Berita Terbaru
IPB University Gelar Diskusi Pencegahan Kebakaran Hutan Lintas Negara
Regional Fire Management Resource Center-Southeast Asia (RFMRC-SEA) IPB University kembali menggelar webinar Manajemen Pencegahan dan Rehabilitasi Kebakaran Hutan, (21/12). Webinar ini menghadirkan tiga pembicara utama dari Indonesia, Singapura dan Philipina yang memaparkan topik dari perspektif tiga negara.
Pembicara pertama merupakan staf dari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan-Philipina Jhun B Barit. Ia menyampaikan bahwa Philipina merupakan negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Namun pada tahun 2015 hanya ada sekitar tujuh juta hektar hutan yang tersisa. Penurunan luas hutan banyak disebabkan oleh penebangan liar, pertanian, perkebunan, tambang, serta bencana alam seperti banjir dan longsor.
“Selain menerbitkan undang-undang yang mengatur aktivitas pemanfaatan hutan, Pemerintah Philipina juga menyusun strategi manajemen dari pencegahan, mitigasi dan respon. Pemerintah Philipina memaksimalkan usahanya dengan melibatkan masyarakat pada keseluruhan tahap,” ujar Jhun Barit.
Sementara itu, Dr Janice Ser Huay Lee selaku perwakilan dari Nanyang Technology University Singapura memaparkan hasil penelitiannya terkait restorasi lahan gambut di wilayah Asia Tenggara. Dr Janice dan tim meneliti terkait pilihan vegetasi yang tepat untuk ditanam di lahan gambut sehingga dapat membantu mengurangi, bahkan menghentikan kebakaran hutan.
“Kami meneliti usia pohon, tingkat kemudahan daun untuk terbakar dan terdekomposisi. Hal tersebut karena kedua proses ini yang menentukan siklus karbon. Dari hasil penelitian maka tanaman sagu, gelam dan jelutong merupakan contoh tanaman yang cocok di lahan gambut,” papar Dr Janice.
Pemaparan berikutnya disampaikan oleh Dr Yenni Vetrita yang mewakili Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia. Dr Yenni memaparkan peluang dan tantangan manajemen sumberdaya hutan menggunakan penginderaan jauh.
“Satelit mengambil gambar permukaan bumi Indonesia dari waktu ke waktu. Dari situ dapat kita lihat tren aktivitas di hutan. Termasuk pergerakan asap saat kebakaran hutan terjadi. Sehingga penginderaan jauh sangat membantu proses manajemen sehingga langkah yang diambil menjadi tepat sasaran,” ujarnya.
Diskusi pada siang hari tersebut semakin kaya dengan hadirnya dua guest speaker yakni Hilario Padilla yang merupakan Project Manager dan Dr Sue Yip selaku Directoe Executive dari BRACE yang merupakan badan penelitian pertanian generatif. Hilario Padilla memaparkan solusi pertanian tanpa proses pembakaran lahan dengan biaya rendah, mudah dan efektif.
Sedangkan Dr Sue Yip memaparkan dari sisi pembuatan kampanye burn free farming. Menurut Hilario, penelitian hingga implementasi dilakukan di berbagai daerah mulai dari Riau, Purwakarta, Aceh, Ciamis, Kalimantan Selatan, serta Jambi. Para petani diajari untuk bercocok tanam tanpa proses pembakaran lahan.
“Sebaliknya, para petani tersebut dilatih untuk melakukan berbagai teknik persiapan lahan yang lebih ramah lingkungan, hemat dana, serta meningkatkan hasil panen. Langkah yang diajarkan di antaranya dengan merendam residu panen sehingga cepat terdekomposisi. Selain itu residu panen juga bisa dikubur di dalam tanah kemudian dibuat guludan. Langkah terakhir ialah dengan memberikan pupuk kendang berupa kotoran ayam sehingga proses dekomposisi semakin cepat,” jelasnya.
Sumber: ipb.ac.id














