Membangun Ekosistem Hutan Tanaman Sawit dan Model Kebijakannya
Untuk memahami ekosistem hutan sawit, perlu mengetahui pengertian hutan yaitu suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan (Undang-Undang no. 41/1999 tentang Kehutanan). Dalam pengertian hutan tersebut yang menjadi kunci adalah falsafah dominasi pohon, sebab tanpa dominasi pohon dapat dipastikan hamparan lahan tersebut bukan hutan. Dalam hal ini konteks pohon adalah tanaman berkayu yang tingginya bisa lebih 5 meter dengan tutupan tajuk terhadap cahaya matahari lebih 30 persen, meskipun kelapa sawit dikecualikan sebagai pohon palem oleh FAO, 2010. Selanjutnya dominasi pohon membentuk ekosistem hutan yang terdiri semua jenis tanaman baik yang makro maupun yang mikro, semak, rumput, hewan, dan mikroorganisme (komponen biotik) yang berfungsi secara bersama-sama dengan komponen abiotik dari lingkungan tersebut dalam membentuk iklim mikro tersendiri. Selanjutnya pengertian hutan tanaman merupakan hutan yang dibangun dengan melakukan penanaman satu jenis atau berbagai jenis pohon untuk memenuhi kebutuhan akan kayu dan atau non kayu sesuai dengan tujuan pengelolaan (ijin usahanya). Sifat, jenis dan umur tanaman yang dikembangkan pada hutan tanaman menyerupai perkebunan, maka dikalangan masyarakat kehutanan global menyebut sebagai“ plantation forest” dimana sistem silvikultur yang diterapkan “tebang habis permudaan buatan (THPB)” sesuai daur tanaman, yang falsafahnya sama persis dengan pengembangan usaha perkebunan. Oleh karena itu dengan pengertian hutan tersebut maka pembangunan ekosistem hutan tanaman kelapa sawit yang tinggi pohon mencapai 15 meter, dan penutupan tajuknya lebih dari 75% sangat dapat memenuhi falsafah ekosistem hutan dimaksud. Hal ini telah diterapkan pada regulasi di negara Malaysia dimana perkebunan kelapa sawit disebut “palms forest” yang senada dengan penyebutan “plantation forest”. Ciri umum ekosistem hutan adalah sebagai berikut : 1) Merupakan habitat bagi keanekaragaman hayati, meliputi berbagai spesies tumbuhan dan hewan yang hidup secara bersama-sama. 2) memiliki lapisan vegetasi. 3) terdiri atas berbagai komponen, dimana pepohonan adalah komponen paling dominan, dan 4) memiliki siklus air dan mempengaruhi pola hujan.
Pembangunan perkebunan sawit pada dasarnya sama seperti pembangunan eksosistem hutan tanaman biasa. Kegiatannya dimulai dari persiapan dan pengolahan lahan secara intensif dengan tujuan untuk mendapatkan kondisi lahan yang subur yaitu menciptakan airasi tanah, memperlancar drainase, peningkatkan kesuburan dan lain sebagainya. Apalagi jika jika lahan awalnya tanah marjinal, kurang produktif, miskin hara maka pemupukan dasar tetap diwajibkan. Sebelum dilakukan pengolahan lahan perkebunan sawit harus dibuat AMDAL, dilakukan survey tofografi dan penilaian Nilai Konservasi Tinggi (Hight Conservation Value) yang wajib dibuatkan zonasinya termasuk zona perlindungan fauna dan flora, hutan adat, areal religi makam, embung air dan lain-lain. Selanjutnya pada saat awal penanaman bibit sawit harus dibarengi dengan penanaman kacang-kacangan (centrosema sp), bahkan tidak jarang diawal penanaman juga menanam palawija disela-sela tanaman sawit. Ketika tanaman sawit sudah mulai besar diantaranya tumbuh rumput dan semak sehingga dibeberapa wilayah dibawah sawit terdapat satwa rusa, babi hutan, dan sebagainya. Ketika tanaman dewasa, masa panen di lantai ekbun juga tumbuh jamur, lumut dan sebagainya. Di tajuk sawit banyak burung pipit, kuaran, belibis, rangkong dan sebagainya. Oleh karena itu ekosistem tanaman sawit pada dasar kompleks dan berkelanjutan. Siklus tanaman sawit mencapat 20-25 tahun yang jauh lebih lama dibanding hutan tanaman akasia atau hutan albizia.
Ekosistem tanaman sawit pada dasarnya ekosistem yang mantab setelah umur 5 tahun. Lingkungan fisik biotik sudah berupa hamparan lahan dengan tanaman utama kelapa sawit tanaman berkayu dan tutupan daunya atau tajuknya lebih 70%. Juga tumbuhan bawah yang cukup beragam yaitu Vegetasi alami di perkebunan kelapa sawit didominasi oleh gulma, namun beberapa jenis tumbuhan juga dapat ditemukan sebagai vegetasi bawah. Gulma ini bisa menjadi sumber pakan ternak, tetapi juga perlu dikendalikan untuk menjaga produktivitas perkebunan. Beberapa jenis tumbuhan yang umum ditemukan di bawah tegakan kelapa sawit antara lain Asystasia coromendeliana, Cyperus rotundus, Elaeis guenensis, Ottochloa nodosa, dan Ageratum conysoides. Dengan banyaknya tumbuhan tersebut dibawah tegakan kelapa sawit juga sebagai habitat rusa, ular, tikus, babi hutan dan sebagainya. Bahkan dibeberapa wilayah seperti Lampung, Bengkulu telah dikembangkan agroforestry dengan mencampurkan berbagai tanaman pangan, ternak sapi dan domba. Selanjutnya lingkungan abiotik juga banyak dikembangkan embung air, kolam ikan, dan juga tambang batuan, pasir dan sebagainya.
(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 169)














