• Senin, 5 Oktober 2026
Hot Issue

Kolaborasi Media–UKM Sawit Tingkatkan Nilai Tambah Menuju Indonesia Emas 2045

Gelombang inovasi produk turunan sawit terus merambah berbagai daerah di Indonesia. Kali ini, Purwokerto menjadi tuan rumah Workshop Jurnalis Promosi UKM Sawit bertemakan “Kolaborasi Media dan Pelaku UKM Sawit untuk Indonesia Emas 2025” yang diselenggarakan pada 23-24 November 2025.

Walaupun Banyumas bukan daerah penghasil sawit, antusiasme pelaku UKM dan pemangku kepentingan di wilayah ini membuktikan satu hal: potensi sawit tidak lagi terbatas pada perkebunan—tetapi hadir dalam produk sehari-hari yang digunakan masyarakat.

Acara yang digelar melalui kolaborasi BPDP, DMSI, GAPKI, dan Asian Agri ini menghadirkan para narasumber lintas sektor: Wahyu Dewanto, Kepala Dinas Ketenagakerjaan, Koperasi dan UKM Banyumas, Kepala Divisi UKMK BPDP Helmi Muhansyah, Dr. Khavid Fuazi, Wakil Dekan Fakultas Pertanian Unsoed, M. Husni, Media Relations GAPKI dan Apriani Ika, Pendiri UKM Berkah Kita.

Helmi Muhansyah dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menegaskan pentingnya kolaborasi media dan pelaku UKM sawit untuk menguatkan citra industri kelapa sawit, sekaligus mendorong pertumbuhan usaha kecil di sektor tersebut.

Helmi menekankan bahwa industri sawit masih menjadi salah satu penopang pendapatan negara yang paling stabil. Indonesia, sebagai produsen sawit terbesar di dunia, kerap mendapat tekanan dari kampanye negatif di Eropa, mulai dari isu deforestasi hingga eksploitasi tenaga kerja.

“Berita bohong yang disampaikan terus-menerus bisa dianggap sebagai kebenaran. Itu seperti teori propaganda Goebbels. Karena itu, kita harus melawannya dengan fakta,” ujarnya.

BPDP, kata Helmi, kini menjadikan persepsi publik sebagai indikator kinerja utama (KPI). Penilaian publik terhadap sawit, biodiesel, hingga peran BPDP menjadi tolok ukur keberhasilan program. “Semakin baik persepsi publik, semakin baik pula nilai kami. Karena itu, kami aktif menggelorakan kebaikan sawit,” tegasnya.

Helmi memaparkan bahwa ragam inovasi turunan sawit kini makin luas—mulai dari rompi, batik sawit, hingga balsam dan produk kecantikan. Ia mencontohkan salah satu perajin batik di Yogyakarta yang omzetnya ratusan juta per bulan, melonjak menjadi miliaran setelah menggunakan bahan berbasis sawit.

Selain itu, riset terbaru menunjukkan potensi sawit sebagai bahan baku tinta, avtur, aspal, hingga pelapis buah. “Bahkan ada professor IPB yang menemukan kandungan gizi sawit setara ASI Ibu,” katanya.

BPDP juga mengajak UKM untuk ikut serta dalam berbagai pameran produk sawit, kakao, dan kelapa. Helmi menyebutkan, komitmen lembaganya adalah mendorong minimal 1.000 UKM perkebunan agar naik kelas.

“Batik sawit dulu omzetnya ratusan juta, sekarang miliaran. Lidi sawit pun sudah masuk pasar ekspor. Ini bukti UKMK Perkebunan bisa kaya bersama BPDP,” ujarnya.

Ketua pelaksana acara, Qayum Amri, membuka workshop dengan gambaran optimistis mengenai pesatnya pertumbuhan UKM berbasis sawit di Indonesia.

“Kami ingin memperkenalkan dan menyebarluaskan produk UKM sawit kepada jurnalis dan pelaku UKM,” ujar dia. Data BPDP mencatat persebaran UKM sawit kini merambah Aceh, Sumatera Barat, Riau, Jawa Barat, Sulawesi Barat, Jawa Tengah, hingga Banten.

