• Sabtu, 19 September 2026
Berita Terbaru

Kementan Bangun Laboratorium DNA Benih Sawit

JAKARTA, SAWIT INDONESIA - Kementerian Pertanian melalui Direktorat Perbenihan Perkebunan berencana membuat laboratorium DNA benih sawit. Tujuannya untuk mengawasi dan menekan bibit sawit Illegitim. Hal itu disampaikan Direktur Perbenihan Perkebunan, Saleh Mokhtar, saat ditemui di Bandung, pada Rabu lalu (19 Oktober 2022). Dikatakan Saleh, saat ini masih ada benih sawit yang tidak baik dan tidak benar yang beredar di pasaran. Istilahnya masih ada benih sawit yang terkontaminasi. Kami mau benih sawit, minimal 98% jenis tenera yang ditanam baik yang ditanam di perusahaan ataupun di perkebunan rakyat. “Dan, saat ini masih ada sekitar 2% lebih tingkat kontaminasi benih (mariles). Meski sedikit tetapi ini juga harus menjadi perhatian, karena saya termasuk yang bertanggungjawab,” jelasnya. Lebih lanjut, ia mengatakan pihaknya melakukan pengawasan. Apa yang kami lakukan? Pada 2023 mendatang akan membangun laboratorium uji DNA (benih sawit) untuk memastikan benih-benih sawit yang diproduksi oleh produsen benih sawit dan diperbesar oleh penangkar, genetiknya sudah teridentifikasi, minimal 98% tenera. Karena masih ada bibit sawit Dura yang tertanam. Untuk itu, tingkat pengawasan harus terus dilakukan. Salah satunya dengan mendirikan Laboratorium Uji DNA benih sawit. “Laboratorium dibangun tidak menggunakan APBN melainkan SBSN. Saat ini, kita masih mempersiapkan lahan, dokumen perencanaan. Kami tidak mau hanya membuat gedung tetapi juga mempersiapkan alat yang sesuai dengan spesifikasinya. Kami ingin menggunakan alat laboratorium yang level tinggi. Supaya semua varietas benih sawit yang sudah dihasilkan produsen bisa terdeteksi,” tambah Saleh. Pihak Direktorat Perbenihan menginginkan Laboratorium DNA sawit dilengkapi dengan alat yang canggih. Mampu mendeteksi DNA sawit hingga 9 alel. “Kami tidak mau kalau hanya 1 -2 alel, kami akan mencari alat yang mampu mendeteksi hingga 9 alel ke atas. Jadi, dari tahap polinasi harus benar-benar cermat dalam pengawasannya karena akan ketahuan jika sudah masuk laboratorium,” tegas Saleh. Dari informasi yang didapat, terkait dengan pengawasan benih sawit Direktorat Perbenihan akan melibatkan UPT Pusat (Balai Perbenihan dan Proteksi Tanaman) dan untuk pengambilan sample benih juga akan melibatkan pengawas benih yang ada di Provinsi serta produsen benih sawit. Laboratorium akan dibangun di Medan, Sumatera Utara. “Kami ingin menyiapkan benih sawit yang baik dan benar untuk ditanam para planters. Karena untuk polinasi perlu pengawasan yang ketat, berbeda dengan kultur jaringan tetapi memang belum banyak benih sawit dari kultur jaringan yang dilepas. Untuk itu, benih sawit (DxP) yang sudah diproduksi oleh produsen benih sawit harus ada kepastian. Karena para planters sawit yang mau menanam juga meminta izin pada kami,” kata Saleh usai membuka SNPI 2022, di Bandung.

Artikel Terkait