• Kamis, 8 Oktober 2026
Berita Terbaru

Ditjenbun: Mahasiswa AKPY-STIPER Harus Jadi SDM Sawit Berdaya Saing

UNGARAN, SAWIT INDONESIA — Mahasiswa AKPY-STIPER diminta tidak menjadikan ijazah sebagai satu-satunya tujuan pendidikan. Mereka perlu membangun kompetensi, karakter, daya juang, dan kemandirian sebagai bekal menghadapi industri perkebunan kelapa sawit.

Pesan itu disampaikan Mula Putera, S.E, M.Sc perwakilan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), Kementerian Pertanian, saat Pembukaan Kuliah dan Bintalfisdisbun AKPY-STIPER Tahun Akademik 2026/2027 di SEAT (KP2 STIPER), Ungaran, Rabu (7 Oktober 2026).

Menurut Mula, pengembangan SDM sawit membutuhkan sinergi tiga unsur, yakni mahasiswa sebagai calon SDM, lembaga pendidikan sebagai tempat pembentukan kompetensi, dan industri sebagai kanal penyerapan tenaga kerja. Pemerintah berperan sebagai regulator yang menjaga keseimbangan ekosistem tersebut.

“Kita di sini ada tiga, tripartit. Ada mahasiswa, industri yang bisa menjadi kanal penyerapan SDM atau tenaga kerja, dan civitas akademika atau lembaga pendidikan. Pemerintah menjadi regulator yang menjaga harmoninya,” ujar Mula.

Ia mengapresiasi AKPY-STIPER yang sejak 2016 dipercaya menjadi salah satu lembaga pendidikan dalam Program Beasiswa SDM Sawit. Meningkatnya jumlah peserta, menurutnya, menunjukkan semakin besarnya kepercayaan terhadap AKPY dalam menyiapkan SDM perkebunan.

SDM Bukan Sekadar Tenaga Kerja

Mula menegaskan, industri sawit membutuhkan SDM yang tidak hanya menguasai keterampilan teknis, tetapi juga memiliki karakter, kreativitas, inovasi, tanggung jawab, dan daya juang.

“Dalam pandangan kami di kementerian, sumber daya manusia lebih luas daripada tenaga kerja. Link and match penting untuk menjaga satu ekosistem, tetapi penyiapan SDM yang mampu berdaya saing jauh lebih penting,” katanya.

AKPY-STIPER, lanjut Mula, memiliki peran penting dalam membentuk mahasiswa secara utuh. Perubahan karakter generasi juga perlu diikuti dengan perubahan metode pembelajaran.

Mahasiswa yang mayoritas berasal dari generasi Z memiliki karakter dan cara belajar berbeda dengan generasi sebelumnya. Lembaga pendidikan diminta menyesuaikan pendekatan pembelajaran agar kemampuan akademik berjalan seiring dengan pembentukan karakter dan daya juang.

Bekali Mahasiswa Seluas-luasnya

Mula meminta dosen dan civitas akademika memberikan ilmu pengetahuan serta keterampilan secara maksimal kepada mahasiswa.

“Jangan ada yang terlewat. Pastikan generasi Z ini menerima semua kemampuan Bapak dan Ibu,” tegasnya.

Menurutnya, mahasiswa akan memasuki industri yang terus berubah akibat perkembangan teknologi, pasar dan geopolitik. Pendidikan SDM harus memiliki orientasi jangka panjang agar lulusan mampu beradaptasi dengan perubahan.

Ia juga mendorong proses perkuliahan berlangsung nyaman namun tetap disiplin, sehingga lulusan mampu berdiri sendiri dan berkompetisi di dunia kerja. Kepada perusahaan perkebunan, Mula meminta dibangun sistem meritokrasi dalam perekrutan dan pengembangan karier.

“Bangunlah meritokrasi dalam sistem perekrutan tenaga kerja. Buatlah sumber daya manusia ini melihat adanya peluang dalam pembentukan karakter dan karier,” ujarnya.

Industri juga diminta menghilangkan stigma gender dalam penempatan SDM. Menurut Mula, perubahan komposisi dan pola penggunaan tenaga kerja telah terjadi di berbagai sektor. Industri sawit perlu bersiap menghadapi perubahan serupa.

Ia menyebut, dalam tiga tahun terakhir luas areal perkebunan rakyat meningkat sekitar 1 persen dan kini mencapai kurang lebih 43 persen. Pergeseran kepemilikan tersebut turut mendorong perubahan pola pengelolaan perkebunan.

“Adik-adik ini kita siapkan tidak untuk satu atau dua tahun. Mereka kita siapkan lima sampai 10 tahun untuk bisa berkontribusi besar terhadap industri kelapa sawit,” katanya.

Dari 32 Ribu Pendaftar, 862 Terpilih

Kepada mahasiswa AKPY-STIPER, Mula mengingatkan bahwa kesempatan memperoleh Beasiswa SDM Sawit merupakan sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan.

Ia menyebut sekitar 862 mahasiswa yang diterima merupakan bagian dari proses seleksi sekitar 32.000 pendaftar.

“Kalian terpilih dari 32.000 orang. Itu prestasi atau keberuntungan? Tunjukkan kepada kami bahwa itu bukan keberuntungan,” tegasnya.

Mahasiswa diminta belajar tekun, membangun daya juang, berani menghadapi masalah, dan siap berkompetisi.

“Tidak ada prestasi lahir dari orang yang malas. Belajar dengan tekun, bangun daya juang yang tinggi, dan serius,” katanya.

Mula juga mendorong mahasiswa menjadi pribadi mandiri dan memiliki mental kuat. “Be an independent person. Mandiri, tidak bergantung. Kalian punya kompetensi, kalian punya kemampuan,” ujarnya.

Ia berharap mahasiswa memandang pendidikan di AKPY-STIPER bukan sekadar jenjang pendidikan, melainkan langkah awal membangun karakter dan meraih kesuksesan.

“Ini baru awal dari seluruh rangkaian proses pembelajaran. Kami atas nama Direktorat Jenderal Perkebunan mengucapkan sukses bagi adik-adik semua,” pungkasnya.

Artikel Terkait