• Rabu, 30 September 2026
Sajian Utama

Kolaborasi INSTIPER Yogyakarta, BGA, dan BPDP Luncurkan Traktor Otonom Pemupukan Sawit

Kolaborasi INSTIPER Yogyakarta, Bumitama Gunajaya Agro (BGA), dan BPDP mengembangkan teknologi tractor otonom pemupukan sawit yang mampu menghemat biaya pemupukan dan mengefektifkan pemberian pupuk kepada tanaman sawit.

Pada akhir April 2026, Tim Riset INSTIPER Yogyakarta yang dipimpin Rengga Arnalis Renjani kembali mengembangkan inovasi pemupukan melalui peluncuran Autonomous Intermittent Fertilizer Spreader atau Traktor Otonom Pemupukan di Kebun Bumitama Gunajaya Agro (BGA) Region 3, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

Teknologi ini merupakan hasil kolaborasi antara Tim Riset INSTIPER Yogyakarta dan BGA dengan dukungan pembiayaan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) melalui program Grant Riset Sawit 2024.

Traktor otonom pemupukan ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan presisi pemupukan melalui sistem intermittent atau pemberian pupuk secara terukur sesuai kebutuhan tanaman. Dengan dukungan navigasi presisi, sensor, dan kecerdasan buatan, teknologi tersebut mampu mendeteksi tanaman sawit dengan akurasi hingga 98 persen sehingga aplikasi pupuk lebih tepat sasaran.

Ketua Tim Riset, Rengga Arnalis Renjani, menyampaikan bahwa teknologi ini menghadirkan efisiensi tinggi dalam penggunaan pupuk untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mendukung praktik perkebunan berkelanjutan.

Lalu, apa perbedaan antara traktor otonom ini dengan traktor spreader lain? Kemampuan traktor otonom ini mampu bergerak sesuai jalur navigasi yang telah disiapkan sebelumnya. Traktor ini juga mengurangi losses pupuk karena pupuk hanya disebar tepat di pohon sawit.

“Selain itu, traktor ini dilengkapi AI yang mampu mengenali pohon kelapa sawit. Traktor ini lebih presisi karena pupuk tidak ditebar setiap saat seperti spreader pada umumnya. Namun, pupuk ini dapat ditebar tepat ke pohon sawit”, ujarnya.

Lebih lanjut, dikatakan Rengga menyampaikan melalui intermittent fertilizer spreader, kapasitas kerja meningkat signifikan hingga 30 hektare per hari. Selain itu, penggunaan teknologi otonom pemupukan mampu menghemat biaya pemupukan sebesar Rp56.553 per hektare atau setara Rp1,7 juta per hari.

“Dalam setahun, efisiensi ini dapat mencapai sekitar Rp374 juta dengan periode balik modal diperkirakan hanya 1,6 tahun,” kata Rengga yang juga Dosen Fakultas Teknik Pertanian INSTIPER Yogyakarta.

Secara teknis, alat ini (traktor) dilengkapi sistem otomatis berbasis intermittent yang mampu mengatur keluaran pupuk dari hopper secara terukur. Dengan kapasitas 300 kilogram, mampu menyebarkan pupuk hingga jarak 5–15 meter dan dikendalikan sistem hidrolik serta timer untuk menjaga konsistensi dosis.

“Tak hanya itu, riset ini juga mengintegrasikan teknologi sensor dan kecerdasan buatan melalui pengambilan citra tanaman sawit tahap TBM (Tanaman Belum Menghasilkan) untuk mendukung sistem trigger pemupukan. Tingkat akurasi deteksi tanaman bahkan disebut mencapai 98 persen,” ungkap Rengga.

Sebagai informasi, pengembangan alat ini dilakukan melalui serangkaian tahapan mulai dari desain, manufaktur, pengujian fungsional, hingga implementasi langsung di perkebunan mitra, yakni Bumitama Gunajaya Agro (BGA). Berbagai jenis pupuk seperti NPK, dolomit, kieserite, dan rock phosphate turut diuji untuk melihat pola sebaran dan efektivitasnya.

Menariknya, pengembangan teknologi pemupukan ini tidak hanya sebagai prototipe alat, melainkan melahirkan berbagai luaran akademik dan industri, termasuk publikasi jurnal nasional dan internasional, pengajuan paten, buku ajar ber-ISBN, hingga kerja sama manufaktur dengan PT Tekno Agro Nusantara.

Ke depan, teknologi ini tidak hanya berpotensi menekan biaya produksi, tetapi juga meningkatkan produktivitas tanaman melalui pemupukan yang lebih tepat dan terukur. Dan, menjadi solusi nyata dalam mendorong efisiensi serta keberlanjutan industri kelapa sawit di Indonesia.

Dukungan BPDP

Komite Litbang BPDP, Prof. Didiek Hadjar Goenadi, menilai inovasi ini menjadi langkah penting dalam mendorong mekanisasi di industri sawit nasional.

“Teknologi ini memungkinkan pemupukan lebih presisi dibandingkan cara manual, terutama di tengah kenaikan harga pupuk dan keterbatasan tenaga kerja,” ujarnya.

Selanjutnya, Prof. Didiek, mengatakan bahwa inti utama dari inovasi tersebut bukan hanya pada kendaraan traktornya, melainkan sistem fertilizer sprayer yang dirancang untuk melakukan aplikasi pupuk secara otomatis dan presisi di lapangan.

“Iya, traktor itu salah satu perangkat untuk mobilitas. Sebenarnya alat yang paling utama adalah fertilizer Spreader -nya, itu yang untuk menyebar pupuk ke tanaman di lapangan (kebun sawit). Sebagai solusi untuk mengatasi masalah inefisiensi terhadap praktik-praktik pemupukan yang dilakukan secara manual,” katanya.

