Sambil tersenyum, Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Eddy Abdurrachman memamerkan sepatu biosneakers yang material sol karetnya dari limbah sawit. Inovasi terbaru ini dikembangkan oleh peneliti di Pusat Riset Agro Industri BRIN (Badan Riset Inovasi Nasional) yang pendanaannya didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).
“Biosneakers salah satu inovasi yang memenuhi persyaratan eco-friendly fashion footwear. Nanti bisa dilihat di Pekan Riset Sawit Indonesia pada 3-4 Oktober di Nusa Dua, Bali,” tambah Eddy ketika diwawancarai di ruangannya pada akhir September 2024.
Eddy Abdurrachman menjelaskan bahwa peneliti BRIN sudah melakukan pengembangan teknologi produksi nanopartikel silika bioorganik (nanobiosilika) dari abu boiler kelapa sawit. Selanjutnya hasil penelitian tersebut telah diaplikasikan sebagai komponen rubber foam dan solid soles pada sepatu biosneakers.
Pada 3-4 Oktober 2024, pria kelahiran Jakarta ini menjelaskan bahwa BPDPKS akan menyelenggarakan Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2024 yang menampilkan diseminasi hasil penelitian dan inovasi kepada pelaku industri termasuk UMKM dan Koperasi.
Eddy mengungkapkan PERISAI 2024 ini akan menghadirkan banyak industri besar lainnya bertaraf internasional diantaranya yang telah konfirmasi dari KLK Kepong dan Lipico. Selain itu Pekan Riset Sawit Indonesia tahun ini akan lebih spesial karena bersamaan juga dengan Final Lomba Riset Sawit Tingkat Mahasiswa, program riset BPDPKS berbentuk kompetisi yang ditujukan untuk mahasiswa.
“Kita harapkan bahwa penelitian-penelitian yang dilaksanakan dalam program Grant Riset Sawit maupun penelitian di tingkat mahasiswa akan mendorong lebih banyak peneliti di Indonesia untuk melakukan riset khususnya sawit supaya memberikan kontribusi positif bagi pembangunan Indonesia,” urainya.
Semenjak 2015 hingga tahun ini, BPDPKS telah menyalurkan total dana riset sebesar Rp675 Miliar.Selain itu, realisasi dukungan dana riset sebanyak 346 kontrak dengan 88 lembaga litbang. Terdapat 243 publikasi yang dilaporkan, 50 paten dan 7 buah buku.
Untuk mengetahui perkembangan dana riset sawit dan PERISAI 2024, berikut ini wawancara Tim Majalah Sawit Indonesia bersama Dirut BPDPKS Eddy Abdurrachmandi sela-sela kegiatannya:
Mohon dijelaskan program riset BPDPKS bagi peneliti dan mahasiswa?
BPDPKS melaksanakan program Grant Riset Sawit sejak tahun 2015. Program Penelitian dan Pengembangan Sawit merupakan salah satu upaya BPDPKS untuk mendorong penguatan, pengembangan dan peningkatan pemberdayaan perkebunan dan industri sawit yang saling bersinergi, demi terwujudnya industri sawit nasional yang tangguh dan berkelanjutan.
Terdapat 3 (tiga) kategori dalam program ini, yaitu 1) Grant Riset Sawit jalur seleksi, 2) Grant Riset Sawit jalur inisiatif dan 3) Lomba Riset Sawit tingkat Mahasiswa. Grant Riset Sawit diperuntukkan bagi Peneliti yang bernaung di bawah Lembaga Penelitian. Sementara Lomba Riset Sawit diperuntukkan bagi mahasiswa pada jenjang vokasi dan sarjana. Program pendanaan litbang sawit di BPDPKS merupakan salah satu pelopor mekanisme research funding yang mementingkan hasil riset yang dapat segera dimanfaatkan dibandingkan banyak program riset lain di pemerintahan yang lebih mengutamakan publikasi, maka dari itu tidak ada batasan jumlah pendanaan yang dapat diusulkan di program GRS BPDPKS. Sedangkan Lomba Riset Sawit Mahasiswa ditujukan untuk meningkatkan minat kemampuan, kreatifitas dan inovasi mahasiswa untuk dapat menerapkan, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan teknologi guna mewujudkan sawit Indonesia yang berkelanjutan dengan pendanaan riset maksimal Rp 20 juta.
(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 155)














