Penulis : Prof. Sudarsono Soedomo
Setiap kali banjir besar terjadi, rangkaian narasi yang sama selalu diulang tanpa pernah diperiksa ulang. Hutan digunduli. Daerah Aliran Sungai (DAS) rusak. Masyarakat serakah. Tuhan marah. Dan tentu saja, harus ada pihak yang diposisikan sebagai tersangka moral. Pola penjelasan seperti ini tidak hanya reduktif, tetapi sering kali menutup pintu bagi analisis hidrologis yang lebih tajam, terutama ketika kita berhadapan dengan kejadian curah hujan yang betul-betul ekstrem.
Narasi Emosional yang Menjadi Dogma
Begitu banjir melanda, narasi “hutan gundul” langsung menjadi peluru retoris pertama. Pembukaan hutan—terutama untuk sawit—sering dijadikan kambing hitam tanpa melihat data hujan. Begitu pula dengan tudingan terhadap rusaknya DAS hulu. Dalam sebagian percakapan publik, pembicaraan bahkan bergeser ke ranah moral dan teologis: manusia dianggap serakah, dan banjir dilihat sebagai bentuk “hukuman”. Namun ketika ditanya mengapa yang terkena adalah masyarakat biasa, bukan para pelaku perusakan yang disebut-sebut itu, penjelasannya tidak pernah tuntas.
Contoh Kasus Garut: Ketika Narasi Tidak Sejalan dengan Data
Contoh yang sangat jelas adalah banjir bandang Kota Garut beberapa tahun lalu. Begitu bencana terjadi, narasi yang sama kembali muncul: daerah hulu rusak, hutan gundul, arus permukaan tak terkendali. Sejumlah komunitas kehutanan segera mengadakan kegiatan simbolik—seremonial penanaman beberapa batang bibit pohon sebagai bentuk “pemulihan”.
Namun fakta berikutnya berbicara berbeda:
- Tahun-tahun setelahnya hingga hari ini, Garut tidak mengalami banjir bandang serupa, meskipun tidak ada perubahan berarti di daerah hulu.
- Kondisi tutupan lahan hulu secara umum masih sama seperti ketika banjir terjadi.
- Bibit pohon yang ditanam secara seremonial kemungkinan besar tidak tumbuh atau tidak memberi kontribusi signifikan—jika bukan benar-benar hilang begitu saja.
Apa yang berubah? Bukan hulunya, tetapi curah hujannya. Peristiwa banjir bandang Garut dipicu oleh hujan ekstrem dengan intensitas tinggi dan durasi panjang—kejadian dengan return period yang tidak terjadi setiap tahun. Ketika intensitas hujan kembali normal, banjir bandang tidak terulang meski kondisi tutupan lahan tetap sama.
Contoh Garut ini memperlihatkan satu hal penting yang sering diabaikan:
Jika faktor dominannya adalah hujan ekstrem, maka narasi “hulu rusak” tidak menjelaskan dinamika peristiwa tersebut.
Peran Hutan Ada Batasnya
Secara hidrologis, hutan memang mampu meredam limpasan air permukaan—selama curah hujan masih dalam kisaran moderat. Tetapi fungsi penyerapan dan penahanannya mempunyai batas yang sangat jelas. Ketika hujan ekstrem datang jauh di atas kapasitas infiltrasi, tanah mencapai kejenuhan penuh, dan volume air melonjak melampaui daya tampung sistem akar, maka bahkan hutan yang paling rapat sekalipun tidak akan mampu mencegah banjir.
Ini bukan berarti hutan tidak penting. Justru penting. Tetapi kepentingannya bukan dalam melawan curah hujan ekstrem, melainkan dalam menjaga stabilitas hidrologi pada cuaca normal. Pada skala ekstrem, variabel pengendali utamanya adalah cuaca itu sendiri.
Periode Ulang: Konsep yang Hilang dari Percakapan Publik
Periode ulang (return period) menjadi konsep yang hampir tidak pernah hadir dalam diskusi publik. Curah hujan ekstrem—5 tahunan, 10 tahunan, 25 tahunan, bahkan 100 tahunan—tidak memiliki perilaku sama dengan curah hujan harian biasa. Semakin besar intensitas hujannya, semakin panjang periode ulangnya, dan semakin kecil pula pengaruh kondisi tutupan lahan dalam meredam banjir.
Inilah sebabnya penjelasan banjir ekstrem menggunakan curah hujan tahunan adalah kekeliruan metodologis. Analisis tersebut hanya menghasilkan kebingungan, bukan pemahaman.
Pentingnya Rasionalitas dalam Membaca Banjir
Penanaman pohon pasti baik, tetapi menjadikannya solusi universal atas banjir ekstrem adalah kekeliruan konseptual. Contoh Garut menunjukkan bahwa banjir ekstrem dapat muncul dan hilang tanpa adanya perubahan signifikan di hulu. Artinya, memahami banjir ekstrem menuntut kita untuk lebih jernih melihat kekuatan faktor hidrometeorologis, bukan hanya faktor moral atau retorik.
Yang kita perlukan bukan ritual, bukan kambing hitam, tetapi analisis yang proporsional, tajam, dan berbasis data.
Penutup
Banjir besar akibat hujan sangat lebat bukanlah misteri moral ataupun sekadar akibat “hutan gundul”. Ia adalah fenomena alam yang dapat dijelaskan melalui intensitas hujan, kejenuhan tanah, dan periode ulang kejadian. Contoh Garut menjadi bukti bahwa narasi populer tidak selalu selaras dengan data hidrologi. Selama penjelasan publik masih dikendalikan oleh emosi dan bukan analisis, masyarakat akan terus diarahkan untuk menyalahkan pihak tertentu—alih-alih memahami realitas hidrologis yang lebih kompleks dan lebih masuk akal.














