JAKARTA, SAWIT INDONESIA - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menegaskan bahwa ajang internasional The 22nd Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) and 2027 Price Outlook (IPOC 2026) tidak sekadar menjadi wadah diskusi. Seluruh hasil perumusan dan pandangan para pakar dalam konferensi tersebut akan dirangkum dan diserahkan kepada pemerintah sebagai usulan konkret perbaikan kebijakan industri sawit nasional.
Ketua Panitia IPOC 2026, Suryanto Bun, dan Bendahara Umum GAPKI, Mona Surya, menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers IPOC 2026 di Kantor GAPKI, Jakarta, Jumat (9/10/2026).
Mona Surya mengungkapkan bahwa industri kelapa sawit nasional saat ini berada di persimpangan jalan akibat berbagai tantangan yang saling berhimpit, mulai dari ketidakpastian iklim hingga kejelasan regulasi.
“Hasil dari IPOC ini akan kita kirimkan kepada pemerintah. Kita berharap usulan perbaikan kebijakan ini disampaikan agar kekhawatiran pelaku usaha tidak terjadi, sehingga ke depan tercipta regulasi yang jauh lebih mendukung ekosistem industri,” ujar Mona.
Poin-poin utama daftar isu kritis industri, dampak El Nino terhadap BJR, dinamika kelembagaan ekspor, hingga target peserta IPOC 2026 meliputi:
- Sederet Tantangan Utama Industri Sawit:
- Kepastian Status Lahan & Kawasan Hutan: Belum tuntasnya penetapan kawasan hutan menimbulkan ketidakpastian hukum bagi investasi perkebunan.
- Tudingan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla): Mona menegaskan keliru jika perusahaan dituduh membakar kebunnya sendiri yang bernilai triliunan rupiah. Kebakaran sering kali terjadi akibat faktor ketidaksengajaan/kelalaian luar di areal yang sangat luas.
- Kejelasan Tata Kelola Ekspor (DSI): Pelaku usaha masih menunggu kepastian peran PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI)—yang dibentuk pada 20 Mei lalu—apakah akan bertindak sebagai eksportir tunggal atau sebatas pencatat ekspor, karena akan sangat memengaruhi mekanisme harga pasar.
- Dampak Mandatori B50: Penyerapan CPO domestik untuk B50 dipastikan memangkas alokasi volume ekspor ke pasar global.
- Ancaman El Nino dan Penurunan Produktivitas (BJR): Mona memaparkan temuan lapangan di mana Berat Janjang Rata-rata (BJR) sawit turun 17 hingga 20 persen hanya dalam dua bulan akibat kemarau. Meskipun pohon sawit memproduksi banyak buah, ketiadaan hujan membuat pembentukan buah tidak optimal.
- Koreksi Proyeksi Produksi 2027: Meski data resmi GAPKI menargetkan produksi 2027 sebesar 56,6 juta ton, Mona memperkirakan realisasi produksi bisa tertekan lebih dalam hingga ke level 55 juta ton akibat dampak El Nino yang berkepanjangan.
- Target 2.000 Peserta di Bali: IPOC 2026 yang mengusung tema “Palm Oil in a Fragmented World: Securing Food, Energy, and Economic Resilience” akan diselenggarakan pada 11–13 November 2026 di Bali International Convention Center (BICC), Nusa Dua, Bali. GAPKI menargetkan kehadiran hingga 2.000 peserta dari dalam dan luar negeri.
Melalui perumusan komprehensif di IPOC 2026, sinergi antara pelaku usaha dan pemerintah diharapkan dapat melahirkan kebijakan tangguh yang menjaga ketahanan pangan, ketahanan energi B50, serta keberlanjutan ekonomi sektor sawit Indonesia.
Sumber: gapki.id














