Industri sawit menjadi bagian penting untuk menggerakkan roda pembangunan nasional dan pertumbuhan ekonomi tinggi. Produk turunan sawit dapat membantu mewujudkan swasembada pangan dan energi nasional sebagaimana Asta Cita Presiden Prabowo.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas RI Prof.Rachmat Pambudy menjelaskan bahwa Program program pengembangan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah produk kelapa sawit di dalam negeri serta peningkatan produktivitas kelapa sawit menjadi kunci dalam pencapaian target dimaksud.
“Industri sawit di Indonesi punya beragam keunggulan komparatif. Lahan kita cukup, air cukup, petani unggul. Dengan teknologi terbaik saja kita sudah bisa unggul di dunia,” ujarnya saat memberikan sambutan dalam Diskusi Terbatas bertemakan “Integrasi Industri Sawit Indonesia dalam Mendukung Pertumbuhan Ekonomi, Swasembada Pangan, dan Energi: “Menelisik Pemikiran Prof. Bungaran Saragih”, di Jakarta, Rabu (7 Mei 2025).
Prof.Rachmat Pambudy mengatakan Presiden Prabowo memberikan tugas kepada Kementerian PPN/Bappenas untuk merencanakan pembangunan secara nasional supaya pertumbuhan ekonomi dapat tinggi, berkualitas, dan berkelanjutan.
Pemerintah telah merancang strategi 8+1 untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi Indonesia agar mencapai 8 persen pada 2029.
Delapan strategi tersebut adalah peningkatan produktivitas pertanian menuju swasembada pangan, industrialisasi (hilirisasi) sektor padat karya, berorientasi ekspor, dan berkelanjutan; ekonomi biru dan ekonomi hijau; pariwisata dan ekonomi kreatif; perkotaan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi; transformasi digital; lalu investasi (foreign direct investment) berorientasi ekspor dan investasi non Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).
Merujuk data Kementerian PPN/Bappenas, upaya mencapai swasembada pangan dari industri sawit dilakukan melalui penyediaan minyak goreng bagi 280 juta jiwa penduduk Indonesia dan 1,6 juta unit UKM kuliner. Sementara itu, peranan industri sawit mewujudkan swasembada energi dengan menghasilkan energi terbarukan (renewable energy) melalui biodiesel sawit, bensin sawit, diesel sawit, avtur sawit (Sustainable Aviation Fuel-SAF), biomethane, biocoal, dan bioethanol.
Prof. Bungaran Saragih mengatakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi tersebut diperlukan Indonesia agar pada saat 100 tahun Negara Kesatuan Repubulik Indonesia tahun 2045, dapat menjadi Top-10 ekonomi dunia dengan PDB sekitar USD 6.988 milyar dengan pendapatan per kapita atau sekitar USD 21 ribu atau naik sekitar 4 kali lipat dari saat ini.
“Bagian penting dari Asta Cita Presiden Prabowo adalah pertumbuhan tinggi dan mewujudkan ketahanan pangan serta energi. Sawit dapat menjadi lokomotif ekonomi nasional melalui strategi pembangunan di huluisasi dan hilirisasi untuk berjalan beriringan,” tambahnya.
Dikatakan Bungaran, hilirisasi pertanian memerlukan dukungan huluisasi pertanian. Apa bila dukungan sektor pertanian (termasuk industri hulu pertanian) tidak kuat dan berkelanjutan, hilirisasi pertanian akan kesulitan bahan baku, mengalami decoupling dengan ekonomi domestik dan berubah menjadi industri berbasis impor.
Sementara itu, Anggota Ombudsman RI, Yeka Hendra Fatika menekankan agar tata kelola industri kelapa sawit dapat dibenahi secara menyeluruh. Badan ini nantinya mampu menangani seluruh persoalan sawit dari hulu hingga hilir dalam satu kesatuan sistem. "Bagaimana tata kelola ini bisa ditertibkan, solusinya satu maka bentuklah Badan Sawit Nasional yang melingkupi persoalan sawit dari hulu ke hilir dalam satu atap," ujarnya.
Pada tahun 2024, Ombudsman RI telah melakukan Kajian Sistemik (Systemic Review) terhadap tata kelola industri kelapa sawit Indonesia dengan memeriksa 52 institusi di seluruh Indonesia dalam kurun waktu enam bulan. Katanya, Ombudsman RI telah merumuskan lima saran perbaikan kepada pemerintah terkait tata kelola industri kelapa sawit.
(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 163)














