Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CX)

Karena saya anggap sudah jelas, saya berhenti sesaat dan bertanya, “Ada yang ingin bertanya, silakan!”  Tidak lazim saya buka kesempatan ditengah suatu kata sambutan. Tetapi karena soal ini penting dan peka, saya ingin benar-benar jelas dipahami.

“Berapa ton yang perlu, Pak?” tanya seorang peserta dari cabang Riau.

“Untuk tiga bulan pertama, dari bulan Mei sampai Juli 2003, harus dikapalkan senilai 15 juta dollar. Kalau harga 400 dollar pe ton, perlu 37.500 ton. Hanya 12.500 ton sebulan”, kata saya yang sudah menghitung sebelumnya. Tidak ada pertanyaan lagi, karena itu saya lanjutkan penjelasannya.

Saya katakan imbal dagang ini akan bagus dampaknya. Harga bisa terangkat, saya yakin akan naik sampai tahun depan. Rusia itu juga pandai berdagang,  bukan hanya untuk penggunaan dalam negerinya. Rusia dagang dengan negera-negara Timur Tengah. Waktu Iran kena sangsi embargo, PBB bantu dengan program “Oil for Food”.

Baca Juga :   Revisi PP Perlindungan Gambut Abaikan Pendapat Ahli

Irak diijinkan menjual minyak bumi untuk mendapatkan dana membeli makanan dari sejumlah negara. Pakai prosedur tender yang diawasi PBB. Saya melihat perusahaan Rusia selalu ikut tender dan ada yang menang. Jadi minyak sawit yang dikirim bisa saja di jual kenegara lain. Bagi kita itu menambah pasar, menaikan permintaan. Jadi mengangkat harga atau paling tidak menjaga harga tidak turun.

 Sumber : Derom Bangun

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like
Read More

Sawit atau Kedelai?

Penulis: Nurafni Octora (Mahasiswa Universitas Riau) Sawit adalah tumbuhan industri sebagai bahan baku penghasil minyak nabati dan merupakan…