• Kamis, 8 Oktober 2026
Berita Terbaru

Ini Pesan Deputi UMKM dan Sekjen APKASINDO dalam Jogja Palm Connect

Yogyakarta, SAWIT INDONESIA – Jogja Palm Connect 2025 menarik ratusan pelaku UMKM untuk hadir dan memeriahkan kegiatan yang menampilkan produk UKM berbasis sawit ini. Kegiatan yang dibuka oleh Sekretaris Jenderal DPP APKASINDO, Rino Afrino, dan Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian Koperasi dan UKM, Bagus Rachman, di Grha Instiper Yogyakarta pada 21 Agustus 2025.

Ratusan peserta, mulai dari pelaku UMKM, mahasiswa, peneliti, hingga masyarakat umum, memadati ruang pameran. Aroma kopi sawit dan jajanan olahan berbahan minyak sawit tercium sejak pintu masuk. Di beberapa sudut, stan produk kosmetik dan bioenergi menarik perhatian pengunjung. Tak hanya memamerkan produk, sebagian pelaku UMKM juga membuka sesi interaktif—membagikan resep, tips pengolahan, hingga peluang bisnis berbasis sawit. Event ini terlaksana dengan baik berkat dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan.

“Jogja Palm Connect bukan sekadar pameran, tapi forum penguatan UMKM sawit dari hulu hingga hilir,” kata Rino Afrino dalam sambutannya. Ia menegaskan bahwa acara ini diharapkan menjadi ruang belajar sekaligus laboratorium gagasan untuk memajukan UMKM sawit di tengah persaingan global.

Acara pembukaan turut dihadiri Kepala Dinas Koperasi dan UKM DIY, Srie Nurkyatsiwi, dan Rektor Instiper, Harsawardana, yang menyambut tamu dengan penuh keramahan. Dari Kementerian Koperasi dan UKM, Bagus Rachman menegaskan kembali peran UMKM sebagai tulang punggung ekonomi nasional.

“UMKM adalah garda terdepan perekonomian Indonesia. Kontribusinya pada penyerapan tenaga kerja mencapai 97 persen. Karena itu, forum seperti Jogja Palm Connect sangat penting sebagai sarana edukasi, inovasi, dan kolaborasi,” ujar Bagus.

Di area expo, kreativitas UMKM terlihat nyata. Produk makanan ringan berbahan turunan sawit dikemas modern dan ramah lingkungan. Kosmetik berbasis minyak sawit tampil dengan sentuhan lokal, sementara stan bioenergi menampilkan prototipe sederhana yang menunjukkan potensi sawit sebagai energi terbarukan. Mahasiswa dari berbagai kampus juga ikut memamerkan riset inovatif, mulai dari pupuk organik hingga kerajinan tangan berbahan limbah sawit.

Selain pameran, kompetisi inovasi produk turut memeriahkan acara. Peserta dari kalangan UMKM dan mahasiswa beradu kreativitas menghadirkan produk turunan sawit dengan nilai tambah tinggi. Kompetisi ini bukan hanya soal memenangkan hadiah, tetapi juga wadah untuk mempertemukan ide segar dengan kebutuhan pasar.

“Jogja Palm Connect kami rancang sebagai platform berkelanjutan untuk memperkuat ekosistem sawit rakyat yang inklusif dan modern,” kata Rino. Ia berharap acara ini tidak berhenti pada seremoni, melainkan menjadi pemicu lahirnya kolaborasi jangka panjang.

Sementara itu, Bagus Rachman menjelaskan bahwa Indonesia selama ini masih terlalu bergantung pada ekspor bahan mentah. Padahal, dengan teknologi dan penguatan rantai pasok, kelapa sawit bisa diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah tinggi. Produk turunan itu mencakup minyak goreng kemasan, margarin, gliserol, kosmetik, sabun, hingga bioenergi seperti biodiesel.

“Hilirisasi tidak hanya meningkatkan nilai tambah dan keberlanjutan, tetapi juga membuka peluang pengembangan produk turunan. UMKM harus menjadi aktor utama dalam proses ini,” ujarnya.

Menurut data yang dipaparkan, produksi kelapa sawit Indonesia mencapai 46,82 juta ton pada 2022 dan diproyeksikan naik menjadi 51,45 juta ton pada 2027. Nilai pasar global sawit pun diperkirakan melonjak dari USD 72,8 miliar pada 2024 menjadi USD 98,9 miliar pada 2030. Angka tersebut, kata Bagus, menunjukkan betapa besar potensi yang bisa digarap UMKM jika terlibat dalam rantai hilirisasi.

Meski memiliki peluang besar, UMKM masih menghadapi berbagai tantangan. Mayoritas pelaku masih berada pada skala usaha mikro, sehingga sulit mencapai skala ekonomi. Selain itu, rendahnya akses pembiayaan, minimnya sertifikasi produk, hingga keterbatasan teknologi menjadi hambatan utama.

“Banyak UMKM kita belum bankable, bahkan 69 persen belum pernah mengakses kredit. Hanya sekitar 7 persen yang memiliki laporan keuangan rapi. Padahal ini syarat penting untuk masuk rantai pasok industri besar,” ungkap Bagus.

Acara ini terbuka untuk umum. Panitia berharap gelaran tahunan ini menjadi ruang belajar, inspirasi, sekaligus jembatan kolaborasi bagi generasi muda, pelaku usaha, hingga masyarakat luas yang ingin melihat potensi besar industri sawit Indonesia dari dekat. Di tengah hangatnya suasana Yogyakarta, Jogja Palm Connect 2025 bukan hanya expo, melainkan sebuah perayaan inovasi dan keberlanjutan sawit rakyat.

Artikel Terkait