Palembang, SAWIT INDONESIA – Penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu langkah strategis untuk mempercepat kemajuan perkebunan kelapa sawit rakyat. Melalui Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit Tahun 2026, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian dan IPB Training membekali 128 pekebun asal Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, dengan kemampuan teknis budidaya kelapa sawit berbasis praktik.
Pelatihan yang berlangsung pada 18 Juli–2 Agustus 2026 di hotel ternama di Palembang tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah memperkuat kemampuan pekebun agar mampu menerapkan teknik budidaya yang efektif, efisien, dan berkelanjutan. Kompetensi yang semakin baik diharapkan mampu mendongkrak produktivitas kebun rakyat sekaligus meningkatkan daya saing industri kelapa sawit Indonesia.
Sebanyak 128 peserta mengikuti pelatihan yang dibagi dalam empat angkatan, yakni Angkatan XVII, XVIII, XIX, dan XX. Pembukaan kegiatan dihadiri Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan Herlan Kagami, S.P., M.Si., Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Musi Rawas Kgs. M. Effendi Fery, S.STP., M.Si., Ketua Tim Bidang Kelembagaan dan Ketenagaan Pelatihan BPPSDMP Dr. M. Apuk Ismane, serta perwakilan Direktorat Jenderal Perkebunan.
Tim Trainer IPB Training, Prof. Haryadi, menegaskan bahwa peningkatan hasil produksi kebun rakyat harus dimulai dari peningkatan kualitas SDM pekebun. Menurutnya, keberhasilan usaha tani sawit tidak hanya ditentukan oleh luas lahan maupun ketersediaan sarana produksi, tetapi juga oleh kemampuan petani menerapkan teknik budidaya yang benar pada setiap tahapan.
"Investasi terbaik di sektor kelapa sawit adalah investasi pada manusianya. Ketika pekebun memahami cara budidaya yang benar dan mampu menerapkannya secara konsisten, produktivitas kebun akan meningkat tanpa harus membuka lahan baru," ujar Prof. Haryadi.
Ia menjelaskan, proses pembelajaran dirancang dengan memadukan teori di kelas, praktikum, dan kunjungan lapangan sehingga peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga memiliki pengalaman langsung dalam mengaplikasikan teknologi budidaya di kebun.
Materi yang diberikan mencakup regulasi perkebunan, penggunaan benih unggul dan bahan tanam bersertifikat, teknik pembibitan, persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan tanaman, pengendalian gulma, pemupukan, hingga pengendalian hama dan penyakit. Seluruh materi disusun secara bertahap agar peserta memahami siklus budidaya kelapa sawit secara komprehensif.
Selain pembelajaran di dalam kelas, peserta mengikuti berbagai sesi praktik, mulai dari teknik pemindahan bibit, pengujian pH tanah, pengajiran, kalibrasi alat semprot, penggunaan knapsack sprayer, hingga pengenalan karakteristik pupuk yang baik. Kegiatan tersebut memberikan bekal keterampilan yang dapat langsung diterapkan di kebun masing-masing.
Wawasan peserta semakin diperkaya melalui kunjungan lapang ke PT Dutareka Mandiri. Di lokasi tersebut, mereka mempelajari secara langsung pengelolaan kebun kelapa sawit dari pembibitan, tanaman belum menghasilkan (TBM), tanaman menghasilkan (TM), hingga proses sortasi tandan buah segar (TBS).
Peserta juga mempraktikkan berbagai pekerjaan teknis, seperti pengisian media tanam ke dalam polybag, kastrasi pada TBM, pengendalian gulma, pengoperasian traktor untuk pemeliharaan kebun, pruning tanaman menghasilkan, hingga sortasi TBS berdasarkan tingkat kematangan.
Menurut Prof. Haryadi, pendekatan pembelajaran berbasis praktik menjadi metode paling efektif untuk mempercepat penerapan inovasi budidaya di tingkat pekebun.
"Harapan kami, setelah kembali ke daerah masing-masing, peserta tidak hanya menerapkan ilmu yang diperoleh di kebunnya sendiri, tetapi juga menjadi agen perubahan yang dapat menularkan praktik budidaya yang baik kepada pekebun lainnya," katanya.
Selama pelatihan berlangsung, interaksi antara peserta dan instruktur berjalan dinamis. Berbagai persoalan yang dihadapi pekebun di lapangan dibahas bersama untuk menemukan solusi yang sesuai dengan karakteristik wilayah masing-masing. Diskusi tersebut memperkaya pengalaman peserta sekaligus memperkuat pemahaman terhadap praktik budidaya yang tepat.
Kolaborasi BPDP, Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, dan IPB Training diharapkan terus melahirkan pekebun yang lebih profesional dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Dengan kapasitas SDM yang semakin kuat, produktivitas kebun rakyat, mutu hasil panen, serta daya saing industri kelapa sawit nasional diyakini akan terus meningkat secara berkelanjutan.














