Pondok Pesantren Al Amin memiliki komitmen tinggi dalam memberdayakan ekonomi santri dan masyarakat sekitar, melalui kegiatan ekonomi.
Hal tersebut diwujudkannya melalui Badan Usaha (Koperasi) dengan berbagai kegiatan ekonomi yakni menciptakan dan mengembangkan produk-produk turunan Kelapa Sawit baik produk pangan (beragam keripik), non-pangan (skin care, aneka Sabun dari sawit), serta ragam kerajian dari limbah sawit seperti tas dan lainnya.
“Upaya yang selama ini kami lakukan dalam memaksimalkan potensi lokal (sawit) yang ada di Indonesia dan terkhusus di Riau. Akan terus dilakukan untuk memperluas kebaikan sawit, dari sisi hilisasi sawit, tidak hanya untuk masyarakat pesantren melainkan masyarakat di sekitar pesantren,” kata KH. W. Zainal Abidin, Pimpinan Pondok Pesantren Al Amin – Dumai, Riau.
Ini menjadi bukti Koperasi Pondok Pesantren (Kopotren) Al Amin berkomitmen memajukan potensi kearifan lokal sumber daya alam untuk memperkuat ekonomi pesantren berbasis syariah, dengan tujuan memperkuat ekonomi dengan jaringan pesantren.
Keberhasilan yang telah dilakukan Pondok Pesantren Al Amin melalui kelembagaan ekonomi (koperasi) ini pun dibagikan pada sesi Talkshow SIEXPO 2025.
KH. W. Zainal Abidin memaparkan strategi pemasaran inovatif untuk UKM Sawit dengan membangun daya saing dan citra positif. Mengapa kita (pelaku UKM sawit) harus berinovasi?
“Indonesia memiliki potensi besar sebagai produsen sawit terbesar di dunia, dan UKM sebagai pilar ekonomi di daerah. Namun, di sisi lain UKM sawit menghadapi tantangan pemasaran yang terbatas, akses modal dan pelatihan yang sulit, serta citra sawit yang seringkali negatif. Maka, membutuhkan strategi pemasaran yang inovatif, mudah diaplikasikan dan berkelanjutan untuk (bisa) naik kelas,” katanya.
“Lalu, dengan cara apa? Di era teknologi yang sedang berkambang, dapat memanfaatkan teknologi digital (digital marketing). Mulai dari yang kecil, buat akun, unggah foto produk dan ceritakan kisahnya. Selanjutnya, ubah sawit dari komoditas biasa menjadi karya inovatif. Pengembangan hilirisasi sederhana, fokus pada produk turunan sawit sesuai skala UKM. Lakukan riset pasar sederhana dengan bertanya langsung kepada konsumen di media sosial atau orang sekitar. Dan, berikutnya bangun kepercayaan dengan kualitas (legalitas, tunjukkan proses produksi dan edukasi Masyarakat) dan cerita positif maka konsumen akan datang dengan sendirinya,” imbuh Kyai Zainal menjelaskan.
Yang tak kalah penting, lanjutnya, kolaborasi atau bersinergi. Manfaatkan lembaga pendukung dinas terkait, termasuk BPDP untuk pelatihan, LPEI dan LPDB untuk pembiayaan, serta asosiasi atau komunitas UMKM untuk pendampingan.
“Serta, bangun kemitraan strategis, jalin kerja sama dengan lembaga riset, sesame UKM atau memanfaatkan modal sosial di komunitas untuk memperluas jaringan. Saatnya bertindak, jangan tinggal Allah, Bersyukur dan Iqra (membaca untuk merencanakan dan mengevaluasi),” ungkap pria yang menjabat Ketua Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren (Hebitren) Riau.
Mendapat dukungan dan apresiasi
Upaya yang telah dilakukan Koperasi Pondok Pesantren Al Amin dalam menjalankan usahanya mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Ini menunjukkan Pondok Pesantren selain berfungsi sebagai tempat pendidikan dan dakwah juga bergerak di bidang pemberdayaan ekonomi. Termasuk pemberdayaan di bidang pertanian dan perkebunan yang dikembangkan sejak awal berdiri.
Dalam menjalankan pemberdayaan ekonomi, pada 2008, dukungan datang dari dinas kabupaten maupun provinsi hingga support dari Kementerian Pertanian. Berkat inovasi menggerakkan pesantren di bidang pemberdayaan perekonomian, Ponpes Al Amin Dumai pernah menjadi harapan satu pada 2011 bidang kegiatan pengelolaan limbahnya sapi, menjadi UMKM terbaik Kota Dumai pada 2013, dan menjadi nomor satu se-Indonesia di dalam pemilihan pesantren business challenge dari Kementerian Agama pada 2018.
Penghargaan dan capaian yang diraih itu dampak dari gerakan yang dilakukan Ponpes Al Amin Dumai seperti kaderisasi atau pembekalan terhadap santri dan guru dengan ilmu pertanian sejak 2004. Pun sejak 2014, Ponpes ini juga mengajak pesantren lain. Sampai saat ini, tercatat 1627 santri dan guru dari pesantren se-Riau yang mendapatkan pembekalan dari Pesantren Al Amin Dumai.
Bahkan, dengan dukungan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dapat mengikuti kegiatan pameran di Belanda, pada 2024 lalu, untuk mempromosikan produk turunan dan kerajinan sawit seperti lidi sawit, makanan, batik sawit, aneka sabun dan kosmetik, tas, dan kerajinan tangan lainnya dari limbah sawit.
“Kami juga ada pesanan tas dari Lidi Sawit dari PCNU di Belanda, yang peruntukkannya untuk souvenir acara di Belanda pada akhir Oktober mendatang. Ini dapat meningkatkan nilai kearifan lokal dari sawit,” ucap KH. Zainal.
Pada 2025, Ponpes Al Amin Dumai mengajak sedikitnya sepuluh pesantren untuk berkolaborasi di bidang budidaya. Ponpes-ponpes tersebut berkumpul di Ponpes Al Amin Dumai pada 10-12 Januari lalu untuk mendapatkan pembekalan sekaligus penandatanganan komitmen bersama dengan Mutu Institute dari Jakarta.
(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah SAWIT INDONESIA, Edisi 167)














