• Minggu, 4 Oktober 2026
Berita Terbaru

Luke Thomas Ditunjuk Jadi Bos DSI untuk Ekspor Batu Bara & Sawit

Jakarta, SAWIT INDONESIA - CEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Rosan Roeslani menunjuk eks petinggi PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) Luke Thomas Mahony untuk memimpin PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) yang mengelola ekspor komoditas strategis nasional mulai dari batu bara hingga sawit.

Penunjukan Luke Mahony menarik perhatian lantaran Danantara memilih eksekutif asing dengan rekam jejak panjang di industri tambang global untuk memimpin entitas yang akan mengurusi tata kelola ekspor sumber daya alam Indonesia.

Rosan menyebut Danantara mengutamakan figur yang memiliki kemampuan terbaik dan memahami industrinya secara mendalam.

“Semua yang terbaik di industrinya. Memahami di industrinya. [WNA] terbuka kita,” ujar Rosan selepas rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Kamis (21/5/2026).

Nama Luke Thomas Mahony tercantum dalam dokumen Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (AHU) Kementerian Hukum sebagai direktur PT Danantara Sumberdaya Indonesia.

Sementara itu, Komisaris dijabat oleh Harold Jonathan Dharma TJ yang pernah menjabat sebagai direktur PT Mandiri Sekuritas.

Berdasarkan akta pendirian, perusahaan itu berkedudukan di Wisma Danantara Indonesia, Jalan Jenderal Gatot Subroto Kavling 36-38, Jakarta Selatan. Akta pendirian diteken pada 18 Mei 2026 oleh notaris Jose Dima Satria.

Dokumen AHU juga menunjukkan bahwa mayoritas saham perseroan dimiliki PT Danantara Investment Management dengan kepemilikan 99 lembar saham Seri A senilai Rp24,75 juta. Sementara itu, satu lembar saham Seri B dimiliki PT Danantara Mitra Sinergi.

Profil dan Jejak Karir Luke Thomas Mahony

Sebelum bergabung dengan Danantara, Luke Thomas Mahony diketahui sempat menduduki posisi strategis di Vale Indonesia serta grup tambang global Vale dan BHP Billiton.

Dia tercatat mengundurkan diri dari jabatan Direktur dan Chief Strategy and Technical Officer Vale Indonesia pada 25 Juli 2025.

Pengunduran diri tersebut kemudian disetujui melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) perseroan pada September 2025. Posisinya digantikan Slamet Sugiharto.

Pria berkewarganegaraan Australia yang berdomisili di Jakarta itu juga tercatat memiliki latar belakang akademik yang kuat di bidang teknik pertambangan dan keuangan.

Berdasarkan profil profesionalnya, Thomas menempuh seluruh pendidikan tingginya di University of New South Wales atau UNSW, Australia. Dia meraih gelar sarjana Teknik Pertambangan pada 2002.

Setelah itu, Thomas melanjutkan tiga program magister di kampus yang sama, masing-masing pada bidang Keuangan pada 2004, Teknik Pertambangan pada 2006, serta Geomekanika pada 2009.

Karier profesional Thomas dimulai sebagai Shift Engineer di Baulderstone Hornibrook pada 2003–2004. Selepas itu, dia bergabung dengan Xstrata Coal sebagai Business Development Analyst sekaligus Mining Engineer pada April 2004 hingga Juni 2005.

Kariernya kemudian berkembang di BHP Billiton. Di perusahaan tambang multinasional tersebut, Thomas menempati sejumlah posisi teknis dan strategis, mulai dari Geotechnical/Mining Engineer, Longwall Projects Coordinator, Superintendent Prestrip, hingga Principal Business Analyst dan Manager Reporting.

Dia juga sempat menjabat Manager Production Projects serta Manager Production Prestrip sebelum akhirnya bergabung dengan Vale pada 2014.

Di Vale, Thomas menempati sejumlah posisi global yang berkaitan dengan pengembangan sumber daya tambang, teknologi, inovasi, hingga rekayasa geoteknik. Dia pernah menjabat General Manager Resource Development & Long Term Planning, Technical Executive – Global Coal Business, hingga Global Head of Geology, Mine Engineering, Geotechnical, Tailings Dams and Technology.

Thomas juga sempat dipercaya sebagai Global Head of Technology & Innovation Vale sebelum menjadi Chief Technical Officer dan kemudian Director–Technical di Vale Base Metals. Pengalamannya di sektor hilirisasi dan pengembangan teknologi tambang kemudian membawanya ke Indonesia.

Pada Juli 2024, Thomas bergabung dengan Vale Indonesia sebagai Chief Strategy and Technical Officer. Namun, masa jabatannya di emiten berkode saham INCO tersebut relatif singkat sebelum akhirnya mengundurkan diri pada pertengahan 2025.

Selepas dari Vale Indonesia, dia bergabung dengan Danantara Indonesia dan menjabat sebagai Senior Executive Vice President (SEVP) Business Performance & Optimization sejak September 2025.

Sumber: ekonomi.bisnis.com

Artikel Terkait