• Kamis, 8 Oktober 2026
Berita Terbaru

BPDP, Ditjenbun, dan AKPY Investasi SDM Pekebun Wajo, Kunci Produktivitas Sawit Berkelanjutan

Makassar – Masa depan perkebunan kelapa sawit rakyat tidak hanya ditentukan oleh luas lahan maupun kecanggihan teknologi, tetapi oleh kualitas sumber daya manusianya. Pekebun yang memiliki pengetahuan dan keterampilan budidaya yang baik diyakini mampu meningkatkan produktivitas kebun secara lebih efisien, berkelanjutan, bahkan tanpa harus membuka lahan baru.

Atas dasar itu, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian dan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) menggelar Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 bagi 150 pekebun asal Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Pelatihan berlangsung di Makassar pada 14–20 Juli 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas pekebun dalam menerapkan Good Agricultural Practices (GAP).

Direktur AKPY, Dr. Sri Gunawan, mengatakan peningkatan kompetensi pekebun merupakan investasi jangka panjang yang akan memberikan dampak langsung terhadap produktivitas, efisiensi usaha, dan keberlanjutan perkebunan rakyat.

Menurutnya, BPDP bersama Kementerian Pertanian menunjukkan komitmen kuat dalam membangun SDM perkebunan melalui berbagai program pelatihan. Pada 2026, sebanyak 15.900 pekebun di seluruh Indonesia mengikuti pelatihan yang tersebar dalam sekitar 530 kelas, dengan dukungan anggaran hampir Rp250 miliar.

"Investasi terbaik di sektor perkebunan adalah investasi pada manusianya. Ketika pengetahuan dan keterampilan pekebun meningkat, produktivitas kebun juga akan meningkat karena mereka mampu menerapkan teknik budidaya yang benar," ujar Sri Gunawan.

Ia menjelaskan, peserta pelatihan memperoleh materi budidaya kelapa sawit secara menyeluruh, mulai dari persiapan lahan, penggunaan bibit unggul bersertifikat, penanaman, pemeliharaan tanaman belum menghasilkan (TBM), pemeliharaan tanaman menghasilkan (TM), hingga teknik pemupukan yang tepat sesuai prinsip Good Agricultural Practices (GAP).

Menurut Sri Gunawan, masih banyak pekebun yang mengelola kebun berdasarkan pengalaman turun-temurun atau mengikuti kebiasaan di lingkungan sekitar. Karena itu, pelatihan menjadi sarana untuk memperkuat praktik budidaya berbasis ilmu pengetahuan sehingga setiap keputusan di kebun lebih tepat, efisien, dan mampu meningkatkan hasil panen.

Selain meningkatkan kompetensi teknis, pelatihan juga membekali pekebun dengan strategi menghadapi perubahan iklim, terutama ancaman El Niño yang diperkirakan memengaruhi produktivitas sawit pada tahun ini.

"Pekebun tidak bisa mengendalikan perubahan iklim, tetapi mereka bisa mempersiapkan kebun agar lebih adaptif. Kuncinya adalah menjaga ketersediaan air dan kesehatan tanah melalui konservasi air, pemanfaatan bahan organik, penggunaan bibit unggul, serta pemupukan yang tepat," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan, Hj. Nurul Fitriany Alimuddin, SP, mengatakan pengembangan SDM merupakan salah satu strategi utama pemerintah dalam meningkatkan daya saing perkebunan sawit rakyat.

Sejak 2022 hingga 2026, BPDP telah memfasilitasi pelatihan bagi 1.681 pekebun sawit di Sulawesi Selatan. Khusus Kabupaten Wajo, sebanyak 459 pekebun mengikuti pelatihan selama periode 2025–2026.

Menurutnya, peningkatan kapasitas pekebun akan berdampak langsung terhadap kualitas tandan buah segar (TBS), produktivitas kebun, hingga peningkatan pendapatan petani.

"Kami berharap seluruh peserta benar-benar memanfaatkan kesempatan ini. Persoalan budidaya, terutama penggunaan bibit unggul bersertifikat dan penerapan teknologi budidaya yang tepat, masih menjadi tantangan yang harus terus diperbaiki," katanya.

Nurul menambahkan, data kebun peserta akan menjadi dasar penyusunan program lanjutan, termasuk usulan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dan bantuan sarana-prasarana agar penerapan hasil pelatihan dapat berjalan lebih optimal.

Senada dengan itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Wajo, Drs. Andi Pamereni, M.Si, menegaskan bahwa peningkatan kualitas SDM merupakan fondasi pembangunan perkebunan sawit di tengah tantangan perubahan iklim, perkembangan teknologi, dan tuntutan praktik usaha yang semakin berkelanjutan.

Ia berharap pelatihan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi mampu melahirkan pekebun yang kompeten serta konsisten menerapkan Good Agricultural Practices (GAP) di lapangan.

"Saya berharap seluruh peserta menerapkan ilmu yang diperoleh di kebun masing-masing, kemudian membagikannya kepada pekebun lainnya agar manfaat pelatihan semakin luas dan produktivitas sawit di Kabupaten Wajo terus meningkat," ujarnya.

Melalui Program SDMP 2026, sinergi BPDP, Ditjenbun, AKPY, dan pemerintah daerah diharapkan mampu melahirkan pekebun sawit yang lebih profesional, adaptif terhadap perubahan, dan mampu meningkatkan produktivitas secara efisien serta berkelanjutan. Pendekatan ini sekaligus menegaskan bahwa masa depan sawit Indonesia dibangun melalui investasi pada kualitas SDM, bukan semata-mata melalui ekspansi lahan.

Artikel Terkait