• Selasa, 6 Oktober 2026
Berita Terbaru

Kementan: Riau Jadi Produsen Terbesar CPO Indonesia, Disusul Kalbar, Kalteng, dan Kaltim

Jakarta, SAWIT INDONESIA – Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian mengeluarkan data statistic luas areal kelapa sawit Indonesia pada 2024 dan 2025 (angka sementara) tercatat mencapai 16,83 juta hektare.

Memasuki tahun 2025 (angka sementara), Riau tetap menjadi kontributor terbesar dengan produksi 9,46 juta ton. Kalimantan Barat dengan produksi 4,94 ton, Kalimantan Tengah mencatat produksi 7,59 juta ton, serta Kalimantan Timur sebesar 4,29 juta ton.

Capaian produksi di atas lebih tinggi dari 2024 di mana Riau mencatat produksi 9,14 juta ton. Disusul Kalimantan Barat dengan produksi 4,96 juta ton, Kalimantan Tengah dengan produksi 7,46 juta ton, serta Kalimantan Timur produksi 3,90 juta ton.

Pada 2025, tren peningkatan produksi sawit nasional meningkat menjadi 46,55 juta ton (CPO) dengan produktivitas rata-rata mencapai 3,6 ton per hektare.

Sedangkan 2024, produksi minyak sawit mentah (CPO) nasional mencapai 45,44 juta ton dengan produktivitas rata-rata 3,5 ton per hektare.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Perkebunan, Abdul Roni Angkat, menambahkan bahwa kelapa sawit memiliki produktivitas minyak per hektare yang jauh lebih tinggi dibandingkan komoditas minyak nabati lainnya. Dengan efisiensi lahan tersebut, sawit diharapkan mampu memenuhi kebutuhan minyak nabati global tanpa tekanan pembukaan lahan yang berlebihan, serta tetap sesuai ketentuan yang berlaku dan mengimplementasikan sistem keberlanjutan.

“Hilirisasi menjadi strategi penting agar sawit tidak hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi. Dengan begitu, manfaat ekonomi bisa dirasakan lebih luas oleh pekebun, pelaku usaha, dan masyarakat,” jelas Roni.

Roni juga menekankan pentingnya penguatan sertifikasi dan praktik budidaya berkelanjutan, termasuk percepatan peremajaan sawit rakyat untuk menjaga produktivitas kebun. Upaya ini dilakukan guna meningkatkan daya saing sawit Indonesia di pasar global sekaligus menjawab berbagai tantangan isu lingkungan.

Artikel Terkait