas Bahlil.

Namun, dijelaskan Bahli, begitu ingin tambah tambah lahan pastinya banyak pihak tidak setuju.

“Kalau ingin tambah lahan ada yang enggak setuju lagi bikin pesta apalah kira-kira begitu. Film begitulah kira-kira. Ini orang-orang ini nasionalis tidak ya atau suka impor-impor aja?” tanya Bahlil.

Berdasarkan hasil tersebut, pemerintah optimistis peluncuran B50 pada semester II tahun 2026 dapat berjalan sesuai rencana. Implementasi B50 diharapkan mampu menekan kebutuhan impor solar secara signifikan, bahkan berpotensi menghilangkan impor untuk jenis solar tertentu apabila program berjalan optimal.

Selain memperkuat ketahanan energi nasional, program biodiesel juga memberikan manfaat ekonomi yang besar. Pemerintah mencatat implementasi program B50 akan mampu menciptakan nilai tambah bagi industri kelapa sawit nasional sebesar Rp24,68 triliun. Program ini juga berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja hingga lebih dari 2,2 juta orang di sepanjang rantai pasok industri sawit dan energi.?

Dari sisi lingkungan, pemanfaatan biodiesel turut mendukung agenda transisi energi dan penurunan emisi gas rumah kaca (GRK). Program B50 diperkirakan akan mampu mengurangi emisi hingga 46,72 juta ton setara karbon dioksida (CO2), sekaligus mendukung pencapaian target penurunan emisi nasional.

Sementara itu, dari aspek makroekonomi, penggunaan B50 memberikan dampak signifikan terhadap penghematan devisa negara. Dengan berkurangnya kebutuhan impor bahan bakar fosil, pemerintah memperkirakan penghematan devisa mencapai Rp157,28 triliun.

Artikel Terkait