Bisakah perkebunan sawit tidak hanya menjadi sumber produksi minyak nabati, tetapi juga ruang bagi konservasi dan wisata alam? Pertanyaan ini semakin relevan di tengah dorongan global terhadap praktik sawit berkelanjutan. Topik inilah yang menjadi urgensi penelitian Sdr. Lenny Yusrini, dosen Universitas Asa Indonesia, Jakarta.
Topik dan obyek penelitian di area preservasi ini disetujui oleh para pembimbing: Dr. Ir. Arzyana Sunkar, M.Sc., Prof. Dr. Ir. Yanto Santosa, D.E.A, dan Dr. Eva Rachmawati, M.Si. untuk menjadi Disertasi Doktoral di Institut Pertanian Bogor (IPB). Obyek penelitian meliputi beberapa perkebunan sawit dan desa-desa di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa area dengan nilai konservasi tinggi (NKT) memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi tujuan biodiversity tourism, sebuah konsep wisata berbasis keanekaragaman hayati yang tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga memberi manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar. Penelitian ini juga mengembangkan model biodiversity tourism, dengan tiga pilarnya yaitu keanekaragaman hayati, pariwisata, dan keberlanjutan.
Dalam konteks sertifikasi berkelanjutan seperti Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), kawasan NKT berfungsi melindungi elemen lingkungan penting, seperti sumber air, habitat satwa liar, vegetasi alami, dan budaya. Saat ini, area NKT di Pangkalan Bun antara lain mencakup hutan riparian, rawa kecil, dan semak belukar alami yang menjadi rumah bagi lebih dari puluhan jenis burung, mamalia kecil, dan reptil. Keberadaan kawasan ini tidak hanya memiliki fungsi ekologis, tetapi juga strategis bagi keberlanjutan industri sawit. NKT membantu menjaga keseimbangan ekosistem, mengurangi risiko banjir dan erosi, serta memperkuat sistem pengelolaan lingkungan perusahaan. Lebih jauh, kawasan ini ternyata memiliki peluang inovatif untuk menyeimbangkan antara produksi dan konservasi melalui pengembangan kegiatan wisata edukatif.
Analisis kesesuaian kawasan yang dilakukan dalam penelitian Lenny menunjukkan bahwa beberapa area NKT memiliki potensi tinggi untuk dikembangkan sebagai lokasi biodiversity tourism terbatas. Kawasan sepanjang sempadan sungai yang menjadi habitat bekantan dan burung air, misalnya, cocok untuk aktivitas wildlife watching dan interpretasi alam. Aktivitas ini dapat dilakukan dengan pendampingan pemandu lokal dan sistem kunjungan terbatas agar tidak mengganggu habitat satwa. Selain satwa liar, keberadaan flora endemik seperti kantong semar dan pohon rawa khas Kalimantan juga menjadi daya tarik untuk wisata edukasi lingkungan. Dengan pengelolaan yang hati-hati dan perencanaan berbasis konservasi, biodiversity tourism berpotensi menjadi sumber nilai sosial-ekonomi baru tanpa mengganggu fungsi ekologis kawasan HCV. “Biodiversity tourism lebih dari sekedar konsep tambahan dalam industri perkebunan kelapa sawit, melainkan langkah nyata menuju pengelolaan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan, di mana produktivitas dan pelestarian dapat berjalan beriringan”, menurut Dr. Ir. Arzyana Sunkar, M.Sc., dosen Program Studi Konservasi Biodiversitas Tropika IPB.
Penelitian ini juga menyoroti pentingnya pemangku kepentingan di sekitar perkebunan sawit seperti peran masyarakat setempat dalam mendukung keberlanjutan kawasan NKT. Masyarakat yang tinggal di sekitar area penelitian memiliki pengetahuan tentang satwa dan vegetasi di sekitarnya, yang menjadi modal penting untuk pengembangan wisata berbasis keanekaragaman hayati. Mereka berpotensi menjadi pemandu wisata, penyedia homestay, atau perajin produk berbasis sumber daya alam lokal. Beberapa desa sekitar juga memiliki potensi wisata budaya yang dapat menjadi tujuan penunjang biodiversity tourism di NKT. Agar potensi ini dapat terwujud, dibutuhkan kolaborasi multipihak. Perusahaan dapat menyediakan fasilitas dan dukungan panduan konservasi, akademisi berperan dalam riset, pemetaan potensi, dan pelatihan bagi masyarakat. Sementara, pemerintah daerah dapat memberikan panduan kebijakan agar kegiatan wisata tetap selaras dengan prinsip tanggung jawab sosial dan lingkungan. Pendekatan kolaboratif ini memperkuat posisi kawasan NKT sebagai bukti nyata penerapan praktik sawit berkelanjutan.
(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 171)














