Jakarta, SAWIT INDONESIA - Langkah pemerintah Indonesia melakukan penertiban lahan perkebunan sawit diproyeksi menekan investasi dan produksi sawit.
Pengusaha sekaligus Direktur Godrej International Ltd Dorab Mistry memperkirakan produksi minyak sawit Indonesia sebagai produsen terbesar dunia pun diperkirakan relatif stagnan pada 2026, dengan kisaran 50 juta ton.
Menurutnya, pengetatan pengawasan pemerintah terhadap lahan sawit telah memicu kekhawatiran investor, menahan aliran investasi ke lahan dan penggunaan pupuk, serta mendorong sebagian petani menghentikan aktivitas produksi.
“Rencana penyitaan tambahan 5 juta hektare pada 2026 membuat banyak orang ketakutan. Tidak akan ada investasi baru. Tidak ada ekspansi. Pertumbuhan sudah berhenti,” ujar Mistry dikutip dari Bloomberg pada Selasa (10/2/2026).
Sementara itu, dia memproyeksikan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) berpotensi turun hingga di bawah 4.000 ringgit per ton atau sekitar Rp17.173 per ton (asumsi kurs Rp4.293 per ringgit) pada April 2026.
Tekanan harga tersebut muncul seiring meningkatnya pasokan minyak kedelai asal Amerika Selatan yang membanjiri pasar global, terutama di negara-negara sensitif harga seperti India.
“Minyak sawit harus menjadi lebih murah untuk menarik permintaan, terutama dari India,” kata Mistry.
Dia mencermati bahwa dalam beberapa bulan terakhir, minyak sawit dan minyak kedelai terlibat dalam persaingan harga yang ketat. Kondisi tersebut mendorong pembeli mengalihkan pengiriman seiring perubahan selisih harga dan ketersediaan pasokan.
Selama ini, dia menyebut, minyak sawit menjadi pilihan utama kilang dan produsen makanan di India karena harga yang terjangkau, tetapi banyak yang kemudian beralih ke minyak kedelai saat harganya tak berbanding jauh.
“Sejak tahun lalu, semuanya berubah total,” ujar Mistry, merujuk pada perubahan pola pembelian serta arus perdagangan minyak nabati global.
Dia menambahkan, persaingan antara minyak sawit dan minyak kedelai akan semakin intensif dalam beberapa bulan mendatang. Pasalnya, India saat ini memperoleh pasokan minyak kedelai dari 10 negara, meningkat tajam dibandingkan sebelumnya yang hanya berasal dari tiga negara.
India merupakan importir terbesar minyak sawit, minyak kedelai, dan minyak bunga matahari di dunia, dengan total impor mencapai sekitar 16 juta ton per tahun. Pasokan tersebut sebagian besar berasal dari kawasan Asia Tenggara dan Amerika Selatan.
Mistry memperkirakan India akan meningkatkan impor minyak sawit dan minyak kedelai untuk menggantikan minyak bunga matahari yang harganya melonjak. Impor minyak sawit India diperkirakan mencapai sekitar 9 juta ton, sedangkan impor minyak kedelai diproyeksikan sebesar 5,5 juta ton.
Sumber: ekonomi.bisnis.com














