• Kamis, 24 September 2026
Berita Terbaru

Kunjungan Lapangan Perkuat Pemahaman Teori Panen dan Pascapanen Sawit

Palembang, SAWIT INDONESIA – Orientasi lapangan atau studi banding menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran petani sawit dalam kegiatan pelatihan. Sebab, memberikan kesempatan bagi peserta untuk membuktikan dan memahami secara langsung materi yang sebelumnya diperoleh di ruang kelas. Melalui pengamatan langsung di kebun, misalnya peserta dapat melihat penerapan teori panen dan pascapanen kelapa sawit dalam praktik sehari-hari.

Hal tersebut terlihat dalam kegiatan kunjungan lapangan yang diikuti 122 peserta Pelatihan Petani Sawit Kelas Panen dan Pascapanen asal Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Kegiatan yang merupakan bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 ini diselenggarakan oleh Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian dan pendanaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).

Praktisi kebun dari AKPY, Iswandi Ilyas, menegaskan bahwa pembelajaran tidak cukup hanya dilakukan melalui teori di kelas. Maka perlu ada kunjungan lapangan sebagai sarana untuk memastikan peserta memahami bagaimana standar dan praktik terbaik diterapkan di kebun.

“Peserta tidak hanya memperoleh teori di ruang kelas, tetapi juga perlu melihat secara langsung penerapan praktik terbaik di lapangan, khususnya terkait panen dan pascapanen kelapa sawit. Kegiatan di lapangan ini menjadi pembuktian dari materi yang telah diberikan di kelas,” kata Iswandi saat memberikan sambutan pada kunjungan lapangan ke kebun PT Duta Reka Mandiri (DRM), Kamis (11/6/2026).

Dalam kegiatan tersebut, peserta mengamati berbagai aspek teknis yang sebelumnya telah dipelajari, mulai dari kriteria kematangan tandan buah segar (TBS), teknik panen yang benar, taksasi produksi, hingga pengelolaan panen untuk menjaga kualitas hasil dan produktivitas kebun.

Menurut Iswandi, pengalaman melihat langsung proses di lapangan akan membantu peserta memahami detail teknis yang sering kali sulit dipahami hanya melalui teori. Terlebih, lokasi kunjungan berada pada areal tanaman menghasilkan (TM) yang sesuai dengan materi pelatihan.

Ia juga mendorong peserta untuk aktif bertanya dan berdiskusi dengan pengelola kebun maupun narasumber agar memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif.

“Kita harus memposisikan diri sebagai gelas kosong agar selalu bisa menerima pengetahuan baru. Dengan begitu, apa yang dilihat dan dipelajari hari ini dapat menjadi bekal untuk diterapkan dan dikembangkan di kebun masing-masing,” ujarnya.

Senada dengan itu, Kepala Kebun PT Duta Reka Mandiri (DRM), Trio Haryono, menilai kunjungan lapangan merupakan sarana efektif untuk melengkapi materi yang telah diberikan selama pelatihan. Melalui studi banding dan interaksi langsung dengan pengelola kebun, peserta dapat memperoleh pengalaman praktis yang relevan dengan kondisi di lapangan.

“Panen merupakan ujung tombak dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil produksi. Demikian pula penanganan pascapanen yang baik akan menjaga mutu hasil panen sehingga memiliki nilai jual yang lebih tinggi,” kata Trio.

Ia menambahkan bahwa peningkatan kompetensi sumber daya manusia menjadi faktor penting dalam mewujudkan perkebunan sawit yang produktif, efisien, dan berkelanjutan. Karena itu, kegiatan yang mengombinasikan teori dan praktik lapangan dinilai sangat penting bagi petani.

Menurut Trio, studi lapangan memberikan kesempatan bagi peserta untuk melihat secara langsung berbagai praktik pengelolaan perkebunan yang dapat diterapkan di kebun masing-masing. Pengalaman tersebut diharapkan mampu mempercepat proses adopsi teknologi dan teknik budidaya yang lebih baik.

Kunjungan lapangan di PT Duta Reka Mandiri menjadi salah satu rangkaian Pelatihan Petani Sawit kelas Panen dan Pascapanen yang bertujuan meningkatkan kapasitas petani melalui pendekatan pembelajaran teori dan praktik. Dengan metode tersebut, peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu menerapkannya secara nyata guna meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil kebun rakyat.

Melalui kombinasi pembelajaran di kelas dan pengalaman langsung di lapangan, pelatihan ini diharapkan mampu menghasilkan petani sawit yang lebih kompeten, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta mampu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan usaha perkebunan mereka.

Artikel Terkait