• Kamis, 8 Oktober 2026
Berita Terbaru

Kualitas TBS Tentukan Harga, Pekebun Bengkulu Diminta Benahi Budidaya hingga Panen

Bengkulu, SAWIT INDONESIA – Kualitas tandan buah segar (TBS) bukan sekadar persoalan produksi, tetapi juga menentukan harga yang diterima pekebun. Di Bengkulu, kualitas TBS yang dinilai belum optimal disebut menjadi salah satu penyebab harga masih lebih rendah dibandingkan provinsi tetangga.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Provinsi Bengkulu, Hj. Sri Herlin Despita, S.Pt., M.P., mengatakan kondisi tersebut perlu dijawab dengan memperbaiki pengelolaan kebun sejak budidaya hingga panen.

“Masih banyak permasalahan di lapangan. Harga TBS kita lebih rendah dari provinsi tetangga karena diklaim perusahaan pembeli bahwa kualitas kita belum sebagus di provinsi tetangga,” ujar Sri Herlin saat membuka Pelatihan Teknis Budidaya serta Teknis Panen dan Pascapanen Kelapa Sawit dalam Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 di Bengkulu, Jumat (28 Agustus 2026).

Pelatihan tersebut digelar Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun). Kegiatan berlangsung 27 Agustus–1 September 2026 dan diikuti 156 pekebun dari Mukomuko dan Bengkulu Utara.

Menurut Sri Herlin, kualitas TBS tidak ditentukan hanya ketika buah dipanen. Pemeliharaan tanaman, penentuan tingkat kematangan, teknik panen, hingga penanganan TBS setelah dipanen saling berkaitan.

“Dengan tujuan menghasilkan TBS yang memiliki kualitas baik akan memperoleh harga yang baik pula,” katanya.

Sebab itu, pekebun perlu memahami tata kelola kebun secara menyeluruh. Budidaya yang tepat ditujukan untuk menghasilkan tanaman produktif, sedangkan teknik panen yang benar membantu mempertahankan kualitas TBS.

Pengalaman Pekebun Diperkuat Data dan Teori

Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi, menekankan bahwa pengalaman merupakan modal penting bagi pekebun. Namun, pengalaman tersebut perlu dipadukan dengan data, teori, dan praktik teknis agar keputusan di lapangan semakin tepat.

“Bukan berarti kami lebih baik. Bapak Ibu semua ini pengalamannya juga lebih banyak. Nanti ditambah dengan data, dengan teori, insyaallah akan menjadi semakin lebih baik dan semakin berkembang,” ujar Idum, Jumat (27/8/2026).

Menurutnya, pelatihan SDMP bukan untuk menggantikan pengalaman yang telah dimiliki pekebun, tetapi menambah bekal dalam mengambil keputusan. Perpaduan pengalaman dan pengetahuan tersebut diharapkan dapat memperbaiki pengelolaan kebun, meningkatkan produksi, serta membuka peluang keuntungan yang lebih besar.

Penguatan kompetensi dilakukan melalui tiga kelompok pelatihan. Sebanyak 47 peserta dari Mukomuko mengikuti Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit, 29 peserta Mukomuko mengikuti Pelatihan Teknis Panen dan Pascapanen Kelapa Sawit, serta 80 peserta dari Bengkulu Utara mengikuti Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit.

Total 156 pekebun tersebut mendapat pembekalan untuk meningkatkan kemampuan pengelolaan kebun, khususnya pada aspek budidaya, panen, dan pascapanen.

Sri Herlin berharap pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti selama pelatihan, tetapi diterapkan setelah peserta kembali ke kebun dan dibagikan kepada pekebun lainnya.

“Kami harap 156 orang ini dapat kembali dari pelatihan dan menerapkan ilmu yang diperoleh di daerah masing-masing,” ujarnya.

Ia juga meminta peserta mengikuti pelatihan secara maksimal karena peningkatan kapasitas pekebun membutuhkan dukungan pembiayaan yang besar.

Benahi Budidaya, Jaga Mutu Saat Panen

Perbaikan tata kelola kebun menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas TBS. Budidaya yang baik akan mendukung produktivitas tanaman, sementara pemanenan sesuai kriteria kematangan dan penanganan yang tepat membantu menjaga mutu buah.

Pembelajaran dalam SDMP 2026 tidak hanya mengandalkan teori. Peserta juga mendapatkan praktik teknis dan pengalaman lapangan agar pengetahuan yang diperoleh dapat disesuaikan dengan kondisi kebun masing-masing.

Pendekatan tersebut diharapkan membuat pekebun lebih mampu mengenali persoalan kebun dan menentukan tindakan yang tepat berdasarkan data dan kondisi lapangan.

Sri Herlin menambahkan, perbaikan budidaya, panen, dan pascapanen juga penting dalam mendukung penerapan standar keberlanjutan, termasuk Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

Dukungan BPDP dan Ditjenbun, menurutnya, menjadi bagian penting dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia pekebun. Sementara AKPY menjalankan pelatihan untuk membekali peserta dengan kemampuan teknis yang dapat diterapkan di lapangan.

Dengan tata kelola kebun yang semakin baik, kualitas TBS diharapkan meningkat. Perbaikan tersebut pada akhirnya dapat memperkuat daya saing sawit rakyat Bengkulu dan membuka peluang bagi pekebun memperoleh harga serta pendapatan yang lebih baik.

Artikel Terkait