Seruyan-Kalteng, SAWIT INDONESIA - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menegaskan pentingnya percepatan mekanisasi, digitalisasi, dan otomatisasi untuk meningkatkan produktivitas industri kelapa sawit nasional di tengah ketatnya persaingan minyak nabati global.
Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan peningkatan produktivitas melalui mekanisasi, digitalisasi, otomatisasi, dan intensifikasi yang digelar di perkebunan PT Binasawit Abadipratama, Desa Rungau Raya, Kecamatan Danau Seluluk, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Senin (25 Mei 2026).
Ketua Bidang Riset & Pengembangan (Head of Research & Development Division) GAPKI, Dwi Asmono, mengatakan inovasi menjadi kunci utama transformasi industri sawit nasional agar tetap kompetitif di pasar global.
“Kalau kita bicara teknologi dan research innovation, ada adagium yang mengatakan innovate or die, inovasi atau mati. Persaingan di industri minyak nabati ini luar biasa, ada soybean, rapeseed, hingga biji bunga matahari,” ujarnya.
Menurut dia, negara-negara pesaing terus melakukan investasi besar untuk meningkatkan produktivitas. Uni Eropa bahkan disebut mengalokasikan hampir Rp250 triliun guna mendongkrak produktivitas minyak nabati mereka.
Untuk mengimbangi hal tersebut, GAPKI membentuk sejumlah konsorsium riset dan pengembangan. Salah satunya adalah konsorsium sumber daya genetik yang telah melakukan eksplorasi ke berbagai negara, mulai dari Angola pada 2010, Ekuador pada 2016, hingga Tanzania pada 2025.
“Kita mengejar ketertinggalan produktivitas dari Malaysia. Rasio mereka sudah 18 ton, sementara kita masih sekitar 4 ton. Karena itu mau tidak mau harus kolaborasi untuk mendongkrak produktivitas,” katanya.
Selain konsorsium sumber daya genetik, GAPKI juga membentuk konsorsium Ganoderma untuk mengatasi ancaman penyakit batang sawit yang dinilai semakin serius. Dwi menyebut sekitar 52 persen lahan sawit nasional rentan terhadap Ganoderma.
Di sisi lain, GAPKI turut membangun konsorsium pupuk hayati sebagai solusi atas persoalan pupuk internasional yang kerap mengalami gangguan pasokan dan harga.
Adapun fokus terbaru GAPKI adalah pembentukan konsorsium mekanisasi, digitalisasi, dan otomatisasi. Konsorsium tersebut telah melibatkan sejumlah perusahaan besar, seperti Astra dan Wilmar, dan kini mulai diterapkan di Kalimantan Tengah.
“Tahun lalu ada di Sumatera Barat, sekarang di Kalimantan Tengah. Member konsorsium saat ini ada 11 perusahaan, tetapi terbuka untuk semua anggota GAPKI, bahkan smallholder,” ujar Dwi.
Dia menilai percepatan mekanisasi menjadi kebutuhan mendesak, terutama di daerah yang menghadapi keterbatasan tenaga kerja seperti Kalimantan. Meski demikian, mekanisasi disebut bukan untuk menggantikan tenaga kerja manusia.
“Bukan berarti menggantikan pekerja. Tetap butuh SDM, tetapi SDM yang memahami teknis dan teknologi. Kunci transformasi fundamental industri ini ada di inovasi,” katanya.
Menurut Dwi, tantangan terbesar dalam pengembangan konsorsium adalah membangun kolaborasi antarpelaku industri. Sebab, sejumlah aspek riset membutuhkan sinergi lintas lembaga, termasuk dengan lembaga penelitian seperti BRIN.
“Yang paling sering disuarakan tetapi paling sulit direalisasikan adalah kolaborasi. Ada yang dikompetisikan, tetapi ada juga yang harus dikolaborasikan,” ujarnya.
Dia mengatakan target utama dalam tiga tahun ke depan adalah membangun kesepahaman seluruh pelaku industri bahwa mekanisasi, digitalisasi, dan otomatisasi merupakan kebutuhan strategis industri sawit nasional.
Sementara itu, CEO PT Binasawit Abadipratama, Benny Yusuf Setiawan, mengatakan penerapan mekanisasi dan digitalisasi membantu mempermudah pekerjaan lapangan yang sebelumnya masih dilakukan secara manual.
Menurut Benny, perusahaan juga menerapkan strategi replanting rorak guna meningkatkan produktivitas panen perdana.
“Jika sebelumnya target pada usia 31 sampai 42 bulan setelah tanam hanya sekitar 10 ton, sekarang bisa meningkat menjadi 15 bahkan hingga 20 ton per hektare untuk yield panen perdana,” ujarnya.
Di kesempatan yang sama, Ketua GAPKI Cabang Kalimantan Tengah, Rizki Djaya, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan memperkuat keberlanjutan industri sawit nasional melalui peningkatan produktivitas.
“Tujuan hari ini adalah meningkatkan produktivitas kelapa sawit dengan berbagai strategi, mulai dari mekanisasi hingga percepatan produksi agar sawit berkelanjutan bisa kita pertahankan di republik tercinta ini,” katanya.
Dia menambahkan, industri sawit Indonesia memiliki peran strategis di tingkat global karena berkontribusi sekitar 40 persen terhadap pemenuhan kebutuhan sawit dunia.
“Perkebunan sawit di Indonesia adalah nomor satu di dunia, sehingga patut mendapat perhatian serius,” ujarnya.














