Berita Terbaru
Makroalga, Sumber Bioenergi Terbarukan di Masa Depan
Potensi maritim Indonesia sangat besar. Biodiversitas termasuk alga dapat dimanfaatkan untuk berbagai tujuan. Makroalga secara khusus memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai bahan baku bahan kimia bernilai tinggi maupun bioenergi.
Makroalga memiliki nilai yang sangat strategis bagi bangsa. Namun potensi ini belum betul-betul teridentifikasi secara lengkap pemanfaatannya. Terlebih di masa depan permasalahan energi akan semakin dilirik oleh pemerintah. Sehingga porsi kebijakan sumber energi berbasis bahan alam kian meningkat.
Membahas hal tersebut, Departemen Teknik Mesin dan Biosistem (TMB) Fakultas Teknologi Pertanian dan Surfactant and Bioenergy Research Center (SBRC) IPB University, Pusat Riset Bioteknologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Universitas Lambung Mangkurat menggelar workshop “Pemanfaatan Makroalga untuk Produk Kimia Bernilai Tinggi dan Bioenergi: Riset dan Strategi Penulisan Artikel Ilmiah” (11/12).
Menurut Dr Meika Syahbana, Kepala SBRC IPB University mengatakan, eksplorasi ke arah pemanfaatan makro dan mikroalaga perlu dirintis dan diintesifkan pengembangannya. Alga mengandung bahan-bahan yang bernilai tinggi dan bermanfaat bagi kehidupan manusia. Indonesia perlu mengidentifikasi dan memproses lebih lanjut alga yang mempunyai nilai ekonomi yang besar tersebut. "Aktivitas bioprospecting ini harus kita galakkan dan mudah-mudahan secara bertahap bisa kita implementasikan,” ungkapnya.
Mengawali kegiatan tersebut, Dr Edy Hartulistiyoso, Kepala Divisi Teknik Energi Terbarukan Departemen TMB IPB University memberikan keynote speech terkait potensi dan pengembangan biomassa alga untuk mikroenergi bioenergi. Menurutnya, target pemerintah dalam mengeksplorasi potensi biomassa alga mesti terus didorong.
“Kandungan karbohidrat dalam alga cukup tinggi sehingga mudah diubah menjadi bioethanol. Atau menjadi bahan bakar lain seperti butanol. Kelebihan utama alga yakni tingkat pertumbuhannya sangat cepat dan menyerap karbon dioksida. Dalam pembudidayaannya juga tidak memerlukan área yang luas, bahkan bisa dibuat rak budidaya vertikal,” jelasnya.
Ia menambahkan, alga ini diyakini sebagai bahan baku bioenergi yang ramah lingkungan. Alga juga menjadi generasi ketiga untuk energi. “Ini karena banyak dari alga yang non pangan, walau ada sebagian alga yang dimanfaatkan untuk pangan seperti spirulina,” jelasnya.
Menurutnya, baru sekitar 35.000 spesies alga yang teridentifikasi dari ratusan ribu jenis alga. Sehingga riset dan pengembangannya masih terbuka luas.
Ia menambahkan, dibandingkan dengan jagung atau tebu untuk produksi bioetanol, produktivitas dari mikroalga sebesar 20.000 liter per hektar. Delapan kali lipat dari produktivitas jagung dan tiga kali lipat dari tebu pada luasan yang sama.
“Jadi potensi ini mestinya membuat kita terbuka untuk kemudian mengeksplor lebih lanjut alga di wilayah kita untuk mendukung program pemerintah,” tambahnya.
Dengan potensi ini, lanjutnya, memungkinkan Indonesia untul membangun industri energi berbasis alga. Kemungkinannya, tidak sampai sepuluh tahun impian tersebut dapat tercapai. Ini bila berkaca dari perusahaan swasta Algaenergy sebagai pelopor industri bahan bakar berbasis alga.
“Tantangan riset untuk alga sangat luas. Mulai dari área penelitian dari laboratorium, fotobioreaktor, hingga biomassa, memerlukan fasilitas dan infrastruktur yang terintegrasi. Teknologi biokonversi hingga skala industri juga membutuhkan optimalisasi untuk memaksimalkan potensi alga,” ujarnya.
Sumber: ipb.ac.id














