Ketapang, SAWIT INDONESIA - Pertumbuhan petani sawit swadaya di Kabupaten Ketapang telah menjadi motor penggerak perekonomian masyarakat, bahkan menjadi salah satu kearifan lokal pada sektor perkebunan. Untuk itu, perlu mendapat perhatian dari berbagai pihak agar memberikan jaminan atas keberlanjutan dan peningkatan kesejahteraan.
Upaya perhatian ditunjukkan oleh perusahaan (PT Bumitama Gunajaya Agro/BGA) yang beroperasi berbatasan dengan perkebunan sawit masyarakat. Melalui program tanggungjawab sosial atau corporate social responsibility (CSR) perusahaan ini memiliki program ‘Klinik Berdaya Sawit’ untuk pendampingan Masyarakat dalam hal peningkatan kapasitas petani sawit swadaya.
CSR Departement Head, PT BGA, Rizki Munadhil menjelaskan melalui program Klinik Berdaya Sawit menjadi alasan yang kuat untuk menjadikan petani sawit swadaya sebagai mitra strategis yang tumbuh dan berkembang bersama.
“Program Klinik Berdaya Sawit sebagai media peningkatan kapasitas petani sawit swadaya dalam melaksanakan kultur teknis budidaya tanaman kelapa sawit. Selain itu,sebagai media konsultasi petani dengan praktisi internal BGA sehingga dapat mendorong peningkatan produktifitas tanaman yang bermuara pada peningkatan nilai ekonomi Masyarakat,” jelasnya, dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi sawitindonesia.com, pada Selasa (10 Juni 2025).
Program Klinik Berdaya Sawit telah dilaksanakan sejak 26 Mei – 7 Juni 2025. Tim CSR PTBGA melakukan road show di beberapa titik, di antaraya Kecamatan Tumbang Titi, Nanga Tayap, Kendawangan dan Marau, yang melibatkan 176 orang petani sawit swadaya.
Diungkapkan Rizki, program ini (Klinik Berdaya Sawit) menghadirkan praktisi internal PT BGA sebagai instruktur pelatihan dan diskusi teknis budidaya kelapa sawit.
“Meliputi pemeliharaan tanaman, pemupukan, pengendalian hama penyakit hingga pengelolaan panen. Banyak wawasan baru mengenai teknis budidaya kelapa sawit yang telah diterima oleh peserta dan mendapat respon positif baik dari peserta, aparat desa maupun jajaran pemerintah setempat yang turut menghadiri program Klinik Berdaya Sawit,” ungkapnya.
“Salah satu harapannya adalah pelakasanaan program Klinik Berdaya Sawit dapat dilakukan secara berkesinambungan dan menjangkau seluruh petani yang ada di Kabupaten Ketapang,” imbuh Rizki.
Mengingat respon positif dari Program Klinik Berdaya Sawit, program ini akan dilanjutkan secara periodik. Selain itu, akan ada pendampingan kepada petani swadaya untuk pembuatan STDB (Surat Tanda Daftar Budidaya), pendampingan untuk mengakses program sarana prasarana dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) hingga sertifikasi kebun petani sawit swadaya.














