• Minggu, 4 Oktober 2026
Berita Terbaru

Laba Naik 28,5%, Astra Agro Ditopang Produksi dan Harga CPO

Jakarta, SAWIT INDONESIA – PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mencatat kinerja positif sepanjang 2025. Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp1,47 triliun atau tumbuh 28,5% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Kinerja tersebut ditopang peningkatan produksi dan penjualan, serta dukungan harga komoditas di pasar global. Sepanjang 2025, produksi crude palm oil (CPO) mencapai sekitar 1,24 juta ton atau naik 6% yoy. Sementara itu, produksi kernel meningkat 8% menjadi 252 ribu ton.

Sejalan dengan kenaikan produksi, volume penjualan CPO dan produk turunannya juga tumbuh 13% yoy menjadi sekitar 1,8 juta ton. Perseroan turut mencatat pendapatan sebesar Rp28,7 triliun, naik 31% dibandingkan tahun sebelumnya.

Presiden Direktur Astra Agro Lestari, Djap Tet Fa, mengatakan dinamika industri global masih memengaruhi kinerja perseroan, terutama melalui fluktuasi harga, nilai tukar, hingga kondisi geopolitik.

“Pergerakan harga CPO, kita bisa melihat bahwa Perseroan menghadapi berbagai tantangan struktural dan dinamika ekonomi yang mempengaruhi industri kelapa sawit,” ujarnya di Menara Astra, Jakarta Pusat (15 April 2026).

Meski demikian, harga CPO global justru menunjukkan tren peningkatan sepanjang 2025. Harga CPO Rotterdam tercatat naik dari US.084 per ton pada 2024 menjadi US.222 per ton pada 2025. Djap menilai kuatnya permintaan global, termasuk dari implementasi kebijakan biodiesel di dalam negeri, turut menopang harga.

“Faktor suplai dan demand global menjadikan katalis utama yang mendorong harga dan produksi minyak kelapa sawit dalam beberapa tahun terakhir,” katanya. “Harga beranjak naik seiring kuatnya permintaan global, termasuk dorongan kebijakan mandatori biodiesel di Indonesia yang turut menopang harga domestik,” lanjutnya.

Dari sisi operasional, Astra Agro mengelola total lahan perkebunan seluas 280.325 hektare yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Sekitar 74% merupakan kebun inti seluas 208.063 hektare, sedangkan 26% merupakan kebun plasma seluas 72.262 hektare.

Perseroan juga mengoperasikan 32 pabrik kelapa sawit dengan kapasitas total 1.655 ton tandan buah segar (TBS) per jam, serta dua pabrik pengolahan dengan kapasitas 3.000 ton CPO per hari.

Untuk menjaga keberlanjutan produksi, perusahaan mempercepat program peremajaan (replanting). Dalam dua tahun terakhir, realisasi replanting meningkat dari sekitar 4.000 hektare menjadi 5.000 hektare per tahun. Pada 2026, perseroan menargetkan minimal 6.000 hektare dengan potensi mencapai 8.000 hektare.

“Untuk rencana replanting tahun ini, kita akan melakukan percepatan dengan minimum 6.000 hektare dan berambisi mencapai 8.000 hektare pada akhir 2026,” ujar Djap.

Selain itu, Astra Agro mengalokasikan belanja modal (capex) sebesar Rp1,4 triliun pada 2026, meningkat 79% dibandingkan realisasi 2025 sebesar Rp782 miliar. Dana tersebut digunakan untuk mendukung ekspansi dan efisiensi operasional.

Perseroan juga menetapkan pembagian dividen sebesar Rp458 per saham atau setara Rp881,5 miliar dari laba bersih tahun buku 2025. Sebelumnya, dividen interim sebesar Rp123 per saham telah dibayarkan pada Oktober 2025, sedangkan sisa Rp335 per saham akan dibagikan pada 13 Mei 2026.

Direktur Astra Agro Lestari, Tinning Sukowignjo, menegaskan peningkatan produksi menjadi salah satu faktor utama yang menopang kinerja perseroan.

“Perseroan membukukan kenaikan produksi CPO sebesar 6 persen year on year menjadi 1,24 juta ton dan produksi kernel 8 persen year-on-year menjadi 252 ribu ton pada tahun 2025,” ujarnya.

Artikel Terkait