Lebih dari 15 tahun lamanya , Ingrid Clarissa bergelut dalam dunia public relation terutama sektor kelapa sawit. Salah satu kiatnya adalah membangun komunikasi yang edukatif.

“Saya telah berkecimpung 15 tahun lamanya di bidang komunikasi. Sedangkan industri perkebunan saya telah berkarir 12 tahun lamanya. Tantangannya memang cukup berat,” ujar Ingrid.

Ia menceritakan bahwa sentimen negatif terhadap kelapa sawit masih tetap terjadi. Sentimen ini disebabkan adanya kampanye dari dalam dan luar negeri terhadap industri sawit. Memang, berbicara kelapa sawit ini tidak semuanya perusahaan menjalankan tata kelola terbaik. Adapula yang berperilaku kurang baik dalam kegiatan operasionalnya.

“Untuk itulah edukasi perlu dijalankan kepada masyarakat. Kegiatan edukasi ini merupakan kunci untuk membangun imej positif sawit. Ketika ada perusahaan berperilaku kurang baik akan dirasakan dampaknya kepada industri sawit pula,” kata Ingrid.

Sebagai contoh, Minamas menerapkan zero burning policy secara ketat di seluruh area operasional untuk mencegah kebakaran lahan di area sekitar kebun. Berbagai inisiatif juga dilakukan untuk pencegahan dan penanganan karhutla seperti Masyarakat Pesisir Peduli Api, Program Desa Mandiri Cegah Api, Guru Peduli Api. Sedangkan di bidang penanganan sudah dilakukan sosialisasi karhutla kepada masyarakat.

“Saat terjadi deforestasi dan kebakaran lahan, perusahaan yang telah melakukan upaya pencegahan tetap kena imbasnya. Karena digeneralisir, seakan-akan seluruh perusahaan melakukan pembakaran. Padahal, faktanya tidak demikian karena berbagai inisiatif Minamas dalam upaya pencegahan karhutla sudah berjalan,” jelas Ingrid.

Menurutnya, generalisasi isu negatif sawit ini sangat membahayakan perusahaan yang sudah menjalankan praktik perkebunan terbaik. Sebab persoalan ini dapat menggoyahkan kepercayaan pembeli. Dampak lainnya adalah reputasi perusahaan menjadi negatif.

Di Minamas Plantation, Ingrid dipercaya sebagai Corporate Communications dan CSR.  Dalam pandangan Ingrid, tugas sebagai Corporate Communications bukan sebatas menangani isu negatif kepada perusahaan ataupun sewaktu-waktu ada masalah. Tetapi ada tugas mengedukasi masyarakat supaya paham kelapa sawit dikelola berkelanjutan.

Ia mencontohkan perusahaan memiliki program bekerjasama dengan Indonesia Heritage Foundation (IHF) untuk membentuk Sekolah Peduli Api. Tujuan kegiatan ini pembinaan serta pembekalan kepada para kepala sekolah dan guru tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sekitar termasuk bahaya karhutla.

Melalui pembinaan edukatif ini, para guru tersebut nantinya diharapkan dapat memberikan pembelajaran kepada para anak didiknya sebagai generasi muda penerus bangsa agar memiliki karakter cinta lingkungan sejak dini.

Dikatakan Ingrid, kegiatan ini akan memperkenalkan kepada generasi muda mengenai bahaya karhutla dan upaya pencegahannya. Sejak dini mereka diajak mengerti bagaimana mencegah terjadinya kebakaran di lingkungan sekitar mereka tinggal yang berada di perkebunan.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 128)

Share.