Penguatan kemitraan petani dan transisi energi kini kian dipandang sebagai dua agenda yang dapat berjalan beriringan dalam industri kelapa sawit. Melalui pengelolaan kebun plasma berbasis koperasi serta pemanfaatan limbah cair pabrik kelapa sawit menjadi energi terbarukan, praktik keberlanjutan mulai menunjukkan manfaat nyata mulai dari sisi efisiensi operasional, penurunan emisi, maupun peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar kebun.
Salah satu contoh implementasi tersebut dapat dilihat di Kecamatan Permata Kecubung, Kabupaten Sukamara, Kalimantan Tengah. Di wilayah ini, kemitraan plasma antara petani dan perusahaan menjadi fondasi utama peningkatan produktivitas sekaligus pendapatan petani sawit lokal.
Koperasi Jati Sejahtera, misalnya, mengelola kebun plasma yang mulai ditanam pada periode 2017–2018 dengan total luasan sekitar 290,18 hektare dan melibatkan 244 petani, seluruhnya warga setempat. Kebun plasma ini dikelola melalui skema kemitraan dengan dukungan teknis dan pengelolaan kebun secara terintegrasi dengan perusahaan. Sejak memasuki masa panen pada 2022, produktivitas kebun terus meningkat.
“Yield awalnya sekitar 14 ton per hektare per tahun. Hingga 2025, produktivitasnya sudah mencapai 21,7 ton per hektare per tahun,” ujar Sekretaris Koperasi Jati Sejahtera, Indra Ayu Riantika.
Peningkatan hasil panen tersebut berdampak langsung pada pendapatan petani. Saat ini, anggota koperasi menerima Sisa Hasil Usaha (SHU) rata-rata Rp2 juta hingga Rp3 juta per hektare per bulan.
“Kalau petani punya dua hektare, pendapatannya bisa sekitar Rp4 juta per bulan. Apalagi ketika harga TBS berada di kisaran Rp3.000 per kilogram, itu sangat membantu ekonomi keluarga,” tambahnya.
Menurut Indra Ayu, rahasia keberhasilan ini terletak pada skema pengelolaan kebun yang dilakukan secara terintegrasi atau “satu atap” oleh PT Sukses Karya Mandiri-member of PT Triputra Agro Persada Tbk. Dalam skema ini, seluruh proses mulai dari pembukaan lahan, penanaman, perawatan, pemupukan, hingga panen dijalankan dengan standar operasional yang sama seperti kebun inti perusahaan.
“Tanpa kemitraan, petani harus mengurus semuanya sendiri. Saat modal terbatas, pemupukan sering dikurangi dan produksi menurun. Melalui skema ini, seluruh perawatan didukung sehingga petani menerima hasil yang lebih optimal,” jelasnya.
Pendekatan kemitraan tersebut membuat produktivitas kebun Koperasi Jati Sejahera berada di atas rata-rata nasional. Data Kementerian Pertanian menunjukkan produktivitas kebun sawit petani nasional masih di kisaran 2–3 ton per hektare per tahun. Sementara itu, kebun plasma yang dikelola melalui kemitraan ini sejak Tanaman Menghasilkan (TM) awal telah mencapai 14 ton per hektare per tahun, dan pada usia tanaman matang dapat menyentuh hingga 28 ton per hektare per tahun.
Estate Manager PT SKM menjelaskan program kemitraan ini juga membawa perubahan sosial di Kecamatan Permata Kecubung. Banyak anggota koperasi kini mampu membeli kendaraan bermotor, bahkan mobil, serta menyekolahkan anak hingga ke luar daerah.
“Pola satu atap ini sejalan dengan komitmen TAP untuk Negeri yang membangun kemitraan untuk tidak hanya berfokus kepada peningkatan produktivitas, melainkan turut berkontribusi memberikan dampak positif terhadap penguatan ekonomi dan kualitas hidup masyarakat sekitar kebun,” ungkapnya.
Selain mendorong tercipatanya pembangunan ekonomi di sekitar perusahaan melalui skema kemitraan plasma, PT SKM juga turut berkontribusi atas transisi energi melalui Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) berbasis palm oil mill effluent (POME) sejak 2023. PLTBg SKM dibangun untuk memasok kebutuhan listrik kernel crushing plant (KCP) berkapasitas 300 ton per hari, sekaligus mendukung agenda dekarbonisasi perusahaan. Langkah ini sejalan dengan target TAPG untuk mencapai status perusahaan netral karbon pada 2036.
Mill Manager PT Sukses Karya Mandiri, Roganda Sitorus, menjelaskan bahwa POME dari pabrik kelapa sawit dialirkan terlebih dahulu ke kolam pendinginan untuk menurunkan suhu. Selanjutnya, POME diproses di fasilitas biogas melalui beberapa tahapan teknis.
“Setelah suhu diturunkan melalui pencampuran di mixing tank, POME masuk ke biodigester pond. Di sanalah bakteri menghasilkan gas metana (CH4),” ujarnya saat ditemui di lokasi, Rabu (10 Desember 2025).
Gas metana yang dihasilkan kemudian dimurnikan menggunakan scrubber untuk menurunkan kandungan hidrogen sulfida, sebelum dialirkan ke gas engine. Tahap pemurnian ini krusial untuk menjaga keamanan dan kinerja mesin pembangkit. Dari proses tersebut, PLTBg SKM mampu menghasilkan listrik hingga 2 megawatt. Energi ini dimanfaatkan untuk mendukung operasional kernel crushing plant (KCP) sekaligus memasok kebutuhan listrik kawasan perumahan karyawan di sekitar kebun.
“Kami mengelola gas secara mandiri. Sekitar 1.300 kilowatt per jam digunakan untuk operasional pabrik, dan sekitar 300 kilowatt dialokasikan untuk kebutuhan domestik,” jelas Roganda.
Keberadaan PLTBg ini secara langsung menggantikan konsumsi bahan bakar fosil. Sebelum biogas beroperasi, pabrik menggunakan sekitar 50 liter solar per jam untuk pembangkitan Listrik. “Setelah biogas berjalan, solar sudah tidak digunakan lagi,” katanya.
Dari sisi lingkungan, pengelolaan limbah cair menjadi energi ini menekan potensi emisi hingga sekitar 40.000 ton karbon ekuivalen, sekaligus mencegah pelepasan gas metana ke atmosfer yang berdampak lebih besar terhadap pemanasan global dibanding karbon dioksida.
Melalui integrasi transisi energi dan kemitraan petani, TAP menunjukkan bahwa industri sawit berkelanjutan bukan sekadar konsep, melainkan praktik nyata di lapangan yang berkontribusi memberi manfaat ekonomi, lingkungan, dan sosial secara bersamaan.














