Jakarta, SAWIT INDONESIA - Konsumsi minyak sawit untuk kebutuhan biodiesel Indonesia terus meningkat pada Juni 2026. Kenaikan serapan tersebut terjadi bersamaan dengan lonjakan ekspor produk sawit, sementara produksi nasional juga tumbuh dibandingkan bulan sebelumnya.
Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Rabu (26 Agustus 2026), konsumsi minyak sawit untuk sektor biodiesel pada Juni 2026 mencapai 1,131 juta ton, naik 9,28% dibandingkan Mei 2026 yang sebesar 1,035 juta ton.
Biodiesel menjadi sektor dengan konsumsi minyak sawit terbesar pada Juni. Di bawahnya, konsumsi untuk kebutuhan pangan mencapai 878.000 ton, naik dari 856.000 ton pada Mei. Sementara konsumsi sektor oleokimia meningkat menjadi 192.000 ton dari 187.000 ton.
Dengan demikian, total konsumsi minyak sawit dalam negeri pada Juni 2026 mencapai 2,201 juta ton, naik 5,92% dibandingkan Mei yang sebesar 2,078 juta ton.
Secara kumulatif Januari-Juni 2026, konsumsi domestik mencapai 12,994 juta ton, tumbuh 5,48% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 12,272 juta ton.
Kenaikan serapan domestik tersebut terutama perlu menjadi perhatian seiring dengan semakin besarnya kebutuhan bahan baku untuk program biodiesel nasional.
Produksi Sawit Naik
Di sisi pasokan, produksi minyak sawit Indonesia masih mencatat pertumbuhan pada Juni 2026.
Produksi crude palm oil (CPO) mencapai 4,823 juta ton, naik 8,59% dibandingkan Mei yang sebesar 4,165 juta ton. Sementara produksi palm kernel oil (PKO) meningkat menjadi 449.000 ton dari 387.000 ton.
Dengan demikian, total produksi CPO dan PKO pada Juni mencapai 5,277 juta ton, naik 8,59% dibandingkan Mei yang sebesar 4,552 juta ton.
Secara kumulatif, produksi CPO dan PKO sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai 30,284 juta ton, meningkat 15,82% dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar 27,889 juta ton.
Meski produksi meningkat, pertumbuhan permintaan domestik dan ekspor membuat persediaan sawit nasional tetap perlu dicermati.
Selain kebutuhan biodiesel yang meningkat, ekspor juga mengalami lonjakan signifikan pada Juni 2026.
Total ekspor produk sawit mencapai 3,275 juta ton, naik 64,08% dibandingkan Mei yang sebesar 1,996 juta ton.
Ekspor olahan minyak sawit mencapai 2,357 juta ton, meningkat 66% dari 1,423 juta ton pada Mei.
Sementara itu, ekspor CPO melonjak menjadi 335.000 ton dari hanya 31.000 ton pada Mei, atau meningkat 980%.
Ekspor olahan minyak inti sawit juga naik 110% menjadi 116.000 ton dari sebelumnya 55.000 ton.
Secara kumulatif Januari-Juni 2026, ekspor produk sawit mencapai 16,595 juta ton, naik 5,79% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 15,686 juta ton.
Dari sisi nilai, ekspor produk sawit pada Juni mencapai US,92 miliar, melonjak 57,45% dari US,49 miliar pada Mei.
Kenaikan tersebut terutama didorong lonjakan volume ekspor. Pasalnya, harga rata-rata ekspor CPO pada Juni justru turun menjadi US.174 per ton dari US.227 per ton pada Mei atau turun 4,32%.
Penurunan harga tersebut sejalan dengan harga di Malaysia Derivatives Exchange (MDEX) yang turun dari US.134 per ton pada Mei menjadi US.107 per ton pada Juni.
Secara kumulatif, nilai ekspor produk sawit Januari-Juni 2026 mencapai US,45 miliar, naik 12,57% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US,277 miliar.
Rata-rata harga ekspor CPO sepanjang Januari-Juni 2026 tercatat US.132 per ton, lebih tinggi dibandingkan rata-rata periode yang sama tahun lalu sebesar US.088 per ton.
China Jadi Salah Satu Pendorong Ekspor
Lonjakan ekspor pada Juni terjadi di sejumlah pasar utama. Pengiriman ke India mencapai 328.000 ton, naik 396% dibandingkan Mei. Ekspor ke China mencapai 256.000 ton atau naik 67%, sedangkan Pakistan mencapai 132.000 ton atau meningkat 88%.
Kenaikan juga terjadi pada ekspor ke Malaysia sebesar 149% menjadi 129.000 ton, Afrika naik 45% menjadi 114.000 ton, Bangladesh naik 133% menjadi 98.000 ton, dan Amerika Serikat naik 64% menjadi 85.000 ton.
Sebaliknya, ekspor ke Rusia turun 20% menjadi 25.000 ton dan EU-27 turun 2% menjadi 4.000 ton.
Secara kumulatif Januari-Juni 2026, ekspor ke China meningkat 31% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ekspor ke Malaysia naik 13%, Rusia 7%, Afrika 4%, dan Bangladesh 4%.
Sementara itu, pengiriman ke Amerika Serikat turun 8%, India 7%, Pakistan 7%, dan EU-27 sebesar 1%.
Kombinasi peningkatan produksi, konsumsi domestik, dan ekspor turut membentuk posisi stok sawit nasional pada akhir Juni 2026.
Dengan stok awal tahun sebesar 2,068 juta ton, produksi Januari-Juni 2026 sebesar 30,284 juta ton, konsumsi domestik 12,994 juta ton, ekspor 16,595 juta ton, serta impor 32.000 ton, stok akhir Juni tercatat 2,844 juta ton.
Posisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun produksi sawit nasional tumbuh kuat, peningkatan penyerapan domestik—terutama untuk biodiesel berjalan beriringan dengan tingginya permintaan ekspor.
Kondisi ini membuat keseimbangan antara ketersediaan bahan baku untuk kebutuhan energi, pangan, ekspor, dan posisi stok nasional menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam perkembangan industri sawit sepanjang semester kedua 2026.














