• Selasa, 6 Oktober 2026
Berita Terbaru

Investasi Hilirisasi Sawit Capai Rp62,8 Triliun Sepanjang Januari-Desember 2025

Jakarta, SAWIT INDONESIA - Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menjelaskan bahwa investasi nasional melampaui target dengan realisasi mencapai Rp1.931,2 triliun atau 101,3 persen yang menyerap tenaga kerja 2,71 juta orang sepanjang tahun 2025.

"Pada 2025, target realisasi investasi sebesar Rp1905,6 triliun tercapai dan bahkan melebihi sedikit dari target yang dicanangkan," ujar Rosan dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (15 Januari 2026).

Untuk komoditas kelapa sawit, realisasi investasi mencapai Rp62,8 triliun. Dikatakan Rosan bahwa pemerintah akan mendorong hilirisasi kelapa sawit sebab akan memberikan dampak ekonomi yang tinggi, menciptakan lapangan pekerjaan, hingga mendorong perekonomian.

“Hilirisasi kelapa sawit juga kita akan dorong terus, dan di bauksit juga akan meningkat saya yakin, tahun ini di bauksit kemudian jadi alumunium, alumunium investasinya juga cukup besar di tahun ini,” ungkapnya.

Dalam presentasinya, Rosan menjelaskan bahwa realisasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) sepanjang Januari-Desember 2025 tercatat sebesar Rp1.030,3 triliun. Sedangkan, realisasi penanaman modal asing (PMA) mencapai Rp900,9 triliun.

Dari sisi wilayah, kontribusi investasi di luar Jawa mencapai 51,3 persen, lebih tinggi dibandingkan Jawa sebesar 48,7 persen, sejalan dengan upaya pemerintah mendorong pemerataan ekonomi. Sepanjang Januari hingga Desember 2025, realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp584,1 triliun atau sekitar 30,2 persen dari total investasi nasional, dengan pertumbuhan signifikan sebesar 43,3 persen (YoY).

Pada periode Oktober-Desember 2025, realisasi investasi tercatat sebesar Rp496,9 triliun atau tumbuh 9,7 persen secara tahunan (YoY). Capaian triwulan IV tersebut setara dengan 26,1 persen dari target investasi tahun 2025.

Realisasi investasi triwulan IV 2025 juga berdampak pada penyerapan tenaga kerja yang mencapai 754.186 orang. Dari sisi wilayah, investasi di luar Jawa masih mendominasi dengan kontribusi 50,2 persen, sementara Jawa menyumbang 49,8 persen.

Artikel Terkait