• Rabu, 7 Oktober 2026
Berita Terbaru

KAI Mulai Terapkan B50, Perluas Pemanfaatan Biodiesel Sawit di Transportasi

Jakarta, SAWIT INDONESIA - Pemanfaatan biodiesel berbasis minyak sawit terus meluas ke berbagai sektor transportasi nasional. Terbaru, PT Kereta Api Indonesia (Persero) mulai mengimplementasikan biodiesel B50 secara bertahap pada lokomotif dan kereta pembangkit sejak 1 Juli 2026 sebagai bagian dari dukungan terhadap program mandatori biodiesel pemerintah.

Langkah tersebut menjadi sinyal semakin besarnya peran biodiesel sawit dalam menopang kebutuhan energi sektor transportasi sekaligus memperkuat upaya pengurangan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. B50 sendiri merupakan campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak nabati dengan 50 persen solar.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan penerapan B50 dilakukan secara bertahap setelah melalui serangkaian pengujian teknis dan evaluasi operasional. Menurutnya, seluruh tahapan disiapkan secara cermat untuk memastikan penggunaan bahan bakar baru tersebut tidak mengganggu keselamatan perjalanan maupun keandalan sarana kereta api.

"Sejak 1 Juli 2026, KAI mulai menerapkan B50 secara bertahap pada sarana diesel sesuai kebijakan pemerintah. Setiap tahap kami persiapkan melalui pengujian teknis dan evaluasi operasional agar transisi energi tetap berjalan selaras dengan keselamatan perjalanan serta keandalan sarana," ujar Anne dalam keterangan resmi, Selasa (14 Juli 2026).

Pengujian penggunaan B50 dilakukan pada mesin diesel lokomotif maupun kereta pembangkit dengan mengukur berbagai parameter, antara lain performa mesin, konsumsi bahan bakar, stabilitas pembakaran, emisi gas buang, kondisi filter, pelumas, hingga komponen sistem bahan bakar.

Pada kereta pembangkit, pengujian difokuskan untuk memastikan genset tetap mampu menyuplai kebutuhan listrik selama perjalanan. Sementara pada lokomotif, evaluasi dilakukan untuk mengetahui respons mesin terhadap berbagai kondisi operasi, termasuk variasi beban dan durasi perjalanan.

Anne menjelaskan pemantauan terhadap implementasi B50 akan terus dilakukan, mencakup kualitas bahan bakar, kondisi mesin, efektivitas filter, hingga pola pemeliharaan sarana.

"Evaluasi akan terus dilaksanakan agar penerapan B50 dapat mendukung operasional kereta api secara aman, andal, dan terukur," katanya.

Menurut KAI, pengalaman penerapan biodiesel B35 hingga B40 menjadi modal penting dalam memasuki implementasi B50. Perseroan juga melakukan penyesuaian prosedur inspeksi, pemeliharaan, pengelolaan bahan bakar, serta peningkatan kompetensi pekerja yang menangani sarana diesel.

Peningkatan bauran biodiesel merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk memperbesar pemanfaatan energi terbarukan berbasis sumber daya domestik. Selain mengurangi konsumsi solar, kebijakan tersebut juga diharapkan memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah industri sawit.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan implementasi B50 secara nasional berpotensi menurunkan emisi karbon dioksida hingga 44,46 juta ton. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan potensi penurunan emisi pada program B40 yang diperkirakan mencapai 39,66 juta ton.

Selain mengadopsi B50 pada armada diesel, KAI juga terus mendukung rantai pasok energi melalui layanan logistik berbasis kereta api. Sepanjang Januari–Juni 2026, perusahaan mengangkut sekitar 1,34 juta ton bahan bakar minyak (BBM), meningkat 4,66 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Anne menegaskan implementasi B50 dan layanan distribusi energi menjadi bentuk kontribusi KAI dalam mendukung agenda transisi energi nasional sekaligus menjaga kelancaran pasokan energi di berbagai wilayah.

Artikel Terkait