Tak tanggung-tanggung—32 jenis produk turunan sawit telah dikembangkan UKM. Mulai dari cokelat sawit, kopi sawit, abon sawit, parfum, biskuit, lilin aroma, skincare, hingga helm sepeda dan rompi berbahan sawit.

“Ini artinya dari kepala hingga kaki, banyak sekali produk yang bisa berbasis sawit,” papar Qayum.

Ia menekankan bahwa sawit bukan sekadar komoditas besar milik korporasi. “Sawit adalah kebanggaan bersama. Ada nilai tambah luar biasa bagi petani dan UKM.”

Pasar produk sawit pun makin meluas. Lidi sawit kini memasuki pasar Pakistan, sementara lilin aroma dari UKM Berkah Kita bahkan sudah mendapat permintaan dari Tiongkok dan negara Timur Tengah.

Banyumas Siap Kontribusi

Kepala Dinas Ketenagakerjaan, Koperasi dan UKM Banyumas, Wahyu Dewanto, mengapresiasi penyelenggaraan workshop di daerah yang tidak memiliki kebun sawit.

“Memang Banyumas tidak punya sawit. Tapi banyak produk turunan yang kita gunakan setiap hari berbahan sawit. Di situlah relevansinya,” ungkap Wahyu saat membuka acara.

Dengan 160 ribu pelaku UKM —termasuk 70 ribu yang baru terdata tahun ini—Banyumas memegang kekuatan ekonomi rakyat yang besar. Namun koperasi masih menjadi tantangan: dari 600 koperasi, separuhnya dinilai belum sehat.

“Kami terus melakukan pendampingan. Banyak pelatihan kami berikan: olahan makanan, digital marketing, barista, barbershop, hingga servis kendaraan. Kalau ada pelatihan khusus olahan sawit, kami siap fasilitasi,” katanya.

Menurut Wahyu, UKM juga harus diperkuat secara kelembagaan. Setiap pelaku usaha wajib memiliki NIB agar mudah mengakses pembiayaan. Ia menyebut dinas memiliki program pinjaman bergulir dengan bunga sangat rendah—hanya 2 persen per tahun.

Jika membutuhkan pemasaran, pelaku UKM dapat memanfaatkan aplikasi Cuangki, platform kurasi produk unggulan Banyumas.

Workshop ini tidak hanya membahas peluang produk, tetapi juga menjembatani pelaku UKM dengan media dan akademisi.

Dalam diskusi itu, Wakil Dekan Fakultas Pertanian Unsoed, Dr. Khavid Fauzi, menilai sawit sebagai komoditas unggulan meski bukan tanaman asli Indonesia. Menurutnya, kontribusi sawit terhadap perekonomian dan PDB nasional sangat signifikan, terutama dari turunan minyak.

“Masih ada sekitar 30% potensi lahan di luar Jawa yang belum dibuka. Industri sawit tetap potensial selama dikelola berkelanjutan dan tidak merusak lingkungan,” katanya.

Khavid menjelaskan bahwa produktivitas sawit ditentukan oleh bibit, lingkungan, dan standar budidaya. Limbah sawit pun dinilai memiliki nilai tambah tinggi, terutama untuk biomassa dan produk ekspor seperti lidi.

Media Relations GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) Mochamad Husni menegaskan bahwa Indonesia dikaruniai iklim ideal untuk sawit, sehingga produktivitasnya jauh lebih tinggi dibanding negara lain.

“Ini berkah Tuhan. Maka tugas kita bersama—termasuk jurnalis—adalah menghalau kampanye negatif dengan riset dan informasi akurat,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa industri sawit tidak hanya menguntungkan negara lewat ekspor, tetapi juga menggerakkan ekonomi daerah.

“Penjualan TBS saja mencapai Rp200 triliun per tahun. Belanja pegawai, sembako, hingga pertumbuhan daerah transmigrasi, semuanya ikut terdorong oleh sawit,” kata Husni.

GAPKI berharap kolaborasi media dan akademisi dapat memperkuat narasi positif sawit agar industri strategis ini tidak terus melemah akibat tekanan informasi dari luar negeri.

Artikel Terkait