Menurut Prof. Didiek, mekanisasi yang kemudian dikembangkan menjadi otomasi menjadi kebutuhan mendesak bagi industri sawit nasional. Selain harga pupuk yang terus meningkat, sektor perkebunan juga menghadapi persoalan kelangkaan tenaga kerja dan tingginya biaya operasional.

“Yang diharapkan, dengan tekanan harga pupuk makin mahal, tenaga kerja makin langka dan makin mahal, maka diperlukan mekanisasi. Meski begitu, penggunaan alat tetap memerlukan pengawasan petugas di lapangan untuk memastikan operasional berjalan aman dan tanpa hambatan,” katanya.

Selanjutnya, ia menegaskan bahwa pihaknya memberikan perhatian besar terhadap pengembangan teknologi hasil riset yang dapat langsung dimanfaatkan oleh pelaku industri sawit. Dengan dukungan pendanaan riset, BPDP berharap inovasi yang lahir mampu meningkatkan efisiensi sekaligus mendukung keberlanjutan industri sawit nasional.

“BPDP menaruh perhatian penuh terhadap hal-hal seperti ini agar teknologi yang dibiayai dari riset BPDP itu bisa dimanfaatkan oleh praktisi sehingga meningkatkan efisiensi. Efisiensi meningkat tentu keberlanjutan juga meningkat,” tegas Prof. Didiek.

Dengan hadirnya teknologi pemupukan yang didanai BPDP melalui Grant Riset Sawit (GRS) 2024, ia juga mengajak pelaku industri sawit lebih terbuka terhadap pemanfaatan inovasi teknologi khususnya hasil karya anak bangsa yang dikembangkan melalui dukungan dana industri sawit nasional.

“Pengelolaan sumber daya alam seperti perkebunan sawit itu memerlukan teknologi. Teknologi adalah strategic tool untuk menuju keberlanjutan. Tanpa penerapan teknologi tidak mungkin akan sustainable,” jelasnya.

Kepala Divisi Penyaluran Dana Riset BPDP, Rahmat Widiana, menjelaskan bahwa BPDP melalui program grant riset mendorong lahirnya inovasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga dapat diimplementasikan langsung di lapangan dan memberikan dampak nyata bagi industri.

Pengembangan teknologi ini merupakan hasil kolaborasi antara perguruan tinggi dan pelaku industri, yang menjadi salah satu fokus utama dalam skema Grant Riset BPDP.

“Sinergi ini memungkinkan proses riset berjalan lebih adaptif terhadap kebutuhan di lapangan serta mempercepat proses hilirisasi inovasi. Selain meningkatkan efisiensi, teknologi ini juga mendukung praktik perkebunan berkelanjutan melalui penggunaan input yang lebih terukur dan minim pemborosan” tambahnya.

Kolaborasi pengembangan teknologi

Pengembangan traktor otonom untuk pemupukan kelapa sawit yang diinisiasi INSTIPER Yogyakarta dan dikembangkan bersama dengan BGA didukung BPDP dinilai menjadi contoh penting sinergi antara akademisi, industri, dan pemerintah dalam mendorong modernisasi perkebunan.

Project Mechanization Department Head Bumitama Gunajaya Agro (BGA), Yogi Akbar Ermansyah, menilai kolaborasi lintas sektor menjadi faktor utama agar inovasi teknologi benar-benar dapat diterapkan di lapangan dan menjawab kebutuhan industri sawit.

“Perusahaan perkebunan pada dasarnya lebih berfokus pada aspek agronomi sehingga tidak selalu memiliki kompetensi mendalam di bidang teknologi. “Core business di perusahaan perkebunan lebih dominan pada aspek agronomi, sementara pengembangan teknologi terkini merupakan ranah peneliti dan akademisi. Di sisi lain, industri manufaktur memiliki kapabilitas dalam fabrikasi material dan perangkat. Di sinilah Pemerintah melalui BPDP hadir menjadi jembatan yang mempertemukan seluruhnya,” ujarnya.

Yogi menilai kolaborasi yang terbangun dalam ajang GRS 2024 telah berjalan dengan baik dan menjadi model yang dibutuhkan industri sawit ke depan, khususnya untuk mempercepat pengembangan teknologi mekanisasi yang lebih presisi, efektif dan efisien.

“Kami melihat dalam GRS 2024 ini kolaborasi semuanya berjalan sangat baik, dan hal ini sangat dibutuhkan untuk akselerasi pengembangan teknologi mekanisasi di perkebunan,” ucapnya.

Selanjutnya, ia menambahkan bahwa pengembangan inovasi perlu tetap memperhatikan kebutuhan dan tantangan di lapangan, sehingga teknologi yang dihasilkan dapat diterapkan secara optimal dalam mendukung produktivitas kerja dan efisiensi operasional., salah satunya dalam aplikasi mekanisasi pemupukan.

“Sinergi antara akademisi, peneliti dan perkebunan sawit menjadi ruang kolaborasi penting untuk menyelaraskan riset dengan kebutuhan praktis di sektor perkebunan, sehingga inovasi yang dihasilkan pun dapat lebih tepat guna, mudah diimplementasikan dan mendukung pengembangan perkebunan kelapa sawit yang lebih berkelanjutan,” pungkas Yogi.Peluncuran traktor otonom pemupukan menjadi bagian dari penguatan kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan industri dalam mendorong modernisasi serta daya saing sektor perkebunan kelapa sawit Indonesia.

Artikel Terkait