• Sabtu, 3 Oktober 2026
Berita Terbaru

Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CCCXLIII)

Dalam seminar itu saya diminta untuk menyampaikan makalah. Oleh karena itu, keberangkatan ke Pakistan saya sesuaikan jadwalnya dentgan acara seminar. Kami berangkat dari Jakarta melalui Singapura dan mendarat di Karachi, dan segera transit dengan pesawat domestik yang membawa kami ke Islamabad. Di Islamabad kami diterima oleh pengurus PVMA dan juga dari Kedutaan Besar Republik Indonesia. Saya segera merundingkan acara keesokan harinya, yaitu beraudensi dengan Pedana Menteri Pakistan Yusuf Riza Gillani. Pihak PVMA yakin bahwa Pedana Menteri berikenaan menerima pada pukul sepuluh pagi.

Kepada pihak KBRI saya menanyakan kemungkinan ikut mendampingi dalam pertemuan dengan Perdana Mentari Pakistan. Waktu itu duta besar tak ada di tempat, yang ada ditempat adalah kuasa usaha (KUAI) Ibnu Prispermana. Setelah dihubungi, KUAI secara datang ke hotel menemui kami dan membicarakan rencana pertemuan keesokan harinya. Dijelaskan juga bahwa KUAI telah lebih dari tiga bulan menyampaikan surat resmi untuk beraudiensi dengan Perdana Menteri, tetapi belum mendapat tanggapan. Jelaslah bahwa jalur yang kami pergunakan memang mempunyai hubungan yang khusus sehingga dalam waktu yang begitu singkat kami akan diterima oleh Perdana Menteri Pakistan.

Keesokan paginya pukul 09.30 kami sudah berada di pintu gerbang kediaman Perdana Menteri Yusuf Riza Gilliani. Saya didampingi pengurus PVMA. Seperti halnya di kediaman petinggi negeri lain, kami harus melalui pemeriksaan keamanan yang sangat ketat dan telepon seluler harus ditinggalkan di pos keamanan. Kami kemudian diantar ke ruang tunggu yang cukup besar untuk menantikan Perdana Menteri di Ruang tamu. Beberapa petugas rumah tangga Perdana Menteri melayani kami, menyediakan minuman, sambil mempersiapkan kami duduk santai di ruangan yang tenang itu.

Sumber : Derom Bangun

Artikel Terkait