• Senin, 5 Oktober 2026
Hot Issue

Membangun Inovasi Sawit Yang Dapat Diterapkan

The 2nd Indonesia Palm Oil Research and Innovation Conference and Expo (IPORICE) 2025 sukses menjadi jembatan antara pelaku industri sawit dan peneliti.

Event tahunan yang berlangsung pada 1–3 Oktober 2025 di Ballroom BRIN Gatot Subroto, Jakarta, merupakan rangkaian dari Indonesia Research and Innovation Expo (InaRI Expo). Seminar dan Pameran ini mengusung tema “Penguatan Sinergi Sektor Perkebunan Sawit dalam Mendukung Ketahanan Energi Berbasis Inovasi Teknologi”, yang digelar oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Gabungan Perusahaan Perkebunan Indonesia (GPPI).

Dalam sambutan pembukaan, Deputi Bidang Kebijakan Riset dan Inovasi BRIN, Boediastuti Ontowirjo, menegaskan bahwa industri sawit memiliki peran penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional. “Kebijakan mandatori biodiesel yang kini telah mencapai B40 menjadi bukti nyata kontribusi sawit dalam pengurangan emisi dan kemandirian energi,” ujarnya.

Boediastuti menambahkan, riset dan inovasi BRIN telah menghasilkan berbagai terobosan, mulai dari katalis bio-jet fuel, teknologi konversi biomassa limbah sawit, hingga riset lintas disiplin untuk mengembangkan bioavtur, biodiesel efisien, dan biogas.

‘’Salah satu riset unggulan bahkan memperoleh penghargaan UNESCO for Women in Science 2024 melalui inovasi katalis berbasis metal-organic framework yang mampu mengubah minyak sawit menjadi bahan bakar jet ramah lingkungan,’’ sebutnya.

Ketua Panitia IPORICE 2025 sekaligus Kepala OR Tata Kelola Pemerintahan, Ekonomi, dan Kesejahteraan Masyarakat (TKPEKM) BRIN, Agus Eko Nugroho menyampaikan bahwa sawit bukan hanya terkait minyak goreng, tetapi juga masa depan energi hijau Indonesia. Ia menyoroti pentingnya aspek sosial-ekonomi, termasuk sertifikasi ISPO, rantai pasok minyak jelantah, serta pemberdayaan petani kecil.

Dari kancah internasional, Sekjen Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC), Izzana Salleh, menekankan perlunya melawan narasi negatif tentang sawit dengan data ilmiah dan inovasi. Menurutnya, sawit merupakan tanaman penghasil minyak paling efisien dengan kontribusi besar terhadap ekonomi global, di mana 40% produksinya berasal dari petani kecil.

Sementara itu, Deputi Bidang Pangan, SDA, dan Lingkungan Hidup Bappenas, Leonardo A.A. Teguh Sambodo, menyampaikan bahwa dalam RPJP 2025–2045, sawit ditetapkan sebagai komoditas strategis utama. Fokus pengembangannya mencakup peningkatan produktivitas, diversifikasi produk bernilai tinggi seperti green diesel, bioavtur, oleokimia, hingga pemanfaatan limbah sawit untuk energi dan material maju seperti superkapasitor. Ia juga menyoroti peluang pasar Eropa pasca penandatanganan Indonesia-EU Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA).

“Sawit kini bukan sekadar komoditas ekspor, tetapi motor transformasi energi berkelanjutan dan penggerak ekonomi rakyat,” tegas Sambodo dalam keterangannya.

Konferensi IPORICE 2025 menjadi ajang kolaborasi strategis untuk memperkuat sinergi riset, inovasi, dan kebijakan. Dengan semangat people, planet, and prosperity, Indonesia menegaskan bahwa sawit bukanlah masalah, melainkan bagian penting dari solusi energi hijau dunia.

Posisi Strategis Indonesia dalam Perdagangan Global

Deputi Sekretaris Jenderal Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC), Musdhalifah Machmud, dalam sesi seminar menjelaskan bahwa setiap dinamika dan kebijakan yang diambil Indonesia selalu menjadi acuan global.

“Palm oil tidak bisa dilepaskan dari Indonesia. Setiap langkah kecil Indonesia berdampak besar pada kondisi sawit dunia,” ujarnya.

Musdhalifah menjelaskan bahwa posisi strategis ini didukung oleh riset-riset yang dilakukan BRIN. Temuan ilmiah dari para peneliti Indonesia sering menjadi rujukan forum internasional, khususnya dalam isu keberlanjutan industri sawit.

“Satu hal yang menjadi catatan bahwa palm oil tidak akan bisa apa-apa tanpa dinamika Indonesia. Indonesia bergerak sedikit, akan terjadi keributan mengenai kondisi kelapa sawit dunia,” ujarnya

Untuk mendorong itu, ia menyoroti kontribusi riset yang dilakukan BRIN. Menurutnya, hasil riset para peneliti Indonesia kerap menjadi rujukan dalam forum-forum internasional yang membahas keberlanjutan kelapa sawit.

Sejalan dengan temuan riset, ia menegaskan bahwa kelapa sawit bukanlah penyebab utama deforestasi. Data justru menunjukkan bahwa negara-negara produsen sawit mampu menjaga kelestarian hutannya.

“Kita harus yakin betul bahwa kelapa sawit itu bukan penyebab deforestasi. Buktinya negara-negara produsen kelapa sawit bisa menjaga hutannya. Kalau kita lihat, total area-nya, baik Indonesia pun Malaysia, luas hutannya masih 63% (Indonesia) dan 62% (Malaysia). Ini untuk status hutan di negaranya. Kemudian Thailand produsen nomor 4 di dunia, hutannya masih ada 37%,” sambungnya.

Menurutnya, fakta ini membuktikan bahwa masyarakat justru semakin sejahtera dengan adanya kelapa sawit. Sehingga mereka tidak bergantung pada praktik perambahan hutan.

“Minyak sawit adalah produk ramah lingkungan bagi negara kita. Karena kita sudah memanfaatkan nol limbah, kemudian produktivitas, efektivitas kita terus kembangkan,” terangnya. Artinya berkelanjutan, untuk produk minyak sawit ini untuk minyak nabati, energi, bahkan sudah sampai ke SAF, Sustainable Aviation Fuel untuk pesawat. Itu semua sudah kita selenggarakan,” imbuhnya.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 168)

Artikel Terkait