Yogyakarta, SAWIT INDONESIA – Isu rendahnya produktivitas sawit rakyat dibahas pada acara Konsolidasi dan Workshop Nasional yang diadakan Asosiasi Planters Muda Indonesia (APMI) bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), yang diadakan di AKPY ‘STIPER’, selama dua hari (23 – 24 April 2025), di Yogyakarta.
Dari pantauan sawitindonesia.com, acara ini diikuti sekitar 150 mahasiswa dari tiga perguruan tinggi yaitu Politeknik LPP Yogyakarta, AKPY ‘STIPER’ dan INSTIPER Yogykarta, dan lebih dari 300 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi penyelenggara Beasiswa Sawit yang turut hadir secara online.
Ketua Umum Asosiasi Planters Muda Indonesia (APMI), Muhammad Nur Fadillah mengatakan kegiatan ini untuk menyatukan gagasan dan pemikiran dari planters muda dalam mendukung petani sawit Indonesia meningkatkan produktivitas sawit rakyat.
“Ada tiga langkah strategis sebagai upaya kami dalam mendukung peningkatan produktivitas sawit rakyat. Pertama, kami akan rumuskan dan membaca situasi dan membaca kebijakan terkait dengan perkebunan rakyat. Kedua, kami akan merumuskan satu gerakan satu mahasiswa mendampingi satu petani untuk membantu permasalahan yang dihadapi petani. Sehingga akan tercipta kolaborasi antara petani dengan perguruan tinggi untuk memberikan solusi dari permasalahan yang dihadapi petani. Ketiga, kami usulkan memanfaatkan teknologi untuk membantu petani yang memungkinkan bisa diterapkan di perkebunan sawit rakyat untuk meningkatkan produktivitasnya,” ujarnya saat sambutan, pada Rabu (23 April 2025).
“Dari data yang kami himpun terkait produktivitas sawit rakyat, produktivitasnya 2 –3 ton CPO /ha/tahun, sementara produktivitas dari kebun perusahaan 5 – 6 ton CPO/ ha/tahun. Ini angka produktivitas yang rendah dan harus ditingkatkan. Sedangkan sebelum diolah, rata-rata produktivitasnya sawit rakyat 5 – 6 to TBS/ha/tahun, sementara produktivitas kebun perusahaan 12 – 13 ton TBS/ha/tahun,” ungkap Fadil.
Data di atas tidak jauh berbeda dengan data yang dicatat oleh Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI). Rata-rata produktivitas sawit rakyat masih rendah. Tantangan terbesar memang di perkebunan rakyat, rata-rata produktivitas sawitnya 2,5 ton CPO per hektar per tahun. Sedangkan produktivitas kebun swasta secara nasional 3,4 ton CPO per hektar per tahun dan perkebunan milik BUMN di angka 3,6 ton CPO per hektar per tahun, dikutip dari https://gapki.id/.
Hal yang sama terkait rendahnya produktivitas sawit rakyat juga disampaikan Ketua Dewan Penasehat APMI, Djono Albar Burhan. Bahwa tujuan utama dari acara tersebut adalah menyatukan persepsi anak-anak petani sawit yang tergabung di APMI agar bisa berkontribusi dalam peningkatan produktivitas sawit rakyat.
“Maka, kami melakukan konsolidasi agar opini dan persepsinya sama sehingga mudah untuk melakukan gerakan untuk mendukung peningkatan produktivitas sawit rakyat,” kata Djono.
Sementara pada kesempatan yang sama, Direktur Penyaluran Dana BPDP, Mohammad Alfansyah mengatakan anak-anak penerima Beasiswa Sawit yang saat ini menjalani perkuliahan jangan ragu bahwa sawit yang menjadi komoditas unggulan Indonesia masih memiliki prospek yang baik (dari sisi bisnis) dan menjadi pertaruhan bagi negara sehingga perlu dikelola secara berkelanjutan.
“Maka perlu dijaga konsistensi dan ditingkatkan produktivitasnya, terutama perkebunan sawit rakyat yang potensi untuk ditingkatkan masih bisa. Sebab, sawit bisa menopang dan menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat (petani sawit) dan negara. Tidak sedikit produk yang dihasilkan dari sawit dan menjadi pemasukan untuk negara,” ujarnya, saat ditemui usai pembukaan acara Konsolidasi dan Workshop Nasional APMI dengan tema ‘Menuju 1 Dekade: Sudahkah Akar Beasiswa Sawit Menancap Kuat di Tanah Perkebunan Rakyat?’.
“Untuk itu, kami harapkan dari kegiatan (Konsolidasi dan Workshop APMI) bisa muncul gagasan dari para mahasiswa penerima Beasiswa Sawit yang dapat mendukung peningkatan produktivitas sawit rakyat. Anak-anak muda biasanya dengan banyaknya referensi dan ilmu yang dipelajari terkait sawit, muncul ide dan gagasan baru sehingga bisa membantu para petani sawit dalam hal pengelolaan kebun sawit berkelanjutan dan meningkatkan produktivitasnya,” imbuh Alfansyah.














