Agroforestri menjadi pembahasan sejumlah pakar dalam upaya menghadapi tantangan sosial dan lingkungan di industri sawit. Lalu seperti apa praktik yang dapat diterapkan di lapangan?
Direktur Asia The Center for International Forestry Research and World Agroforestry (CIFOR-ICRAF) Sonya Dewi menyampaikan bahwa persoalan ekspansi ini perlu dicari kansolusi. Mengingat banyak wilayah di Indonesia, landskapnya telah didominasi oleh perkebunan sawit.
“Hal ini memicu perdebatan global tentang dampaknya terhadap perubahan iklim dan hilangnya spesies. Kita harus memikirkan trade-off yang terjadi akibat ekspansi ini,” ujar Sonya dalam International Conference on Oil Palm and Environment (ICOPE) Series 2025 pada pertengahan Februari 2025.
Namun, ada harapan baru sebagai solusi persoalan itu, yakni melalui program agroforestri. “Dengan land sharing, kita bisa meminimalkan dampak sosial yang negatif dan mempertimbangkan opsi-opsi lain,” tambahnya.
Agroforestri merupakan sistem pertanian yang mengombinasikan tanaman pertanian, pohon, dan bahkan ternak dalam satu sistem lahan. Dalam konteks perkebunan sawit, pendekatan ini menawarkan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan dengan meningkatkan produktivitas tanpa harus mengorbankan kelestarian hutan.
Dewi mengatakan, dalam sistem agroforestri sawit, komposisi tanaman bervariasi antara 30% hingga 80% dalam satu sistem lahan. Penerapan konsep ini telah terlihat di berbagai daerah, terutama di Sumatera Utara, di mana proyek agroforestri sawit telah dipantau selama dua tahun.
Keunggulan agroforestri tidak hanya terletak pada perekonomian. “Dalam hal produktivitas, agroforestri sawit memiliki potensi lebih tinggi dibandingkan budidaya sawit murni,” jelasnya.
Dengan rasio efisiensi tenaga kerja yang lebih baik, agroforestri bisa meningkatkan ketahanan pangan dan mengurangi risiko erosi, yang berpotensi menghindarkan tanah longsor.
Selain itu, implementasi agroforestri sawit juga membutuhkan dukungan kebijakan dan insentif bagi petani. Salah satu tantangan utama adalah bagaimana memastikan sistem ini dapat diterapkan secara luas tanpa mengorbankan keuntungan ekonomi yang selama ini diperoleh dari sistem monokultur sawit.
(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 164)














