UNGARAN, SAWIT INDONESIA — Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY-STIPER) resmi membuka perkuliahan Tahun Akademik 2026/2027. Pembukaan kuliah ditandai dengan penyerahan laptop kepada mahasiswa sebagai perangkat pendukung proses pembelajaran.
Kegiatan tersebut berlangsung bertepatan dengan rangkaian Pembinaan Mental, Fisik, Disiplin, dan Kebun (Bintalfisdisbun) di SEAT (KP2 STIPER), Ungaran, Jawa Tengah, Rabu (7 Oktober 2026).
Pembukaan kuliah dan Bintalfisdisbun turut dihadiri sejumlah stakeholders industri sawit, mulai dari perwakilan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Mula Putera, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Sudi Bawa Sutawa, serta perwakilan 16 perusahaan sawit yang menjadi mitra strategis AKPY-STIPER.
Hadir pula Ketua YPKPY yang menaungi AKPY-STIPER, Dr. Ir. Purwadi, MS, bersama tamu undangan lainnya.
Kehadiran para stakeholders tersebut memperlihatkan eratnya hubungan antara pendidikan vokasi, pemerintah, lembaga pendanaan perkebunan dan dunia industri dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) perkebunan kelapa sawit.
Direktur AKPY-STIPER, Dr. Sri Gunawan, S.P., M.P., mengatakan pembukaan perkuliahan menjadi awal bagi mahasiswa untuk menjalani pendidikan vokasi yang tidak hanya menekankan penguasaan teori, tetapi juga keterampilan, kedisiplinan, serta kesiapan menghadapi dunia kerja perkebunan.
Menurut Sri Gunawan, karakter industri perkebunan membutuhkan SDM yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Karena itu, mahasiswa perlu dibekali perangkat yang mendukung proses belajar sejak awal perkuliahan.
Penyerahan laptop kepada mahasiswa merupakan bagian dari dukungan program pengembangan SDM perkebunan yang dilaksanakan melalui kerja sama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dengan AKPY-STIPER.
Penyerahan laptop tersebut juga menjadi bagian dari upaya AKPY-STIPER mendukung pembelajaran yang semakin berbasis teknologi dan digital. Laptop diharapkan tidak hanya digunakan untuk mengerjakan tugas perkuliahan, tetapi juga membantu mahasiswa mengakses bahan ajar, mengolah data, membuat laporan, hingga mempelajari berbagai aplikasi yang berkaitan dengan pengelolaan perkebunan.
“Laptop ini bukan sekadar fasilitas, tetapi harus dimanfaatkan sebagai alat belajar. Mahasiswa harus mampu menggunakan teknologi untuk meningkatkan kompetensi dan mempersiapkan diri menghadapi kebutuhan industri perkebunan yang terus berkembang,” ujar Sri Gunawan.
Ia menekankan, perkembangan teknologi telah mengubah cara pengelolaan perkebunan. Pengambilan keputusan di kebun semakin membutuhkan data, mulai dari pencatatan produksi, pemupukan, kegiatan panen, pengawasan tenaga kerja hingga administrasi dan pelaporan.
Oleh sebab itu, kemampuan menggunakan teknologi digital menjadi kompetensi yang semakin penting bagi calon tenaga kerja perkebunan.
Pembukaan kuliah yang dilaksanakan bersamaan dengan Bintalfisdisbun juga memiliki makna tersendiri. Sebelum memasuki kegiatan akademik secara penuh, mahasiswa dibekali pembinaan mental, fisik, kedisiplinan dan pemahaman mengenai kehidupan kebun.
Bintalfisdisbun menjadi bagian dari proses pembentukan karakter mahasiswa agar memiliki kedisiplinan, tanggung jawab, daya tahan, kemampuan bekerja sama, serta kesiapan menghadapi lingkungan kerja perkebunan.
Sri Gunawan mengatakan pendidikan vokasi perkebunan tidak cukup apabila mahasiswa hanya menguasai pengetahuan di ruang kelas. Mereka juga harus memahami budaya kerja, memiliki keterampilan lapangan dan mampu menyelesaikan persoalan yang ditemui di kebun.
Karena itu, proses pendidikan di AKPY-STIPER diarahkan untuk mempertemukan pembelajaran akademik, praktik lapangan, pembentukan karakter dan pemanfaatan teknologi. Keterlibatan industri juga menjadi bagian penting agar kompetensi mahasiswa tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
“Mahasiswa harus mempersiapkan diri sejak hari pertama kuliah. Targetnya bukan hanya lulus dan memperoleh ijazah, tetapi memiliki kompetensi, karakter dan kesiapan kerja yang dibutuhkan industri,” katanya.
Melalui pembukaan perkuliahan Tahun Akademik 2026/2027 ini, AKPY-STIPER berharap mahasiswa dapat memanfaatkan seluruh proses pendidikan sebagai bekal membangun karier di sektor perkebunan.
Penyerahan laptop pada awal perkuliahan sekaligus membawa pesan bahwa SDM perkebunan masa depan tidak cukup hanya kuat di lapangan, tetapi juga harus melek teknologi, mampu mengolah informasi dan siap mengikuti transformasi digital di industri perkebunan.














