• Rabu, 23 September 2026
Berita Terbaru

KAI Sukses Terapkan Biodiesel B50, Pemerintah Geber Kajian Menuju Era Baru B60 pada 2027

JAKARTA, SAWIT INDONESIA — Pemerintah terus mematangkan kesiapan transisi energi nasional menyusul suksesnya implementasi bahan bakar nabati di sektor transportasi. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) saat ini tengah mengkaji kesiapan pasokan minyak kelapa sawit mentah (CPO) serta spesifikasi teknis untuk penerapan kebijakan biodiesel B60 yang ditargetkan meluncur pada 2027 mendatang.

Wakil Menteri ESDM Yuliot mengungkapkan bahwa rencana percepatan ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto. Pihaknya kini tengah mengonsolidasikan ketersediaan pasokan CPO di sektor hulu—termasuk opsi peningkatan produktivitas dan perluasan areal—serta menggenjot kapasitas industri Fatty Acid Methyl Ester (FAME) yang menjadi zat aktif utama pencampur solar fosil.

"Dari industri FAME, kita juga akan implementasi B60, baik itu mandatori PSO maupun non-PSO," ujar Yuliot dalam The 12th IndoEBTKE ConEx 2026 di Jakarta.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menjelaskan bahwa tantangan utama dalam perumusan B60 terletak pada formulasi spesifikasi FAME. Saat ini, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) tengah diminta melakukan kajian komprehensif yang ditargetkan rampung pada Desember 2026. Kajian ini turut menimbang opsi penambahan 10 persen Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) ke dalam campuran FAME, kendati faktor keekonomian harga HVO yang masih berada di kisaran 1,5 hingga 2 kali lipat harga FAME menjadi salah satu variabel yang diuji.

“Karena Indonesia itu pionir, nggak mungkin aku tanya orang Eropa. Nggak ada yang tahu itu,” tegas Eniya menyoroti posisi strategis Indonesia sebagai pelopor mandatori biodiesel tinggi di dunia.

Transformasi Hijau di Jalur Rel Kereta Api

Langkah progresif pemerintah ini sejalan dengan komitmen dekarbonisasi di sektor transportasi massal. PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI melaporkan keberhasilan transisi penggunaan bahan bakar ramah lingkungan pada seluruh armada lokomotif dan kereta pembangkitnya.

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, memaparkan bahwa setelah sukses mengadopsi B40 sejak Januari 2026, KAI secara resmi meningkatkan standar penggunaannya ke B50 mulai 1 Juli 2026 untuk seluruh layanan KA Jarak Jauh dan KA Lokal.

Berdasarkan catatan periode 1 Januari hingga 24 Agustus 2026, KAI telah menyerap sekitar 172,22 juta liter bahan bakar solar. Khusus dalam 55 hari penerapan B50 (1 Juli–24 Agustus 2026), dari estimasi konsumsi 40 juta liter BBM, peningkatan campuran biodiesel sebesar 10 persen ini menghasilkan tambahan pemanfaatan biodiesel murni sebanyak 4 juta liter.

Dampak positif terhadap lingkungan pun langsung terlihat nyata. Penggunaan B50 selama periode tersebut berhasil mereduksi emisi karbon hingga sekitar 9.000 ton $\text{CO}_2\text{e}$ dibandingkan skenario B40. Jika dikalkulasikan dengan jumlah pengguna jasa KA Jarak Jauh dan Lokal yang mencapai 29,86 juta pelanggan sepanjang Januari–Juli 2026, efisiensi dari program B50 ini setara dengan pengurangan emisi sekitar 0,3 kg $\text{CO}_2\text{e}$ per penumpang.

Melalui sinergi antara kesiapan pasokan hulu CPO oleh pemerintah dan akselerasi operasional hijau di sektor transportasi publik, Indonesia semakin mantap memimpin transisi energi global menuju kemandirian bahan bakar yang bersih dan berkelanjutan.

Sumber: ekonomi.republika.co.id

Artikel Terkait