Jakarta, SAWIT INDONESIA – Sahat Sinaga, Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) dijadwalkan akan meluncurkan Buku berjudul “Dari Loyang Menjadi Emas: Dan Perjuangan Membuat Sawit Indonesia Lebih Bernilai” di Jakarta, Rabu (15 April 2026). Buku setebal kurang lebih 250 halaman ini akan menceritakan perjalanan hidup Lulusan Teknik Kimia ITB (Institut Teknologi Bandung) Tahun 1973 ini semenjak kecil hingga sekarang menekuni dunia profesional di industri sawit
“Beberapa kolega mengonfirmasi akan hadir antara lain Menteri Bappenas Prof. Rachmat Pambudy dan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. Selain itu juga dari rekan-rekan dari ITB, industri sawit, dan PII akan mengikuti peluncuran buku ini,” ujar Sahat Sinaga saat berbicara santai melalui sambungan telepon, Selasa (14 April 2026).
Sahat mengatakan,”Sakti Trenggono Menteri Kelautan dan Perikanan juga ingin hadir. Beliau adek kelas saya di ITB.”
“Di buku ini, saya akan mengulas pergulatan hidup semenjak kecil. Ayah saya seorang mantri yang melanjutkan pendidikan di Bandung menjadi Guru Perawat. Sejak kecil, saya sudah terbiasa kerja keras dan membantu orang tua sebelum berangkat sekolah,” kenangnya.
“Tekad saya untuk sekolah sangat tinggi. Dan sangat bersyukur dapat kuliah Teknik Kimia di ITB,” tambahnya.
Seusai kuliah, Sahat Sinaga bekerja di Unilever. Di perusahaan multinasional ini, dirinya mendapatkan pengalaman berharga yang membentuk karakternya sampai sekarang.”Di Unilever, karakter saya menjadi lebih disiplin dan kerja keras. Salah satu bos mengajarkan saya untuk mencoret kata No dan Impossible. Semua harus bisa dikerjakan, seperti itu pesannya,” jelas Sahat.
Tak heran, Sahat selalu berpikir out of the box dan berpikir semua bisa diubah serta dikerjakan. Pandangan inilah yang membuat pria kelahiran Samosir ini terus berinovasi. Ketika, bertemu dengan temannya orang Afrika di Jakarta pada 2016-2017 silam.
Waktu itu Sahat sempat bertanya,” Kenapa kalian tidak memakai sawit asal Indonesia?”
Dengan enteng si Afrika ini menjawab,”minyak sawit asal Indonesia eggak ada rasanya. No texture,” katanya. Saat itu, Sahat kaget dengan ucapan orang Afrika tersebut.
Dari pertemuan tersebut, inovasinya muncul dengan melahirkan teknologi pabrik sawit dilakukan dengan cara Dry Process. Tidak lagi dengan cara Wet Process.
Inovasi berikutnya adalah DPMO (Degummed Palm Mesocarp Oil). Jenis produk sawit ini tinggi kandungan fitonutrien dan kaya vitamin. Pengolahan DPMO dilakukan dengan teknologi kering (dry process). Tanpa uap, cukup pasteurisasi suhu rendah di bawah 85°C. Hasilnya: emisi karbon turun sekitar 78 persen dan nol limbah cair.
“Judul buku ini Dari Loyang Menjadi Emas sering saya sampaikan dalam berbagai forum diskusi. Sebab, saya ingin terus berjuang untuk menjadi sawit lebih bernilai tambah dan mensejahterakan petani. Prioritas utama kepada petani saya lahir dari keluarga petani. Jadi, silakan membaca halaman demi halaman buku saya,” pungkasnya sambil tersenyum.














