• Rabu, 7 Oktober 2026
Berita Terbaru

Limbah Pelepah Sawit Sumut Tembus Pasar China hingga Pakistan, Ini Rahasia UMKM Cuan Ekspor Lidi!

MEDAN, SAWIT INDONESIA — Siapa sangka pelepah sawit yang kerap dianggap limbah di area perkebunan kini justru menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi. Di tangan pelaku UMKM asal Sumatera Utara, lidi sawit berhasil menembus pasar internasional, mulai dari China, India, hingga Pakistan.

Kisah sukses ini dibagikan oleh CEO dan Founder PT Arra Setya Abadi, Ilham Setiadi, dalam Webseries Go Ekspor Barantin #10 bertajuk "Lidi Sumut Tembus Pasar Dunia" yang diselenggarakan Karantina Sumatera Utara.

Ilham mengungkapkan, pilihannya berfokus pada lidi sawit sejak 2023 didasari oleh ketersediaan bahan baku yang sangat melimpah di kawasan sentra sawit seperti Sumut, Aceh, dan Riau, serta proses produksi yang relatif lebih terjangkau bagi UMKM dibanding produk turunan kelapa lainnya.

Kunci Ekspor: Penjemuran dan Standardisasi Beda Negara

Meski terlihat sederhana, menyiapkan lidi untuk ekspor tidak bisa asal-asalan. Setelah diserut dari pelepah, lidi diikat dan dijemur selama dua hingga tiga hari di bawah sinar matahari langsung untuk memastikan tingkat kekeringan mencapai sekitar 90 persen.

Proses ini krusial mengingat perjalanan laut menuju China memakan waktu 1–2 minggu, sedangkan ke India dan Pakistan bisa mencapai 2–3 minggu bahkan satu bulan. Lidi yang lembap berisiko tinggi berjamur, menghitam, dan lapuk saat sampai di tujuan, yang berujung pada penalti atau potongan harga dari pembeli.

Selain tingkat kekeringan, setiap negara tujuan memiliki preferensi spesifikasi yang berbeda:

  • Pasar Pakistan: Menyukai lidi sawit reguler dengan panjang 110–120 cm, berwarna coklat kekuningan, serta bagian bonggol atau pangkal lidi yang masih dipertahankan.
  • Pasar China: Lebih menyukai lidi dengan panjang mulai dari 90 cm, warna cerah kuning kecoklatan, dengan potongan pangkal yang rata, rapi, atau kombinasi runcing-rata.

Setelah lolos sortir, lidi dipack secara padat menggunakan karung kapasitas 30–50 kg sebelum dikirim.

Didukung oleh kemudahan akses pelabuhan di Sumut serta pendampingan persyaratan dari Karantina Sumatera Utara, Ilham membuktikan bahwa peluang ekspor tidak hanya milik produk utama sawit, tetapi juga komoditas sampingan yang diolah dengan standardisasi pasar global.

Sumber: karantinaindonesia.go.id

Artikel Terkait