• Kamis, 8 Oktober 2026
Berita Terbaru

Kemandirian Minyak Nabati India Masih Jauh: Peluang Strategis bagi Sawit Indonesia

Denpasar, SAWIT INDONESIA - India dinilai belum mampu memenuhi target peningkatan produksi minyak sawit nasional meski telah menjalankan program perluasan perkebunan selama empat tahun. Kondisi ini diyakini akan mempertahankan posisi Indonesia sebagai pemasok utama minyak sawit bagi pasar India.

Hal tersebut disampaikan Ketua Asian Palm Oil Alliance (APOA), Atul Chaturvedi, dalam sesi pemaparan pada Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2025 di Nusa Dua, Bali, Jumat (14 November 2025).

India sejak 2021 menjalankan program National Mission on Edible Oils – Oil Palm (NMEO-OP) yang menargetkan perluasan perkebunan sawit hingga 1,67 juta hektare dan peningkatan produksi crude palm oil (CPO) menjadi 2,8 juta ton pada 2030. Pemerintah India juga menyediakan berbagai subsidi mulai dari bahan tanam, dukungan sarana pertanian, hingga pelatihan petani.

Namun, menurut Chaturvedi, hasilnya masih jauh dari proyeksi awal. Hingga 2030, luas lahan sawit yang diperkirakan dapat terealisasi hanya sekitar 0,75 juta hektare, sementara produksi CPO domestik diproyeksikan tidak lebih dari 1 juta ton.

“Dengan kebutuhan minyak nabati India mencapai 8,25 juta ton per tahun dan diperkirakan melonjak hingga 50 juta ton pada 2047, impor akan tetap menjadi penopang utama,” ujar Chaturvedi.

Ia menegaskan bahwa Indonesia akan tetap menjadi mitra strategis bagi India, mengingat tingginya kesenjangan antara produksi domestik dan permintaan dalam negeri.

Meski peluang tetap besar, Chaturvedi mengingatkan bahwa Indonesia harus terus menjaga daya saing produknya. Pasar India sangat sensitif terhadap perubahan harga dan memiliki alternatif minyak nabati lain seperti kedelai dan bunga matahari. Selain itu, kampanye negatif terhadap minyak sawit masih menjadi tantangan yang perlu dihadapi melalui edukasi publik dan penguatan narasi keberlanjutan.

IPOC 2025 menjadi salah satu forum industri sawit terbesar di Asia, mempertemukan pelaku usaha, analis, dan pembuat kebijakan untuk membahas dinamika pasar global dan prospek industri sawit ke depan.

Artikel Terkait