Realisasi peremajaan kebun kelapa sawit dilakukan secara bertahap sejak 2018, dan di tahun ini masuk tahap akhir peremajaan kebun sawit yang dikelola KUD Karya Tani
Koperasi Unit Desa (KUD) Karya Tani merupakan salah satu kelembagaan petani sawit yang berhasil mengikuti program peremajaan sawit rakyat (PSR) yang diinisiasi pemerintah. Kelembagaan petani sawit ini telah mengikuti program PSR sejak 2017 lalu, dengan pelaksanaan secara bertahap yang direalisasikan di lahan seluas 1.018 ha.
Realisasi peremajaan tanaman kelapa sawit dimulai sejak 2018,yang dilakukan secara bertahap, tahap 1 dengan luas 69.1814 Ha dikerjakan mulai November 2018, tahap 2 dengan luas 162.7548 ha dikerjakan mulai Mei 2019, tahap 3 dengan luas 204.5993 ha dikerjakan mulai Desember 2019, tahap 4 dengan luas 241.8774 Ha dikerjakan mulai Oktober 2020, tahap 5 dengan luas 143.0381 ha dikerjakan mulai September 2021, dan tahap 6 (tahap terakhir) dengan luas 188.0174 ha dikerjakan mulai April 2024.
Ketua KUD Karya Tani, Simpei, S.Pd, menjelaskan pihaknya telah meremajakan kebun yang dikelola koperasi sejak 2018 lalu. Pelaksanaanya dilakukan secara bertahap, tahap terakhir di tahun ini.
“Melalui program PSR, kami ingin turut menyukseskan program pemerintah dalam rangka meningkatkan produksi dan produktivitas sawit nasional. Untuk itu, sejak awal program PSR diluncurkan, kami bersama pengurus dan anggota sepakat untuk meremajakan kebun sawit yang dikelola koperasi,” ujarnya, saat dihubungi melalui sambungan telepon, beberapa waktu lalu.
“Kami menyadari tanaman kelapa sawit yang ditaman sejak 1996 telah memasuki tahap peremajaan. Maka dengan adanya program PSR, seolah gayung bersambut untuk melanjutkan siklus berikutnya dengan meremajakan kebun,” tambah Simpei.
Sebagai informasi, KUD Karya Tani ini beralamat di Desa Pandu Senjaya, Kecamatan Pangkalan Lada, Kabupaten Kotawaringin Barat - Kalimantan Tengah. Kelembagaan petani sawit ini merupakan eks plasma dari dari perusahaan perkebunan.
Awal pembangunan kebun pada 1996, namun sejak 2010 pengelolaan diserahkan sepenuhnya kepada koperasi (KUD Karya Tani). Di saat itulah, pengurus dan anggota menyepakati agar tetap bertahan untuk mengelola kebun secara swadaya, hanya mendapat pendampingan dari pihak perusahaan.
Hingga akhirnya dapat membuktikan dapat mengelola kebun sawit secara swadaya. Bahkan, sejak 2010 sudah mulai menyisihkan pendapatan dari hasil penjualan Tanda Buah Segar (TBS) untuk persiapan peremajaan (replanting).
“Jauh sebelum ada program PSR dari pemerintah, kami sudah merencanakan dan menyisihkan pendapatan (Sisa Hasil Penjualan/SHP) untuk peremajaan kebun anggota. Kami menyadari untuk peremajaan kebun sawit membutuhkan dana yang tidak sedikit,” jelas Simpei.
“Maka, kami sepakat bersama dengan anggota menyisihkan pendapatan untuk biaya peremajaan. Dari 2010 hingga 2017, menyisihkan Rp300 ribu/kavling/bulan, terkumpul Rp9 miliar,” imbuhnya.
Untuk diketahui, melalui program PSR para pekebun yang akan meremajakan mendapatkan dana hibah dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) sebesar Rp25 juta/ha, dan meningkat menjadi Rp30 juta/ha (sesuai dengan syarat dan ketentuan).
Dikatakan Simpei, pihaknya bersyukur dengan adanya program PSR, sehingga mendapatkan tambahan dana untuk peremajaan kebun kelapa sawit. Dengan dana yang terkumpul dari SHP, sehingga tidak membutuhkan dan mencari dana tambahan dari pihak ketiga (Lembaga pembiayaan).
“Jadi, bisa dikatakan, untuk peremajaan kebun anggota tidak ada tambahan dana dari pihak ketiga alias Rp0,-. Sebab, sudah mempersiapkan dana sendiri,” ungkap Simpei.
“Sesuai dengan Rencana Anggaran Belanja (RAB) peremajaan kebun kelapa sawit membutuhkan dana Rp53 juta/ha. Tetapi, dengan dana simpanan dari SHP yang kami miliki (Rp9 miliar), kami bisa untuk perawatan hingga tahap Tanaman Menghasilkan (TM 1),” sambungnya.
