Kementerian Pertanian mendorong setiap potensi lahan yang ada untuk dapat mendorong terwujudnya swasembada pangan nasional di masa mendatang. Upaya yang dilakukan salah satunya percepatan tanam melalui integrasi padi gogo di lahan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), Desa Cijaku Kecamatan Cijaku, Kabupaten Lebak, dengan total luasan 127 hektar, Sabtu (21 Desember 2024).
Program ini merupakan kolaborasi antara Direktorat Jenderal Perkebunan Kementan dengan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Banten.
Plt. DirekturJenderal Perkebunan, Heru Tri Widarto menyampaikan strategi tanam padi gogo disela tanaman sawit dapat memberikan hasil ganda sebagai upaya memenuhi kebutuhan pangan serta menambah pendapatan petani.
“Saya melihat di daerah Banten ini, sudah banyak pohon sawit yang memerlukan peremajaan, sehingga petani dapat segera mengajukan PSR. Selama adanya peremajaan kelapa sawit, pekebun dapat melaksanakan tumpang sisip padi gogo di sela tanaman kelapa sawit, yang tentunya akan memberikan hasil positif untuk memenuhi ketahanan pangan kedepan dan menambah pendapatan petani,” ujar Heru.
Lebih lanjut Heru menekankan, kebun kelapa sawit di daerah Banten memerlukan perhatian khusus agar lebih produktif dan diperhitungkan dengan baik dan cermat harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit untuk daerah Banten.
Jenis padi gogo yang ditanam menggunakan padi varietas Situ Bagendit dengan metode tumpang sisip. Metode tumpang sisip padi ini tidak hanya mendukung produksi pangan, tetapi juga menjadi sumber pendapatan tambahan bagi petani sambil menunggu tanaman sawit peremajaan berbuah sekitar dua setengah tahun lagi.
“Integrasi program PSR dengan tumpang sisip padi gogo bukan hanya soal peremajaan sawit, tetapi juga menciptakan solusi untuk ketahanan pangan. Pemerintah sedang mengupayakan agar PSR mendatang juga mencakup bantuan benih untuk tumpang sisip padi gogo,” ujar Heru Tri Widarto.
Secara nasional, program PSR tahun ini mencakup sekitar 50 ribu hektar lahan. Yang sudah melaksanakan tumpang sisip padi gogo sekitar 5 ribu hektar. Penetapan kenaikan bantuan PSR dari Rp 30 juta menjadi Rp 60 juta baru dilakukan September lalu.
Dalam program PSR, petani menerima bantuan penumbangan dan pembersihan tegakan, herbisida, benih, hingga pupuk, dengan nilai total mencapai Rp 60 juta per hektar.
Heru menjelaskan Integrasi padi gogo dengan PSR di Lebak ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan dapat berjalan seiring dengan pengelolaan perkebunan sawit yang berkelanjutan. Program ini menjadi model kolaborasi produktif antara pemerintah dan petani untuk meningkatkan kesejahteraan dan menjaga ketersediaan pangan.
Kepala Dinas Kabupaten Lebak, Rahmat, sangat menyambut program pemerintah, salah satunya peremajaan sawit rakyat dan tumpang sisip padi gogo di lahan sawit untuk memenuhi ketahanan pangan nasional terutama pada masyarakat Lebak, Banten.
Dihubungi terpisah, Ketua Koperasi Petani Sawit Liman Taka, Wawan, mengungkapkan lahan yang ditanami padi gogo dengan sistem tumpang sari seluas saat ini sudah mencapai 75 ha. Ini akan terus berkelanjutan untuk sisa lahan lainnya.
“Luasan lahan yang akan ditanami 127 ha, tapi yang ditanam saat ini 75 hektar karena pengolahan lahannya belum beres. Target selesai Februari 2025,” ujarnya saat dihubungi, Selasa (24 Desember 2024).
Ketua APKASINDO Banten itu mengapresiasi program bantuan dari Kementan tersebut. Hal ini, menurutnya akan memberi penghasilan selingan sambil menunggu sawit yang baru ditanam berproduksi kembali. Untuk diketahui, pohon sawit baru bisa dipanen pertama kali setelah berumur sekitar 3–4 tahun.
“Ini baru ada program kayak gini. Ini bagus, ada tambal sulam sebelum panen sawit,” ucapnya.
Dia mengatakan, produksi padi gogo sendiri diperkirakan bisa mencapai 3 ton per ha dengan waktu 4 bulan sekali panen.
“Harapannya kedepan bisa dibantu terus. Jadi sebelum PSR berhasil, mudah-mudahan bisa menghasilkan. Ini hasilnya 3 ton per hektar,” ujar pria yang akrab disapa Haji Wawan itu.
Dalam kegiatan tersebut, Rino Afrino, Sekjen DPP APKASINDO mengatakan dengan adanya PSR yang ditambah dengan tumpang sari sawit -padi (gogo) diharapkan bisa menambah ekonomi petani.
“Jadi disaat petani belum bisa melakukan panen terhadap TBS maka petani akan mendapatkan penghasilan dari tanaman sela yakni padi gogo. Selain itu dengan tanaman sela ini maka diharapkan bisa mewujudkan ketahanan pangan,” harap Rino Afrino.
Selain itu, Wakil Ketua APKASINDO Bidang II, M. Yunus juga berharap pemerintah bisa mengawal program tumpang sawit – padi (gogo) ini. Sebab pola budidaya tanaman perkebunan dalam hal ini sawit berbeda dengan pola tanaman pangan dalam hal ini padi gogo. Organisme pengganggu tanaman (OPT) nya pun berbeda antara sawit dengan padi.
“Jadi dengan pola budidaya yang berbeda diharapkan adannya PPL (Petugas Penyuluh Lapang) yang dapat mendampingi para petani sawit yang sedang menjalankan program PSR yang disispkan dengan program tumpang sari sawit – padi (gogo) ini. Sehingga saat melakukan budidaya sawit – padi (gogo) bisa berjalan maksimal. Padinya menghasilkan sawitnya pun dapat berproduksi,” ungkap Yunus. Yunus pun optimis, meskipun pola budidayanya berbeda tapi jika ada PPL maka petani sawit pasti bisa melakukan budidaya terhadap padi sembari menunggu tanaman sawitnya menghasilkan.