Tanaman kelapa sawit bagi masyarakat di Kecamatan Pangkalan Lada Kabupaten Kotawaringin Barat - Kalimantan Tengah, sudah menjadi tanaman yang menopang perekonomian. Tak terkecuali bagi pekebun yang tergabung di KUD Karya Tani, yang sejak 1996 membangun dan mengelola kebun kelapa sawit.
Dampak positif
Hingga saat ini masih konsentrasi dalam mengelolanya dan mendapatkan manfaat dari sisi ekonomi dan menigkatkan status sosial.
Diungkapkan Simpei, pihaknya bersama pengurus dan anggota merasaakan dampak positif dari tanamanan kelapa sawit. Meskipun belum dalam hal pengelolaannya belum sempurna, kami berusaha untuk mengelola dengan baik sesuai dengan standar agar hasilnya bisa optimal.
“Kemudian jika bicara manfaat yang didapat selama budidaya tanaman kelapa sawit yang pasti sangat membantu dalam hal perekonomian keluarga. Sebab, dari hasilnya (TBS) bisa menambah penghasilan. Itu yang kami rasakan bersama dengan anggota yang ada di KUD Karya Tani,” ungkapnya.
“Bahkan, bisa disebut anak-anak dari anggota KUD Karya Tani hampir tidak ada yang putus sekolah. Meski tidak ada data yang pasti, tetapi bisa dipastikan anak-anak dari anggota minimal sekolah hingga tingkat SMA dan tidak sedikit yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Yang pasti dari hasil budidaya kelapa sawit sangat terbantu perekonomiannya dan secara tidak langsung meningkatkan status sosial. Sebab, kita sendiri yang mengelola kebun sawit bersama anggota jadi tahu persis kondisi kebun dan hasilnya,” tambah pria yang masih dipercaya sebagai Ketua KUD Karya Tani.
Saat ini, ada 1.118 orang (pekebun) yang menjadi anggota KUD Karya Tani, dan sudah merasakan dampak positif dari tanaman kelapa sawit yang dikelolanya. Baik dari sisi ekonomi maupun kehidupan sosial (meningkatkan status sosial).
Pada kesempatan berbeda, Margianto salah satu pekebun kelapa sawit dan kini menjabat sebagai Sekretaris KUD Karya Tani mengatakan pihaknya telah budidaya kelapa sawit setelah resign dari perusahaan perkebunan.
“Kami melihat prospek budidaya tanaman kelapa sawit cukup baik. Maka setelah resign, kami memutuskan untuk fokus mengelola kebun kelapa sawit bersama anggota KUD Karya Tani,” katanya, saat ditemui di Palangka Raya, beberapa waktu lalu.
“Secara pribadi manfaat yang kami terima dari budidaya tanaman kelapa sawit cukup banyak. Terutama dalam hal keuangan untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Bisa dibayangkan kalau tidak mengelola kebun sawit mungkin keuangan (ekonomi) keluarga bisa tidak stabil dan kemungkinan tidak bisa membekali pendidikan anak hingga perguruan tinggi,” sambut pria kelahiran Jawa.
Lebih lanjut, Margianto mengatakan dengan adanya kelapa sawit yang dibudidaya dengan baik. “Kami bersama anggota KUD Karya Tani bisa merasakan (dampak) ekonomi dari hasil kebun kelapa sawit. Selain dari sisi ekonominya meningkat maka status sosial juga mengikuti,” lanjutnya.
Dalam rentang satu tahun tanaman kelapa sawit akan menghadapi siklus musim trek. Musim trek adalah siklus yang pasti dialami tanaman kelapa sawit setiap tahun. Saat trek, produksi buah jauh berkurang. Akibatnya pendapatan petani juga berkurang.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, kelembagaan petani (KUD Karya Tani) memiliki strategi. Upaya ini dilakukan untuk menjaga pendapatan sehingga tidak mengalami penurunan produksi yang berdampak pada pendapatan anggota.
“Dalam satu tahun tanaman kelapa sawit akan mengalami musim trek. Selain itu, ada tantangan lain yaitu El Nino yang berdampak pada penurunan produksi (hasil panen),” kata Margianto yang karib disapa Margi.
Sepertitahun lalu, kata Margi, musim trek terjadi cukup lama. Untuk saat ini, terutama di Kalimantan Tengah musimnya kebalikannya dari tahun lalu tetapi dampak dari El Nino tahun lalu masih terasa hingga sekarang. “Dampak yang dirasakan dari sisi produksi mengalami penurunan yang cukup drastis. Yang biasanya panen (produksi) bisa mencapai 2 ton/ha, menjadi 300-600kg/ha,” jelasnya.
“Namun, karena kami bersama anggota melakukan perawatan sesuai standar maka jika tidak pada musim trek produksinya stabil 1-2 ton/ha. Yang jelas, dampak El Nino pasti dirasakan semua pekebun sawit, tak terkecuali anggota KUD Karya Tani,” tambah Margi.
(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 152)














